
Andrea POV
"Apa kalian haus, kalau kalian haus aku akan menyuruh orang untuk membawakan minuman." tawar Reyhan.
"Tidak usah Rey, kita sudah selesai kan." kata ku.
"Boleh, aku haus," tukas Julian.
"Baik, tunggu sebentar, aku akan suruh orang ambilkan minuman." ucap Reyhan, yang kemudian berjalan menuju sisi bangunan.
"Rey, hati hati jangan berlari, sebelah sana belum ada tembok, kamu bisa kepleset." seru ku khawatir yang melihat Reyhan berjalan menyusuri anak tangga.
"Aku akan hati hati An......."
Bungh.......
"Rey.............!" aku berseru dengan keras, ketika melihat Reyhan terpeleset saat hendak menuruni anak tangga ke lantai bawah.
Seketika itu juga aku langsung gemetaran. Dan perasaan ku begitu ngilu ketika menyaksikan Reyhan terpeleset. Terjatuh dari lantai yang saat ini kami ada di sana.
"Rey...... Reyhan." seru ku kembali dengan air mata yang sudah berlinang membasahi ke dua pipi ku.
Aku langsung menghambur ke arah di mana saat Reyhan tadi terjatuh.
"Andrea, jangan ke sana, bahaya, kau bisa celaka." ujar Julian sambil menahan ku.
"Reyhan jatuh Julian." cicit ku dengan perasaan yang sudah tak karuan. Terasa sangat remuk redam dan sakit.
"Iya, biar aku periksa. Kau tenang saja." ujar Julian.
"Tapi aku ingin melihat nya Julian, aku mohon." rengek ku yang sudah sangat panic.
"Reyhan jatuh ya Tuhan, aku tidak sanggup membayangkan bagaimana dia," ucap ku lagi dengan suara yang sudah bergetar, bercampur dengan tangis yang tak lagi bisa aku bendung.
Akhirnya, dengan tetap di pegang oleh Julian. Aku berjalan hati hati untuk mendekati lokasi tempat Reyhan tadi terjatuh.
"Ya Tuhan Rey, please.... tidak sekarang." ucap ku begitu pilu, sedih seperti teriris sembilu yang begitu menyakitkan.
"Tenang Andrea, Reyhan semoga saja tidak apa apa." tutur Julian mencoba menenangkan aku.
__ADS_1
Tapi hal itu percuma, aku sudah pernah menyaksikan seseorang yang terjatuh dr ketinggian sebuah gedung. Dan tubuhnya hancur, banyak darah yang keluar dari kepalanya. Dan sudah di pastikan orang itu pasti akan mati.
Dan saat ini, Reyhan jatuh dari ketinggian lantai 20. Aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Reyhan.
Saat aku sudah semakin dekat dengan lokasi tadi saat Reyhan terpeleset, dan aku melihat ke bawah.
Ya Tuhan, tidak mungkin.
"Rey, please........jangan sekarang Rey." kata ku dengan suara yang kini serak dan air mata yang makin deras keluar dari kedua pelupuk mata.
"Reyhan, jangan tingal aku, Reyhan.....aku mohon." kata ku terus meratap.
"Andrea, tenang kan diri mu," Julian memegangi ku dengan sangat erat.
"Rey............," teriak ku lagi, bahkan teriakan itu aku suarakan sekencang mungkin, dan berharap Reyhan mendengarnya.
Aku lihat, kini beberapa orang nampak panik. Theresia langsung berinisiatif menelpon ambulans. Dan beberapa orang yang masih berada di lantai atas kini bergegas turun.
Tubuh Reyhan yang terkulai di bawah sana kini sudah di kerumuni banyak orang. Aku melihat darah di sekitar kepala Reyhan. Dan beberapa orang kini mencari sesuatu untuk menutupi kepala Reyhan yang darahnya bisa aku liat kian mengalir.
"Tidak Rey, tidak." kata ku, kini aku mencengkram dengan sangat erat jas yang di kenakan Julian.
"Aku ingin ke bawah Julian, please.....bawa aku ke bawah. Aku ingin melihat Reyhan secara dekat." rengek ku pada Julian.
"Oke, aku akan membawa mu ke bawah. Tapi kita gunakan lift ya."
"Bawa aku ke bawah cepat," teriak ku. Dengan terus di rangkul oleh Julian, aku memasuki lift.
