
Olivia menggeliatkan tubuhnya sambil membuka matanya perlahan. Setelah matanya terbuka sempurna, dia menelusuri seluruh kamar dengan matanya karena tidak mendapati suaminya ketika dia baru bangun tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan Olivia baru terbangun akibat aktifitas semalam yang mereka lakukan.
Karena merasa tubuhnya sangat lelah, Olivia belum mau beranjak dari tempat tidur. Dia memutuskan untuk berbaring sebentar lagi di ranjang empuknya. Baru saja Olivia ingin meraih telpon genggamnya yang berada di atas nakas, pintu kamar terbuka dan menampilakn sosok Vincent yang sudah rapi dengan pakaian kantornya.
“Kau sudah bangun?” Vincent mendekati istrinya lalu duduk di tepi tempat tidur.
“Kau dari mana? Kenapa tidak ada saat aku bangun?” Olivia mengabaikan pertanyaan suaminya dan justru melontarkan pertanyaan lain dengan nada manja.
“Aku baru selesai sarapan di bawah.”
Tiba-tiba saja Olivia langsung bangun dari tidurnya dan duduk dengan tegak. Dia baru ingat kalau dirinya saat ini berada di rumah mertuanya. Dia pikir mereka masih berbulan madu sehingga dia dengan santainya masih berbaring di tempat tidur.
“Kenapa tidak membangunkan aku? Apa mama dan papa mencariku?”
Dia merasa tidak enak hati dengan mertuanya. Bagaimana pun ini adalah kediaman mereka. Bagaimana bisa di bangun siang dan tidak ikut sarapan bersama dengan mereka di bawah. Dia juga tidak menyiapkan kebutuhan suaminya yang akan berangkat ke kantor.
Saat melihat kepanikan istrinya, Vincent dengan lembut berkata, “Aku sudah mengatakan pada mereka kalau kau masih tidur. Jika kau masih lelah, istrirahat saja di kamar. Aku sudah meminta bibi Nani untuk membawakan sarapan ke kamar.”
Olivia langsung menggeleng. “Tidak. Aku akan makan di bawah.” Bagaimana mungkin dia bersikap seperti ratu di rumah mertuanya. Mereka akan menilai dirinya wanita pemalas jika sarapan diantar ke kamarnya.
“Sayang, kau adalah istriku, anggap ini sebagai rumahmu sendiri. Jangan merasa canggung atau tidak enak hati di sini,” ucap Vincent dengan lembut, seolah dia tahu apa yang ada di pikiran istrinya, “mama sendiri yang bilang padaku, kau tidak perlu turun jika masih lelah.”
Wajah Olivia seketika memerah. Jika ibu mertuanya sudah berkata seperti itu, mungkin saja dia sudah tahu apa yang mereka lakukan hingga membuatnya kelelahan bahkan sampai bangun siang. “Apa mama bertanya padamu kenapa aku bisa bangun siang?”
Melihat wajah polos istrinya, Vincent tersenyum lalu mencubit pipinya dengan gemas. “Iyaa. Aku bilang kau kelelahan karena baru tidur pukul 3 pagi.”
Setelah mendengar itu, Olivia langsung memukul pelan paha suaminya. “Kenapa kau bilang seperti itu? Aku akan jadi malu.”
Mau ditaruh di mana wajahnya jika nanti bertemu dengan kedua mertuanya. Olivia menampilkan wajah frustasinya. Setelah dipikir-pikir lagi, ini adalah salahnya sendiri, jika dia tidak menggoda suaminya semalam, kejadian ini tidak akan terjadi. Vincent tidak mungkin melakukannya dalam waktu lama hingga membuatnya kelelahan.
“Tanpa aku beritahu pun, mereka juga pasti tahu alasan kenapa kau bangun siang, Sayang. Mereka pernah muda, apalagi kita ini pengantin baru jadi mereka pasti sudah bisa menebaknya sendiri.”
Olivia menjatuh diri ke ranjang lalu menutupi hampir seluruh wajahnya dengan selimut. “Aku tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan mama dan papa.”
__ADS_1
Vincent terkekeh pelan melihat tingkah lucu istrinya. “Kita sudah menikah. Itu bukanlah sesuatu hal yang memalukan, Sayang.” Vincent menatap arloji di tangan kirinya lalu berkata, “aku harus berangkat ke kantor sekarang.”
Olivia segera menyingkirkan selimut dari wajahnya lalu bangkit dari tempat tidur saat melihat suaminya sudah berdiri. “Aku akan mengantarmu ke bawah, tapi aku cuci muka dulu.”
Olivia bergegas menuju kamar mandi dan keluar lima menit kemudian. Dia mengganti pakaian tidurnya terlebih dahulu lalu mengantar suaminya ke bawah. Saat melewati ruangan keluarga hingga ruang tamu, Olivia tidak mendapati kedua mertuanya, hanya ada beberapa pelayan yang terlihat sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing.
“Aku berangkat dulu. Hari ini kau di kamar saja, jangan ke mana-mana.” Vincent maju selangkah lalu mendaratkan kecupan singkat di dahi istrinya.
“Maafkan aku karena bangun kesiangan. Seharusnya aku mempersiapkan segalanya untukmu sebelum kau ke kantor.”
Vincent tersenyum saat melihat wajah bersalah istrinya. “Aku bisa mengurus diriku sendiri, Sayang. Lagi pula, aku yang sudah membuatmu kelelahan. Maafkan aku.” Vincent kembali mendaratkan kecupan di dahi istrinya seraya mengalungkan tangannya di pinggang istrinya, “aku harus berangkat sekarang, ini sudah siang.” Vincent melepaskan tangan dari pinggang Olivia lalu berjalan menuju mobilnya.
