
Semenjak kepulangannya dari pesta pernikahan sepupu Frans, Olivia terlihat lebih banyak melamun. Nesya tidak bisa berbuat banyak setelah mengetahui penyebab berubahnya sikap Olivia belakangan ini. Bahkan saat bekerja pun Olivia beberapa kali dia melakukan kesalahan karena tidak fokus dalam bekerja.
"Liv, bagaimana kalau kita pindah keluar kota saja?" tawar Nesya pada hari kedua setelah Olivia mendatangi pesta pernikahan sepupu Frans.
Bukan tanpa alasan Nesya mengajak Olivia untuk pindah. Mungkin saja kalau mereka sudah pindah ke tempat yang jauh, Olivia bisa kembali hidup seperti dulu dan tidak terpengaruh lagi dengan apapun yang berhubungan dengan Vincent.
"Tidak. Aku akan tetap di sini. Masalah tidak akan selesai jika aku terus menghindarinya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau setuju dengan syarat dari Vincent?"
Olivia merenung selama beberapa detik lalu berkata, "Aku belum memutuskan."
Malam itu, Olivia meminta waktu selama 5 hari pada Vincent untuk memikirkannya, tapi ditolak oleh Vincent dan hanya diberikan waktu 3 hari untuk berpikir dan besok adalah batas terakhirnya.
"Ikuti kata hatimu, jangan memaksakan sesuatu jika hanya melukaimu saja. Sudah cukup selama ini kau menerima kebencian Vincent. Mulai sekarang pikirkan dulu kebahagianmu baru kemudian memikirkan orang lain."
Nasehat Nesya membuat Olivia semakin bimbang. Kalau dia mau egois, dia pasti akan memilih untuk membatalkan pernikahan Vincent dan kembali lagi padanya, dari pada harus melihatnya bahagia dengan orang lain.
********
Alvin datang dengan wajah penuh amarah ke ruangan VVIP yang berada di lantai 3 tempat di mana Vincent berada. Dia langsung menendang pintunya hingga terbuka dan mengagetkan semua orang yang berada di dalamnya.
"Alvin, apa yang kau lakukan?" tanya Axel dengan wajah heran.
Alvin tidak menjawab dan langsung melangkah dengan cepat ke arah Vincent, menariknya lalu memberikan tinju pada wajahnya hingga dia terjatuh ke belakang. Tidak hanya satu pukulan, tapi Alvin melayangkan 3 kali pukulan ke wajahnya setelah dia terjatuh. Dari arah belakang Edric dengan sikap menahan tubuh Alvin saat dia akan kembali memukul Vincent.
"Alvin, apa kau sudah gila? Kau memukul Vincent dengan membabi buta, apa kau ingin cari mati?" Axel nampak geram melihat Alvin yang nampak sudah hilang kendali, berbeda dengan Vincent yang hanya diam.
"Tanyakan saja pada teman breng-sekmu itu. Apa yang sudah dia lakukan pada Olivia?"
Vincent tersenyum miring lalu mencoba untuk berdiri. "Apa maksudmu?"
"Jangan berlagak bodoh. Kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau minta pada Olivia??"
Mata Alvin terlihat memerah seperti darah, dia berusaha melepaskan diri dari Edric, tapi tidak bisa. Kekuatan Edric lebih besar darinya, apalagi postur tubuh Edric lebih tinggi darinya.
"Vin, sebenarnya apa yang terjadi? Beritahu pada kami dengan jelas agar kami mengerti."
Kali ini Frans yang berbicara. Biasanya, Alvin akan lebih mendengarkan perkataan Frans dari pada yang lainnya.
"Frans, apa kau tahu? Vincent meminta Olivia untuk membantu mempersiapkan pernikahannya dengan Jesica. Dia mengancam tidak akan menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan di mana Olivia bekerja jika Olivia tidak mau membantunya."
__ADS_1
Semua yang ada di ruangan itu nampak terkejut setelah mendengar itu. Mereka semua memang tidak tahu akan hal itu.
"Cent, apa kau masih layak disebut sebagai manusia setelah apa yang Olivia lakukan untukmu?" tanya Alvin sambil menatapnya dengan wajah geram.
Semuanya tidak ada lagi yang berani berkomentar dan hanya menjadi penonton saja.
"Alvin, kenapa kau begitu marah? Untuk siapa kemarahan yang kau luapkan ini?" Vincent berjalan mendekati Alvin dengan tatapan dingin lalu berkata dengan senyuman mengejek, "untuk Jesica atau Olivia?"
"Dasar baji-ngan! Kau masih bertanya?" Alvin mencoba memberontak, tapi sia-sia saja. Dia tidak bisa lepas dari Edric.
"Tentu saja aku harus bertanya. Aku harus tahu, kau marah karena aku akan menikahi Jesica atau kau marah karena tidak bisa mendapatkan hati Olivia setelah putus dariku?"
"Kau memang baji-ngan, Cent!" Alvin menoleh pada Edric lalu berkata, "Edric, lepaskan aku. Aku harus menghajar bosmu agar otaknya bisa dipakai untuk berpikir. Apa dia tidak tahu seberapa besar pengorbanan Olivia selama ini untuknya?"