Satu demi satu lantai ku lewati, hati ku makin tidak karuan. Jiwa ku separuh sudah melayang. Kedua kaki ini seperti sudah mati rasa. Jika Julian tidak merangkul ku dan menahan tubuh ku. Mungkin aku sudah merosot jatuh lunglai ke lantai dasar lift.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tubuh Reyhan yang tadi aku liat dari atas nampak begitu mengenaskan.
Demi aku, demi Isabella dan juga Alden, please Rey don't leave me.
Sesampainya aku di lantai bawah, tepat beberapa meter di tempat saat ini Reyhan terkulai di sana. Aku mendadak seolah-olah sudah kehilangan ruh ku.
Seseorang yang di tutupi di bagian kepalanya. Aku bisa melihat cairan merah tumpah di sekitar kepala Reyhan yang kini tertutup oleh selembar kertas koran.
Beberapa orang hanya diam saja, dan sebagai lagi hanya bergumam tidak jelas. Aku pun langsung menghambur ke arah tubuh Reyhan yang sudah tak berdaya. Aku tidak bisa mempercayai ini. Padahal, kami baru saja ingin merajut kembali rumah tangga kami yang pernah karam.
__ADS_1
"Rey, kau tega sekali sama aku. Kau tega meninggalkan Isabel dan juga Alden." keluh ku pada jasat Reyhan yang sama sekali sudah tak bergerak itu.
"Tapi kenapa kalian diam saja, **** kalian semua," teriak ku penuh emosional. Aku geram pada semua orang yang ada di lokasi kejadian.
Mereka hanya diam saja, dan malah menjadi penonton ketika aku sedang menangisi Reyhan yang sudah tak bernyawa itu.
Ketika tangis ku semakin menjadi jadi di samping Reyhan. Sebuah suara tidak asing terdengar di telinga ku. Sebuah suara yang ku rasa itu hanya ilusi. Sebuah suara dengan lembut memangil nama ku.
"Andrea, Will YOU MERRY ME ?"
Ketika aku menengok, dia berdiri di sana. Membawa sebuah buket bunga mawar mewah dan di tangan yang lainnya ia membawa sebuah kotak perhiasan yang di dalamnya ada dua pasang cincin.
Dengan tidak tau malu dan tidak merasa bersalah. Dia malah tersenyum puas melihat ku, yang saat ini benar-benar sangat kusut dan begitu menyedihkan.
Sangat menyedihkan karena terlalu banyak menangis dan kotor terkena pasir dan juga semen di lokasi itu.
"Brengsek kau Rey, kau mengerjai aku," kata ku dengan perasaan hati separuh kesal tapi juga separuh lega. Lega karena apa yang aku takutkan tidak benar-benar terjadi.
"Maaf kan aku sayang. Will YOU MERRY ME ?"
Sambil kembali berdiri, merapikan baju ku yang sangat kusut dan mengusap air mata di wajah ku. Ku liat di sekeliling, dan kini perubahan wajah wajah yang tadinya terlihat sangat mellow kini berubah, berganti beraura penuh senyum. Mereka semua menyaksikan aku dan Reyhan.
Ya Tuhan, ini sudah seperti di acara-acara reality show di sebuah TV. Di mana seseorang hendak melamar dan di saksikan banyak orang.
"Andrea, aku ulangi, Will YOU MERRY ME, say yes."
"Say yes, say yes, say yes," teriak semua orang yang ada di sana, termasuk Julian dan juga Theresia. Brengsek, umpat ku, Julian dan juga Theresia ikut dalam drama konyol ini.
"Ya Rey, aku terima." kata ku penuh keyakinan.
Aku pun sudah tidak bisa lagi menahan rasa haru dan bahagia. Segera aku berlari ke arah Reyhan dan menghamburkan diri ke pelukannya.
Kami saling berpelukkan, dan seiring dengan itu, semua orang nampak bertepuk tangan. Tidak hanya sampai di situ, mereka malah menguyuri aku dan Reyhan dengan air. Dengan mengunakan selang air, dari empat arah. Ini sepertinya memang sudah di rencanakan.
"Kau mau kan menikah dengan ku lagi Andrea," ulang Reyhan, berbicara di bawah guyuran air yang mereka semprotkan.
"Ya Rey, aku mau," jawab ku mantap. Reyhan mengembang senyum sempurnanya. Dan tanpa ragu, malu dan canggung, ia mencium bibir ku. Dan aku pun dengan tidak tau malu dan masa bodoh. Mengalungkan kedua tanganku ke leher Reyhan dan menyambut ciumannya dengan mesra.
Haaaaaaaa... selamat malam, Doble up lagi.... bobok manis ya 🙏😍🥰🤗
__ADS_1