Saat melihat suaminya akan memasuki mobil, Olivia segera menghentikannya. “Cent, bolehkah hari ini aku ke kantorku? Aku ingin menyerahkan surat pengunduran diriku.”
Saat akan berbulan madu ke Bali, Vincent sudah menghubungi Direktur Jerome kalau istrinya tidak akan bekerja lagi di perusahaannya. Direktur Jerome yang saat itu juga hadir dalam pernikahan Olivia dan Vincent, sangat terkejut saat melihat kalau pegawainya itulah yang akan menikah dengan penerus Wijaya Group.
Dia baru menyadari satu hal, kalau kerja sama dengan Wijaya Group bisa terjalin itu berkat Olivia, tapi masih ada satu hal yang tidak dia mengerti, kenapa waktu itu Vincent sempat menolak kerja sama saat Olivia yang menjadi penanggung jawabnya. Meskipun dia penasaran dengan hal itu, tapi dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya pada Vincent.
Olivia nampak terkejut setelah mendengar penuturan suaminya. Pasalnya, waktu itu Vincent hanya mengatakan kalau dia sudah mengatakan pada Direktur Jerome kalau dirinya akan berhenti dari perusahaannya dan surat resignnya akan diserahkan nanti setelah mereka selesai berbulan madu.
“Tapi aku tetap harus datang ke sana untuk berpamitan secara langsung. Aku tidak mungkin berhenti begitu saja tanpa bertemu dengan atasanku dan juga Direktur Jerome.”
“Baiklah. Aku akan menemanimu ke sana nanti siang.” Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Vincent memberikan kecupan singkat di pipi istrinya. “Aku berangkat dulu.”
Olivia mengangguk dan melambaikan tangan setelah mobil yang dikendarai suaminya mulai melaju meninggalkan kediaman Wijaya. Begitu memasuki ruangan makan, dia tidak sengaja bertemu dengan ibu mertuanya yang baru saja berbicara dengan seorang pelayan di ruangan keluarga. Olivia segera menyapa ibu mertuanya itu dengan sopan.
“Kita bicara di meja makan, kau belum sarapan, bukan?”
Olivia menjawab dengan sopan lalu mengikuti langkah ibu mertuanya menuju meja makan. Begitu keduanya duduk di meja makan, 4 orang pelayan langsung menyajikan berbagai menu di atas meja.
“Mama sengaja meminta koki buatkan semua ini untukmu. Mulai sekarang koki kita akan menyiapkan makanan khusus untukmu. Kau harus makan makanan yang sehat agar kondisi tubuh sehat.”
Makanan yang dihidangkan di atas meja adalah makan yang bisa menambah kesuburan wanita. Lucy Lu sengaja meminta koki di rumahnya untuk menyiapkan makanan penambah kesuburan agar menantunya itu bisa segera hamil.
__ADS_1
“Terima kasih, Ma.”
Itu demi kebaikannya jadi Olivia tidak akan memprotes apa yang sudah ditetapkan oleh ibu mertuanya. Beruntung dia bukan wanita yang memilih makanan, semua makanan bisa dia makan dan dia pun tidak memiliki alergi apapun pada makanan.
“Aku dengar dari Vincent kau sudah berhenti bekerja?” Lucy Lu mengawali pembicaraan sebelum Olivia memulai sarapannya.
“Iyaa, Ma,” jawab Olivia lembut.
Sebenarnya Olivia ingin kembali bekerja, namun dilarang oleh Vincent. Bukan tanpa alasan pria itu melarang istrinya untuk bekerja, selama ini istrinya sudah bekerja dengan sangat keras jadi dia tidak mau istrinya bekerja lagi setelah menikah. Dia hanya ingin istrinya mengurusnya saja dan juga anak-anaknnya kelak.
“Bagus. Untuk sementara kau tidak perlu bekerja lagi. Kau hanya perlu fokus pada rencana kehamilanmu. Jika sudah memiliki anak, kau baru boleh bekeja, itu pun hanya boleh bekerja di perusahaan keluarga kita.”
Lucy Lu juga sempat mendengar dari anaknya kalau sebenarnya Olivia ingin bekerja lagi jika Vincent menginjinkan.
“Jika kau merasa bosan, kau bisa membantu mengelola yayasan amal milik keluarga kita.”
Meskipun Olivia tidak memprotes keputusan suaminya untuk tidak bekerja lagi, tapi Lucy Lu seolah tahu apa yang ada di pikiran menantunya itu.
“Aku akan berbicara dengan Vincent dulu, Ma. Jika dia menginjinkan aku, maka aku dengan senang hati akan membantu mengelola yayasan keluarga kita.”
Yayasan itu adalah yayasan yang didiran suaminya ketika dia masih muda. Selama ini dikelola oleh orang kepercayaan suaminya.
“Yaa. Bicarakan dengan suamimu dulu. Selama di rumah ini kau tidak perlu melakukan apapun. Kau tidak boleh lelah sama sekali. Jika memerlukan sesuatu minta saja pada bibi Nani atau yang lain. Mulai sekarang tugasmu hanya mengurus putraku saja.”
“Iyaa, Ma.”
Lucy Lu berdiri lalu berkata, “Mama masih ada urusan, mama pergi dulu.”
Olivia mengangguk sambil menjawab dengan sopan. "Iyaaa, Ma. Hati-hati."
Olivia melihat kepergian ibu mertuanya itu sebelum mulai menyantap sarapannya. Setelah ibu mertuanya tidak terlihat lagi, Olivia kembali duduk lalu menghela napas lega. Ternyata Lucy Lu menepati janjinya untuk memperlakukannnya dengan baik, jadi sekarang tinggal dia yang harus segera mewujudkan keinginan Lucy Lu memiliki seorang cucu.
Bersambung…
__ADS_1