Vincent menarik senyuman sinis, menatap Alvin sejenak kemudian menatap satu persatu temannya. "Kalian keluar dulu. Aku harus menyelesaikan urusanku dengannya."
Frans dan Axel langsung keluar dari ruangan itu tanpa berkata apapun.
"Edric, lepaskan dia," perintah Vincent.
"Tapi, Tuan Muda...."
"Lepaskan dia dan keluarlah. Jangan ikut campur urusan kami."
"Apapapun yang terjadi nanti, jangan ada yng berani masuk sebelum ada perintah dariku."
"Tapi, Tuan Muda...."
Edric masih enggan untuk meninggalkan tuan mudanya karena dia takut terjadi apa-apa dengan Vincent. Bagaimana pun tugas utamanya adalah melindunginya. Meskipun ilmu bela diri Vincent jauh di atas Alvin, tapi tetap saja dia masih merasa khawatir.
"Jangan sampai aku mengulang perkataanku lagi."
Ketika melihat tatapan tajam dari bosnya, mau tidak mau Edric keluar dari sana. Sebelum dia menutup pintu, Alvin terlihat mendekati Vincent seraya menarik kerah bajunya dan Vincent terlihat diam saja.
********
Olivia menarik napas panjang setelah memencet bel pintu apartemen Vincent. Olivia diantar oleh Edric sampai ke depan pintu apartemen Vincent, setelah itu dia pergi ke lantai bawah. Malam ini Olivia sengaja datang ke apartemen Vincent untuk memberitahukan pada Vincent secara langsung mengenai keputusannya. Ketika pintu terbuka, Olivia sangat terkejut saat melihat ada banyak memar di wajah Vincent.
"Masuklah."
Olivia mengabaikan ucapan Vincent dan justru mengulurkan tangannya tanpa sadar ke wajah Vincent yang memar. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa wajahmu seperti ini. Katakan padaku siapa yang sudah melukaimu?"
__ADS_1
Vincent tidak menjawab, melainkan menarik Olivia ke dalam, menyudutkannya ke tembok lalu menyatukan bibir mereka berdua dengan cepat hingga membuat Olivia terkejut. Olivia berusaha mendorong tubuh Vincent agar menghentikan ciumannya, tapi tidak bisa.
Olivia akhirnya hanya bisa diam dan membiarkan Vincent menciumnya. Sebenarnya itu lebih tepat disebut dengan gigitan kecil karena Vincent melakukannya dengan kasar hingga membuat bibir Olivia terasa sakit. Ciuman itu tidak berlangsung lama karena Vincent segera menyudahinya saat Olivia menggigit bibir bawah Vincent dengan kuat hingga berdarah.
"Maaf, Cent. Aku tidak bermaksud...."
"Apa kau sudah membuat keputusan?" tanya Vincent dengan wajah datar tanpa memperdulikan permintaan maaf Olivia sebelumnya.
"Sudah," jawab Olivia, "aku setuju dengan persyaratanmu, tapi aku juga memiliki syarat."
Ada kerutan halus di dahi Vincent setelah mendengar perkataan Olivia. "Apa?"
"Setelah ini, aku harap jangan saling mengganggu urusan pribadi masing-masing lagi. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, kalau pun tidak sengaja bertemu, aku harap kita tidak saling menegur, lebih baik berpura-pura tidak saling mengenal."
Vincent tersenyum sinis lalu berkata, "Olivia, kau pikir aku masih menyukaimu hanya karena aku menciummu tadi?"
Olivia tidak menampik hal itu, dia memang sempat berpikir kalau Vincent mungkin masih memiliki sedikit rasa padanya, maka dari itu, Vincent tiba-tiba menciumnya.
"Dengar Olivia, aku menciummu tadi hanya untuk merasakan bagaimana rasanya bibir wanita yang sudah pernah disentuh oleh pria lain," ucap Vincent dengan kejam, "dan aku baru tahu rasanya sangat menjijikkan."
Kata-kata Vincent langsung menghancurkan hati Olivia hingga berkeping-keping.
"Kau tenang saja, aku akan memberikan kompensasi padamu. Karena kau begitu suka uang, aku akan memberikan uang yang banyak untukmu."
Olivia menatap Vincent dengan tatapan terluka. Bagaimana bisa Vincent berkata sekejam itu sekarang padanya.
"Aku tidak butuh uangmu."
Vincent mengabaikan Olivia dan berjalan masuk ke dalam dan kembali setelah beberapa menit dengan membawa satu lembar cek yang sudah ditulis dengan nominal uang 100 juta.
"Aku tahu kau tak butuh karena kau memiliki kekasih yang kaya, tapi aku bukanlah pria yang suka mengambil keuntungan dari seseorang tanpa memberikannya kompensasi, apalagi setelah menikmati bibirnya."
Belum sempat Vincent memberikan cek itu pada Olivia, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Vincent.
"Plaaaaak."
"Simpan uangmu karena aku bukanlah wanita murahan seperti yang kau pikirkan."
Setelah mengatakan itu, Olivia membuka pintu lalu keluar dari apartemen Vincent dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Kenapa kau jadi seperti ini Cent? Kenapa kau berubah? Apa menjadi seperti ini karena aku?
__ADS_1
Bersambung....