Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Insiden


__ADS_3

Begitu memasuki kamarnya, Andrea langsung melepaskan semua aksesoris yang ia kenakan selepas menghadiri acara penghargaan malam itu ke meja rias.


Kemudian ia bergegas ke kamar mandi. Menanggalkan seluruh pakaiannya dan menjeburkan diri ke dalam bathtub yang sudah siap dengan berisikan air hangat.


Masa bodoh ia berendam pada tengah malam. Ia hanya ingin merilekskan pikiran dan hati nya. Dengan berendam air hangat, setidaknya itu bisa membantu.


Sambil menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata, Andrea meresapi kenikmatan berendam nya malam itu. Sensasi air hangat itu berhasil membuatnya tenang dan rileks.


Setelah hampir satu jam berendam, Andrea kemudian bangkit untuk membersihkan diri dan berganti pakaian tidur. Namun ada hal yang membuat ia kembali teringat pada mantan suaminya. Apa lagi kalau bukan baju baju Reyhan yang masih tertata rapi di ruang ganti di kamarnya.


Setelah sekian bulan bercerai, kenapa ia masih menyimpan pakaian pakaian Reyhan di kamarnya. Harusnya ia sudah memindahkan atau menyuruh Reyhan mengemasi pakaiannya. Ini malah masih tersimpan rapi di lemari pakaian ruang ganti.


Mengabaikan semua itu, Andrea kembali ke kamarnya dan menyibakkan selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya dan bersiap untuk tidur.


Baru saja ia hendak memejamkan mata, deringan bunyi ponsel membuat Andrea kembali terjaga.


"Ada apa Rey, menelpon ku tengah malam begini." sergah Andrea begitu tau yang menelpon adalah Reyhan.


"Metthew kecelakaan bersama istrinya. Kedua nya sedang kritis sekarang. Apa kau mau ikut aku menengok keadaan mereka?"


🌹🌹🌹🌹🌹


Setibanya di rumah sakit Reyhan dan Andrea langsung menuju ruang IGD untuk memastikan keadaan sahabat mereka Metthew Wilson yang pada malam itu mengalami kecelakaan bersamaan istrinya.


Sang dokter yang menangani mereka menjelaskan pada Andrea dan juga Reyhan tetang kondisi Metthew dan Syanala pada saat itu. Metthew kini sudah di pindahkan ke ruang rawat sedangkan Syanala sendiri masih dalam keadaan penanganan intensif dokter.


Karena pasien belum bisa di jenguk di dalam kamar perawatan. Akhirnya Andrea dan Reyhan memilih untuk menunggu di ruang tunggu rumah sakit.


"Padahal aku berada satu meja dengan mereka tadi," Andrea berguman di samping Reyhan yang kala itu mereka sedang duduk berdampingan di deretan bangku di ruang tunggu.


"Syanala juga sedang hamil." imbuh Andrea. Sebenarnya Reyhan kaget mendengar kabar itu. Tapi dia lebih banyak diam dari pada harus menangapi berlebihan soal itu. Karena bagaimanapun Syanala pernah menjadi bagian kisah masa lalunya.


"Semoga mereka bisa melalui ini." Reyhan menanggapi dengan sikap tenang.


"Kata dokter tadi, Nala kehilangan bayinya. Padahal Metthew sudah sangat ingin mempunyai anak. Dengan mendiang istrinya yang dulu juga dia gagal mendapatkan anak. Kasian Metthew." keluh Andrea, nampak sangat bersimpati terhadap sahabatnya Metthew.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


"Bagaimana dengan keadaan Nala?" tanya Metthew begitu ia kini sudah siuman dari pingsang. Dan bertanya pada Reyhan dan juga Andrea yang kala itu tengah berada di ruang perawatan untuk menunggunya.


"Istri mu masih di ruang NICU." jawab Andrea datar.


"Bagaimana dengan bayi nya?"


Walau saat itu Andrea dan Reyhan sudah tau apa yang terjadi dengan bayi mereka. Tapi Andrea dan Reyhan memilih untuk tidak memberi tau Metthew.


"Aku kurang tau. Nanti biar dokter yang menjelaskan. Aku sudah menghubungi sekertaris mu untuk mengurus semuanya." jelas Andrea lugas.


"Terimakasih Andrea, sudah mau repot-repot kemari dan membantu mengurus ku."


"Tidak masalah Mett. Kau sahabatku."


"Semua akan baik baik saja Mett." Reyhan menimpali, memberikan dukungan untuk teman akrabnya itu.


"Terimakasih Rey."


"Terimakasih untuk perhatian mu Andrea."


