Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Asa Dalam Rasa


__ADS_3

Siang itu, Reyhan dan Andrea berada dalam satu mobil untuk menjemput sang putri kesayangan mereka Isabella di bandara. Andrea memerintahkan Denis untuk menjemput sang putri dari New Zealand.


Setibanya mereka di bandara, baik Andrea dan juga Reyhan tidak banyak melakukan perbincangan. Reyhan hanya menanyakan tetang kondisi seputar kehamilan Andrea.


Berdiri tepat di aula kedatangan, Reyhan dan juga Andrea nampak antusias untuk menyambut kedatangan sang putri yang sudah 4 bulan ini terpisah. Begitu Isabella melihat kedua orang tua berdiri menyambutnya dalam beberapa meter, Isabella berteriak histeris memangil Mommy dan Daddy.


"Daddy, Mommy!" serunya, kemudian ia berlari ke arahnya keduanya orangnya.


Ketika Andrea maupun Reyhan sama sama siap menyambut pelukan sang putri setelah sekian lama tak berjumpa, Isabella memeluk Daddy-nya terlebih dahulu.


"Daddy," peluk erat Isabella memeluk Reyhan dengan sangat erat. Mengalungkan kedua tangannya ke leher Reyhan dan bahkan Isabella menangis.


"Hai sayang, Daddy kangen sekali dengan mu."ucap Reyhan memeluk erat sang putri sambil menggendongnya.


"Aku tidak ingin kembali Wellington Dad, aku ingin di sini bersama Mommy dan Daddy." keluh Isabella. Dan hal itu membuat perasaan hati Andrea terunyuh. Ia merasa bersalah karena ia lah yang menempatkan Isabella untuk berada di New Zealand bersama dengan keluarganya.


"Bell, kamu tidak kangen dengan Mommy." seru Andrea. Kemudian Reyhan menurunkan Isabella dari gendongannya, kemudian Isabella pun berganti memeluk Andrea.


"Maafkan Mommy Bell, maafkan Mommy. Mommy janji kau akan tetap di sini bersama Mommy." tutur Andrea sambil memeluk erat-erat putri kecilnya itu.


"Bersama Mommy dan Daddy." ucap ulang Isabella dan Andrea pun mengangguk.


Andrea dan Reyhan pandang. Kemudian Reyhan kembali mengendong Isabella.

__ADS_1


"Kita pulang ke rumah dulu ya. Lanjutkan di rumah mengobrol nya." ucap Reyhan.


Kemudian mereka berjalan menuju mobil untuk kembali pulang ke rumah.


Di dalam mobil, Isabella yang saat ini duduk di antara Andrea dan juga Reyhan berceloteh meluapkan kegembiraannya. Ia terlihat sangat bahagia karena kembali ke Indonesia. Reyhan lah yang lebih antusias menanggapi celotehan Isabella, sedang Andrea sendiri lebih banyak diam menyaksikan sang putri kesayangannya bercerita.


Tak berselang lama, Bella tertidur di pangkuan Reyhan. Kelelahan yang Bella rasakan membuat anak itu tidur sambil mendengkur pelan. Kondisi jalanan yang macet membuat mereka lebih lama untuk sampai di rumah.


Dan tiba-tiba saja, Andrea merasa kram di perutnya. Sampai sampai Andrea meringis kesakitan.


"Andrea, kau kenapa?" tanya Reyhan panic.


"Perut ku," tutur Andrea sambil memegang perutnya yang buncit.


"Terasa nyeri," jawab Andrea sambil meringis kesakitan.


"Izinkan aku memegangnya." ucap Reyhan meminta izin untuk memegang perut Andrea. Dan Andrea hanya mengangguk tanda ia mengizinkan.


Sambil memangku tubuh Isabella yang tertidur pulas di pangkuannya. Reyhan berinsut sedikit untuk bisa lebih dekat dengan Andrea. Kemudian dengan menjulurkan tangannya, Reyhan mengusap usap perut buncit Andrea yang di rasa kram itu.


"Hai boy, jangan nakal ya. Jangan buat Mommy kesakitan. Jalanan sedang macet, nanti mommy kalau sudah sampe rumah kalian istirahat ya. Apa kau kau kelelahan boy?" tanya Reyhan mengajak bicara janin yang ada di perut Andrea. Reyhan mengelus elus perut Andrea dengan lembut. Dalam hati perasaannya teramat bahagia bisa bersama anak dan istrinya saat ini.


"Bagaimana, apakah masih sakit?" tanya Reyhan pada Andrea yang masih mengusap usap perut bulat Andrea.

__ADS_1


"Lebih baik," jawab Andrea singkat, yang memang merasa, kram di perutnya berangsur-angsur menghilang saat Reyhan mengelus elus perut tadi.


Setelah kini mereka sampe di rumah, Reyhan meminta Denis untuk mengedong Isabella yang masih tidur pulas itu ke kamarnya. Sedangkan Reyhan sendiri bermaksud untuk membopong Andrea.


"Rey, tidak perlu. Aku sudah tidak merasa sakit lagi." ucap Andrea saat Reyhan hendak meraih tubuhnya.


"Jangan salah sangka Andrea, berpikirlah positif. Aku hanya ingin membantu mu, yang kau kandung ini adalah anak ku. Aku melakukan ini untuk nya, bukan untuk mu."


"Tapi Rey, aku." tidak menggubris lagi ucapan Andrea, Reyhan langsung menyusupkan kedua lengan tangannya ke bawah paha Andrea. Dan dengan sekali rengkuhan Reyhan menarik tubuh sang istri dan membopongnya masuk ke dalam rumah. Bahkan Reyhan membopong Andrea menaiki anak tangga menuju kamar.


Belinda yang saat itu memperhatikan sikap Reyhan hanya tersenyum sinis.


"Kau tidak perlu lakukan ini sebenarnya." keluh Andrea yang saat itu masih dalam gendongan Reyhan.


"Jangan banyak protes. Kau hamil, tadi kau merasakan sakit di perut mu. Kau harus banyak istirahat hari ini." ujar Reyhan. Dan Andrea hanya bisa pasrah mengalungkan kedua tangannya ke leher Reyhan untuk berpegangan.


Sesampainya di dalam kamar, Reyhan langsung meletakkan tubuh Andrea ke tempat tidur. Merapikan kedua kaki Andrea untuk bisa berselonjor di bawah selimut, dan sebelumnya Reyhan melepaskan sepatu flat yang Andrea kenakan.


"Istirahatlah, aku akan suruh pelayanan mengantarkan makanan untuk mu nanti."


"Aku tidak apa apa Rey, kau saja yang berlebihan."


"Jika bukan aku yang memperhatikan mu siapa lagi Andrea. Jadi wajar jika aku protektif. Aku Daddy-nya, aku ingin dia baik baik saja, begitu juga dengan mu. Sudah jangan banyak ptotes, istirahatlah." ucap Reyhan yang kemudian berjalan menuju pintu untuk membiarkan Andrea beristirahat.

__ADS_1


Bonus up hari ini ...🤭🤭🤭


__ADS_2