
Setelah mengantarkan Bella ke sekolah, kini Reyhan bersiap melajukan mobilnya kembali untuk mengantarkan Andrea ke kantor.
Pagi itu, Reyhan sendiri yang mengemudikan mobilnya untuk mengantar istri dan juga anak nya. Moment yang sudah lama sekali ia tak melakukannya.
Karena biasa nya Bella dan juga Andrea berangkat bersama di antara sopir. Jika Andrea berangkat lebih dulu atau berangkat siang ke kantor, biasanya Bella di antara sopir berserta dengan babysister nya untuk ke sekolah.
Wajah Reyhan nampak ceria. Suasana hati nya saat ini sedang berbunga-bunga.
Apa lagi, saat ini di samping nya Andrea duduk dengan sangat anggun di kursi penumpang. Reyhan nampak mencuri curi pandang ke arah Andrea yang saat ini sedang fokus pada ponsel nya. Wajah cantik sang istri beberapa hari ini selalu membuat Reyhan kagum.
"Sibuk sekali dengan ponsel." Reyhan berucap, karena merasa dirinya di abaikan.
"Maaf sayang, aku sedang membalas email penting. Sepertinya aku beberapa hari ke depan harus keluar kota." imbuh Andrea.
"Baru saja aku kembali dari Yunani, kamu malah mau keluar kota." ucap Reyhan, berasa sedih. Andrea kemudian mengalihkan perhatiannya dari ponsel, beralih menatap sang suami yang sedang menyetir itu.
"Kau manja sekali." tukas Andrea, kemudian menjulurkan tangannya mengusap-usap pundak Reyhan.
Mendapat sentuhan seperti itu, membuat Reyhan makin menghangat hati nya. Dalam hati ia sangat merasa senang, karena Andrea sepenuhnya masih sangat mencintai nya. Dan masih percaya pada nya seratus persen. Sehingga Reyhan berasumsi, jika Andrea masih belum mencium kebohongannya. Tetapi, di lain sisi, Reyhan juga mengutuk dirinya sendiri.
"Kau kenapa, kok tiba tiba tegang." tanya Andrea yang kini duduk miring sambil menatap ke arah Reyhan.
"Tidak ada apa apa sayang. Nanti sepulang dari kantor aku jemput ya. Jangan suruh sopir menjemput mu." ucap Reyhan berpesan.
"Apa kau tidak sibuk,?" tanya balik Andrea.
"Tidak, aku akan menjemputmu. Kapan pun kau sudah mau pulang, hubungi aku." jawab Reyhan bersemangat.
"Oke," jawab Andrea santai.
__ADS_1
Kemudian Andrea dengan sangat rilex, menyandarkan tubuhnya pada kursi. Ketika Andrea terlihat melayangkan pandangan ke sisi jendela kaca mobil, Reyhan nampak masih saja mencuri curi pandang ke arah istrinya. Hal yang sangat konyol yang ia lakukan. Dia benar-benar buta selama ini.
Saat dia masih berselisih dengan Andrea, yang ada memang mereka selalu bertengkar dan bertengkar.
Tetapi mereka tidak bertengkar adu mulut, tetapi bertengkar batin. Saling diam, saling cuek, saling tidak memperhatikan satu sama lain. Karena, jika di hadapan sang putri, mereka berusaha bersikap normal.
Sehingga kejenuhan dan kebosanan menyerangnya kala itu. Dan kini setelah semua itu berlalu, Reyhan sangat menyesalkan keputusan nya menikahi Syanala.
Tetapi dia bisa apa. Syanala nyatanya juga telah mengisi ruang-ruang hati nya dengan ciri khas Nala yang memang punya sifat berbeda dari Andrea.
Apa lagi, Syanala juga sudah memberikan jiwa raga nya pada Reyhan. Ikatan cinta yang sudah terlanjur terbangun antara Reyhan dan juga Nala tidak bisa begitu saja di sudahi. Baik Syanala dan juga Reyhan pun tak bisa mundur.
Dan kini mereka sendiri terjebak dalam cinta yang rumit.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Nala, ke ruangan ku sekarang ya." perintah Reyhan yang saat ini sudah duduk di kursi kebesarannya, di kantor. Reyhan memanggil Syanala lewat sambungan telepon.
"Baca kan jadwal ku hari ini." perintah Reyhan, sambil sibuk mengecek file file yang sudah menumpuk di meja nya.
Tanpa basa-basi Syanala pun kemudian membacakan semua jadwal Reyhan hari itu.
Setelah berkomunikasi dengan profesional bersama Nala layaknya seorang sekretaris dan atasan, Nala yang sudah tidak ada kepentingan di ruangan itu berjalan menuju pintu untuk kembali ke ruangannya.
"Nala, tunggu." ucap Reyhan, mencegah Nala pergi. Kemudian, Nala pun berbalik, membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Reyhan.
"Kenapa buru buru pergi." ucap Reyhan, yang kini sudah berjalan ke arah Nala.
"Aku sudah tidak ada lagi keperluan di ruangan ini kan?" jawab Nala datar. Reyhan kemudian tersenyum dan langsung menangkup wajah Nala dengan ke dua tangannya.
__ADS_1
"Siapa bilang, tugas mu sudah selesai. Bahkan kau belum mengucapkan selamat pagi pada ku, kau juga belum buat aku minuman. Dan satu lagi, aku belum mengecup mu." ucap Reyhan yang kemudian langsung melabuhkan kecupan manis di kening Nala.
Nala pun hanya bisa pasrah. Dan tak bisa di pungkiri, hati Nala pun menghangat jika di perlakukan manis oleh Reyhan.
Dan kini, Syanala sudah merangsek kedalam pelukan sang suami, yang menikahi dirinya secara siri.
"Maaf ya, semalam aku tidak menelpon mu." ucap Reyhan yang masih memeluk Nala.
"Aku paham, tidak usah di jelaskan. Kalian pasti sibukkan." jawab Nala. Dan itu membuat Reyhan terkekeh.
"Aku langsung tidur semalam, begitu sampe rumah. Aku menyuruh mu tidak masuk kantor, kenapa kamu masih ngotot masuk kantor hari ini. Kau pasti capek kan habis perjalanan jauh." tugas Reyhan sambil membelai rambut panjang Nala.
"Tugas ku sudah menumpuk, jika aku tak masuk hari ini, siapa yang akan mengurusi dokumen dokumen itu." ucap Nala yang kini beralih memandang Reyhan.
"Bagaimanapun aku harus profesional dalam bekerja." tukas Nala.
"Sudahlah, masih pagi. Aku kembali ke ruangan ku ya." ucap Nala, kemudian ia mengecup pipi kanan Reyhan, dan kemudian bergegas menuju pintu.
"Jangan lupa buatkan aku kopi."
"Di tunggu sayang," jawab Nala sambil tersenyum tipis.
Reyhan nampak menggeleng, dan kini ia duduk kembali ke kursinya. Dan mulai menyibukkan diri dengan banyak dokumen.
Syanala Anunika
__ADS_1