
“Oooeeeekk… oooeeeekk.”
Juan Wijaya, Lucy Lu dan Nyonya Gracia langsung mengucap syukur setelah mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan operasi. Wajah penuh ketegang yang semula terlihat jelas saat menunggu detik-detik kelahiran anak Vincent dan Olivia perlahan menghilang. Kini mereka sudah bisa bernapas lega setelah mendengar tagisan bayi pertama.
Selang beberapa menit kemudian terdengar lagi suara tangisan bayi yang lebih dari nyaring dari bayi sebelumnya. Semua yang berada di luar operasi semakin bergembira setelah mendengar tagisan bayi kedua. Pukul 1 pagi Olivia terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah dia mengeluh sakit di perutnya. Bahkan air ketubannya sudah merembes keluar saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Vincent terlihat sangat panik saat melihat istrinya kesakitan.
Olivia terpaksa harus melakukan operasi caesar dikarenan kondisi tubuhnya semakin lemah setelah mencoba melahirkan normal terlebih dahulu. Vincent langsung meminta Dokter untuk melakukan operasi caesar saat melihat istrinya sudah kehabisan tenaga dan hampir saja menutup matanya saat proses persalinan berlangsung. Pukul 6 pagi, kedua bayi kembar Vincent dan Olivia akhirnya lahir melalui SC.
Setelah Olivia di pindahkan ke ruangan perawatan, Juan Wijaya, Lucy Lu dan juga Nyonya Gracia berkumpul semua di dalam ruangan junior suite room di mana Olivia berada. Mereka sedang menunggu bayi kembar Vincent dan Olivia diantarkan ke ruangan tersebut. Lucy Lu dan Nyonya Gracialah yang terlihat sangat tidak sabar menanti kedatangan bayi kembar mungil yang memiliki jenis kela-min yang berbeda.
“Mereka lucu sekali, yang satu tampan dan satu lagi sangat cantik.” Itulah ungkapan yang pertama kali keluar dari mulut Lucy Lu setelah kedua bayi box bayi itu di letakkan di samping Olivia.
“Tentu saja tampan dan cantik, lihat saja kedua orang tuanya,” sahut Nyonya Gracia sambil tersenyum lebar pada bayi berjenis kela-min laki-laki, “wajah Vincent tampan dan Olivia cantik, sudah pasti kedua anak mereka akan mengikuti wajah rupawan orang tuanya."
“Iyaa, Ibu. Aku tahu. Mereka sangat menggemaskan.” Lucy Lu mencoba untuk mengendong bayi laki-laki yang sejak tadi dia pandangi bersama dengan Nyonya Gracia.
“Ini adalah cicitku yang sangat berharga.” Nyonya Gracia mencoba untuk menggendong cicit perempuannya dengan hati-hati.
Melihat istri dan ibu mertuanya tengah sibuk menggendong cucunya, Juan Wijaya lebih memilih mendekati Olivia dan Vincent.
“Berapa lama Olivia dan cucu-cucuku akan berada di rumah sakit?” Juan bertanya pada anaknya yang duduk di samping Olivia yang sedang berbaring di ranjang pasien dengan wajah lelahnya.
“Kemungkinan 3-4 hari, Pa.”
Juan Wijaya mengangguk lalu menoleh pada Olivia. “Liv, bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik-baik saja, Pa,” jawab Olivia dengan suara rendah.
Lucy Lu ikut angkat bicara setelah berada di samping kanan Olivia. “Kau fokuslah pada pemulihanmu. Biarkan mama yang merawat kedua cucu mama sampai kau benar-benar pulih. Kau hanya cukup menyusui mereka saja, lainnya, biar perawat dan mama yang mengurus semuanya."
“Iyaa, terima kasih, Ma.”
“Kalian akan memberikan nama siapa kepada kedua cucuku?” tanya Lucy Lu sambil memandang bayi dalam dekapannya.
“Alexander Wijaya dan Alexandria Wijaya,” jawab Vincent.
“Nama yang bagus,” celetuk Nyonya Gracia.
“Alex dan Lexa nama panggilan mereka, Nenek,” tambah Olivia.
“Nenek suka dengan nama itu," sahut Nyonya Gracia sembari menatap Lexa dengan seksama.
"Ini adalah keberuntungan keluarga kita memiliki dua penerus sekaligus,” ucap Juan Wijaya seraya menatap Alexandria yang berada di gendongan ibu mertuanya.