"Kalau begitu kami pulang, besok jika ada waktu aku dan Andrea akan kemari lagi."


Kemudian setelah itu Reyhan dan Andrea pamit untuk pulang. Sesampainya mereka di parkiran, Reyhan membukakan pintu mobil untuk Andrea. Andrea pun langsung masuk, saat Reyhan ingin membantu memakaikan seat belt untuk Andrea, Andrea nampak menolak.


"Aku bisa mengenakannya sendiri. Terimakasih."


🌹🌹🌹🌹🌹


"Apa kau bertemu dengan Nala di acara semalam?" tanya Reyhan sambil menyetir, saat mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah.


"Iya aku bertemu dengannya. Kenapa?" tanya Andrea penasaran.


"Kau masih perduli dengan nya ya? Dan apakah kau kawatir jika aku melabraknya?"

__ADS_1


"Bukan begitu Andrea. Itu semua masa lalu. Aku hanya bertanya." jawab Reyhan tenang.


"Bilang saja kau masih penasaran dengan nya Rey."


"Kau ini bicara apa. Dia sekarang sudah menjadi istri Metthew. Aku sudah tidak ada perasaan apa apa lagi dengannya. Tolong jangan bahas itu lagi. Aku hanya bertanya apakah kau bertemu dengannya, itu saja."


"Kau bisa saja dengan mudah bicara itu masa lalu. Tapi nyatanya, kadang ingatanku belum bisa melupakan semuanya. Aku sudah ikhlas menerima takdir ku. Dan sudah lega dengan keputusan ku. Tapi apa yang kalian perbuat nyatanya juga akan membawa dampak negatif bagi mu dan juga bagi nya kan. Karena kalian itu pelaku."


Dan Reyhan pun sudah tak bisa berkata apa apa lagi.


"Jika besok kau mau datang ke rumah sakit. Datang lah sendiri, aku tidak mau ikut lagi. Semua sudah ku serahkan pada sekertaris Metthew. Biar dia yang mengutus nya."


🌹🌹🌹🌹🌹


Beberapa hari kemudian


Nala nampak masih saja berlinang air mata setelah dokter memberi tau bahwa ia mengalami keguguran.


Ketika menyadari janin yang sudah berada di rahimnya selama tiga bulan yang ia sangat sayang dan antusias menyambutnya kini harus ia relakan gugur sebelum di lahirkan ke dunia.


Hatinya sangat sedih dan merasa sangat kehilangan. Baru saja ia bahagia karena akan menjadi seorang ibu tapi secepat itu juga harapannya lenyap.


Dan yang membuat ia kini terlihat depresi ialah kata dokter diri nya akan sulit untuk mempunyai anak untuk beberapa tahun kedepan. Hal itu disebabkan oleh kerasnya benturan saat kecelakaan. Walau tidak menutup kemungkinan ia bisa hamil kembali.


Insiden kecelakaan itu tidak hanya membuat Metthew dan Nala kehilangan bayinya. Namun juga membuat Nala drop. Bahkan Metthew sendiri juga mengalami patah tulang di bagian kaki nya. Berbagai hal sudah Metthew lakukan untuk menghibur sang istri. Tetapi Nala seperti masih larut dalam kesedihannya.


"Apa mungkin ini hukuman untuk ku, karena sudah memisahkan seorang anak dari ayahnya?" guman Nala sambil berbaring miring membelakangi Metthew yang ada di sampingnya kala itu di rumah sakit.


"Jangan bicara soal hukuman sayang. Itu hanya kuasa Tuhan. Berfikir lah positif, ini adalah ujian untuk kita." ucap Metthew menenangkan.


"Maaf kan aku Metthew. Seharusnya kamu tidak menikahi ku. Aku tidak lagi menjadi wanita sempurna. Dokter bilang aku akan sulit untuk bisa hamil lagi. Sedangkan dirimu, bukankah sudah sangat ingin mempunyai anak. Maafkan aku, aku sudah mengecewakan mu." tutur Syanala begitu merasa tidak enak hati pada Metthew.


"Nala, sudah jangan salah kan diri mu. Aku juga salah, aku tidak hati hati saat menyetir. Sehingga membuat kecelakaan itu terjadi."


"Kau tidak salah, semua ini salah ku. Semua ini karena dosa dosa ku dan kesalahan yang aku harus bayar akibat menyakiti hati Mbak Andrea yang sudah baik hati selama ini pada ku. Aku merebut suami nya, aku benar-benar seorang ****** yang tidak berperasaan. Dan kini aku sedang membayar untuk semua kesalahanku."

__ADS_1


__ADS_2