__ADS_1
“Benar. Keluarga kita mendapatkan berkah yang luar biasa dengan kelahiran mereka berdua,” tambah Nyonya Gracia.
Setelah semua keluarganya pulang dan kedua bayi mereka tertidur di box masing-masing, Vincent menyuapi istrinya makan. Sebenarnya Olivia sudah menolak karena dia bisa makan sendiri, namun Vincent memaksa untuk menyuapinya.
“Cent, istirahatlah. Kau belum tidur sejak semalam,” ucap Olivia ketika suaminya akan menyuapinya kembali.
“Nanti saja. Kau tidur saja lebih dulu. Setelah itu baru kita bergantian menjaga Alex dan Lexa.”
“Mama sudah menugaskan seorang perawat, Cent. Dia akan menjaga mereka jika kau ingin tidur.”
Sebelum pulang, Lucy sudah berpesan pada mereka kalau dirinya sudah menyewa perawat khusus untuk menjaga kedua cucunya. Dia takut Olivia dan anaknya kekurangan tidur jika harus menjaga kedua anak mereka bersama.
“Nanti saja, Sayang. Biarkan aku yang menjaga anak kita selagi kau tidur. Aku kurang nyaman kalau ada orang lain di ruangan ini.”
“Baiklah. Aku tidur duluan setelah ini, tapi setelahnya kau juga harus tidur.”
“Iyaa, Sayang.”
*******
Dua tahun kemudian
“Kau sudah pulang?” Olivia yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung bertanya pada Vincent saat melihatnya memasuki kamar dengan langkah pelan sambil melepaskan dasi yang melilit di kerah bajunya.
Olivia melepaskan kancing baju suaminya setelah mereka berdua saling berhadapan. “Iyaa. Lexa barusan saja tertidur. Dia menangis selama satu jam karena kau tidak mengangkat panggilan vidionya. Dia juga sempat tidak mau makan hanya karena itu.”
Vincent tersenyum setelah mendengar itu. Dia memang dekat dengan anak-anaknya, terutama dengan Lexa. Setiap hari Lexa selalu berdiri di depan pintu menyambut Vincent pulang bekerja. Bahkan setiap malam Lexa selalu tidur di pelukannya. Lexa memang lebih dekat pada Vincent di bandingan dengan Olivia. Berbanding terbalik dengan Alex yang cenderung lebih dekat dengan Olivia.
Sejak lahir Vincent sering kali turun tangan untuk membantu istrinya untuk mengurus anak-anak mereka. Keduanya memutuskan untuk tidak memakai jasa pengasuh agar anak-anak mereka dekat dengan mereka. Sebelum berangkat bekerja Vincent dan sesudah pulang bekerja, Vincent selalu meluangkan waktu untuk bermain bersama anak-anaknya.
Setiap libur, Vincent akan menghabiskan waktu bersama dengan kedua buah hatinya di rumah atau pergi ke suatu tempat untuk berlibur bersama. Vincent juga selalu membantu istrinya menidurkan anak-anak mereka. Di kantornya, setiap memiliki waktu senggang, dia akan melakukan panggilan vidio pada istrinya dan melihat apa yang sedang dilakukan anak-anaknya. Selain dengan keluarga Wijaya, Lexa dan Alex juga dekat dengan Nesya dan Edric.
Nesya sering berkunjung ke keluarga Wijaya untuk melihat anak-anak Olivia jika sedang libur, sementara Edric, selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengan Lexa dan Alex jika sedang berada di kediaman Wijaya. Dia bahkan sering membelikan hadiah-hadiah kecil untuk anak-anak bosnya itu dan itu membuat Lexa dan Alex senang.
“Kau tahu bukan kalau anak itu tidak bisa jauh darimu,” lanjut Olivia lagi seraya terus melepaskan kancing kemeja suaminya.
Sudah beberapa hari ini Vincent tidak bertemu dengan kedua anaknya karena ada pekerjaan di luar kota dan malam ini dia baru saja pulang dari Surabaya. Dia pergi selama tiga hari dan biasanya Vincent akan melakukan panggilan video dengan anak-anaknya beberapa kali dalam sehari, tapi karena hari ini dia sangat sibuk, ditambah dia dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, jadi dia tidak tahu kalau putrinya itu melakukan panggilan video sore tadi karena ponselnya dalam keadaan silent.
“Aku sedang dalam perjalanan, Sayang.” Vincent melingkarkan tangannya di pinggang istrinya setelah baju kemejanya terlepas dari tubuhnya, “aku sangat merindukanmu.”
“Mandilah. Akan kubuatkan teh hangat untukmu.”
“Kau tidak merindukanku?”
__ADS_1
“Mana mungkin aku tidak merindukanmu. Aku justru sangat merindukan suamiku yang tampan ini.” Olivia mengecup bibir suaminya setelah itu berkata, “aku siapkan dulu air hangat dulu untuk kau mandi.”
“Iyaa, Sayang.”
Setelah menjauhkan diri dari istrinya, Vincent berjalan menuju kamar sebelah melalui pintu penghubung. Vincent memang sengaja membuat pintu penhubung dengan kamar anak-anak mereka untuk memudahkan memantau anak-anaknya. Dia berjalan dengan langkah pelan menuju tempat tidur kedua anaknya. Masing-masing mereka memiliki tempat tidur sendiri.
Yang pertama kali dia datangi adalah tempat tidur Lexa. Dia memandang sejenak wajah putrinya yang wajahnya cenderung mirip dengannya. “Maafkan papa, Sayang. Papa sedang di jalan tadi.” Vincent meletakkan kedua tangannya di pagar pembatas tempat tidur Lexa lalu membungkuk mencium dahi putrinya, “besok papa akan luangkan waktu untuk kalian berdua.”
Selanjutnya Vincent beralih ke tempat tidur Alex. Dia memandang wajah putra sebentar lalu memberikan kecupan juga di dahinya. Jika dibandingan Lexa yang ceria, Alex lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Sebagian wataknya sepertinya menurun dari Vincent, sementara Lexa, entah dari mana dia dapat sifat bawel dan manjanya itu.
“Air hangatnya sudah siap.” Olivia datang menghampiri suaminya yang sedang memandang wajah kedua anak mereka.
“Iyaa, Sayang.”
Keduanya pun keluar dari kamar anak mereka. “Kau mau ke mana?” Vincent menahan siku istrinya di depan pintu kamar mandi.
“Aku ingin menyiapkan baju untukmu.”
“Nanti saja. Temani aku mandi.”
“Tapi aku sudah mandi, Cent.”
“Kita bisa melakukan hal lain selain mandi di dalam.”
Belum sempat menolak, tangannya sudah ditarik masuk ke dalam kamar mandi oleh Vincent dan pintu kamar mandi pun tertutup. Mereka berdua baru keluar setelah satu jam berada di kamar mandi. Mereka berdua berbaring di tempat tidur setelah memakai pakaian tidur.
“Sayang, besok aku akan cuti. Kita ajak anak-anak ke taman bermain.”
Sampai saat ini mereka masih tinggal di kediaman Wijaya. Olivia dan Vincent belum ada niat untuk pindah. Bahkan semenjak Alex dan Lexa lahir, Nyonya Gracia tinggal di kediaman Wijaya. Hanya sesekali dia kembali ke negaranya. Itupun karena ada hal penting yang harus dia urus.
“Iyaaa. Mereka pasti sangat senang jika diajak ke taman bermain, terutama Lexa. Selama kau pergi dia terus mencarimu. Dia selalu merengek pada mama dan papa minta diantarkan ke Surabaya untuk menemuimu. Anak itu benar-benar tidak bisa jauh darimu.”
Vincent tersenyum tipis mendengar itu. “Sama seperti kau saat hamil mereka. Tidak mau jauh dariku. Kau bahkan sempat menangis saat aku berada di Singapura.”
Olivia yang sedang tidur di lengan Vincent seketika menyembunyikan wajahnya di dada suaminya setelah mendengar itu. “Jangan membahasnya lagi. Memalukan.”
Vincent terkekeh pelan lalu berkata, “Aku justru sangat menyukai ketika kau tidak bisa jauh dariku, Sayang. Aku lebih suka kau menempel padaku dan bergantung padaku, sama seperti Lexa.”
Olivia menjauhkan kepalanya dari dada suaminya lalu mengangkat kepalanya ke atas agar bisa menatap suaminya dengan leluasa. “Terima kasih karena sudah memberikan begitu banyak cinta padaku dan anak-anak kita.”
“Kau tidak perlu berterima kasih, Sayang. Kau dan anak-anak kita memang pantas mendapatkannya. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena kau sudah melahirkan dua buah hati kita. Aku harap setelah ini, kehidupan kita hanya akan dipenuhi oleh kebahagiaan.”
...~END~...
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=