Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Kecurigaan Andrea


__ADS_3

Sambil duduk termenung di kursi kebesaran nya di kantor, pikiran Andrea melayang-layang. Penemuan sebuah lembaran copy an tanda bukti penyerahan unit Penthouse di meja kerja Reyhan semakin membuat Andrea berfikir keras.


Berbagai asumsi dan pikiran negatif tentang sang suami kembali menggelayuti pikirannya.


"Deniz, ke ruangan ku sekarang." Andrea nampak menghubungi seseorang.


"Ada hal serius yang harus aku kerjakan," tanya Deniz setelah dirinya sudah duduk di hadapan Andrea. Deniz adalah orang kepercayaan Andrea.


"Aku minta tolong untuk kau cari tau dan selidiki siapa seseorang yang tingal di Penthouse di alamat ini." Andrea kemudian menyerahkan alamat Penthouse tersebut pada Deniz.


"Dan, tolong kau ikuti mulai hari ini sekertaris suami ku yang bernama Syanala Arunika. Selidik tetangga wanita itu."


"Siap, pasti aku akan menyelidiki nya dan beri aku waktu 2x24 jam. Maka anda akan mendapatkan informasi secara akurat dari ku."


"Good job, Deniz. Aku memang ingin tau ini dengan cepat."


🍁🍁🍁🍁🍁


"Mas, hari ini kita ada meeting di luar jam satu siang. Aku sudah siapkan semua dokumen penting untuk meeting nanti. Jangan lupa." ucap Nala pagi itu saat dia berada di ruangan Reyhan, sambil membereskan beberapa dokumen yang sudah Reyhan tanda tangani.


"Ia sayang. Itu meeting yang sangat penting, kita berangkat sama sama nanti." Jawab Reyhan yang juga masih nampak sibuk mengecek beberapa file dokumen.


"Mas, aku ingin pindah dari Penthouse." ucap Nala di sela sela kesibukan mereka berkutat dengan dokumen.


"Kenapa mau pindah sayang. Itu tempat tinggal yang ku berikan untuk mu."


"Ia, aku tau. Terimakasih, tapi aku tidak terlalu nyaman di sana.Terlalu luas dan besar untuk aku yang seringkali sendirian. Aku lebih suka tempat tinggal yang sederhana." tutur Nala.

__ADS_1


"Maaf ya jika aku belakangan sering tidak menginap." ucap Reyhan yang kini meletakkan dokumen yang tadi ia periksa. Dan kini malah menarik Syanala ke pangkuannya, untuk duduk di kursi bersama dengan Reyhan.


"Mas, jangan begini. Nanti ada yang masuk."


Kemudian Reyhan menekan sebuah tombol remote, dan seketika pintu itu pun terkunci otomatis.


"Aku sudah memodifikasi pintu itu untuk bisa di kunci otomatis dari tempat ku duduk." mendengar itu Nala terperangah.


"Demi apa Mas,?"


"Kau pikir saja sendiri demi apa." jawab Reyhan yang kini sudah membelai wajah istri siri nya yang kini sudah bergelayut mesra pada Reyhan.


"Itu demi kamu. Agar jika kita sedang seperti ini tidak ada yang bisa menganggu." jawab Reyhan.


"Tapi sebentar lagi kan aku sudah tidak bekerja di sini lagi Mas, jadi buat apa kamu memodifikasi pintu itu." jawab Nala.


"Kau jahat sekali Mas," tutur Nala.


"Kenapa kau bilang aku jahat?" tanya Reyhan.


Sesaat Nala terpaku di pangkuan Reyhan dengan wajahnya tertunduk. Lalu Reyhan meraih dagu Nala dan menatap wajah Nala lekat lekat.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Reyhan.


"Kapan kau akan memberi tau pada Mbak Andrea tentang pernikahan siri kita." tanya Nala.


"Aku belum bisa membicarakan hal itu pada Andrea. Kau tau kan, saat ini aku sedang berjuang mengembalikan kepercayaan Andrea terhadap ku. Walau aku tetap berbohong pada nya. Aku mencintai kalian berdua." jawab Reyhan yang kini menatap dengan tatapan penuh harap pada Nala. Nala yang memang sudah jatuh cinta pada Reyhan hanya bisa pasrah dan menerima semua keadaan itu.

__ADS_1


"Jika saja aku punya kesempatan untuk tidak jatuh cinta pada lelaki yang sudah beristri, maka aku tidak kan jatuh cinta dengan mu Mas." Nala berucap dengan tatapan mata yang sudah menganak sungai.


"Aku juga sayang pada mu Nala. Janji ku pada mu bukan hanya sekedar kata kata. Aku akan bersikap layaknya seorang suami yang akan melindungi istrinya. Walau kau istri siri ku, kau juga prioritas ku." jawab Reyhan. Saat Reyhan ingin melabuhkan ciuman ke bibir Nala. Suara deringan telepon di meja kerja nya membuyarkan keintiman Reyhan dan Nala.


Kemudian dengan satu tangan yang lain Reyhan meraih telepon tersebut. Dan satu tangan yang lain masih menahan Nala di pangkuannya.


"Halo," jawab Reyhan ketika mengangkat telepon itu.


"Aku sudah ada di depan pintu ruangan mu Rey. Apa kau sibuk, sampai kau mengunci pintu ruangan mu?"


"Andrea," jawab Reyhan. Dan seketika itu juga Reyhan mengangkat tubuh Syanala untuk beranjak dari pangkuannya.


"Mbak Andrea ada di sini Mas?" tanya Nala penuh dengan perasaan kawatir.


"Ia, Andrea sudah ada di depan. Bersikap tenang lah. Bilang pada nya jika kita sedang berdiskusi hal penting soal pekerjaan." tukas Reyhan pada Nala.


"Ia Mas," jawab Nala yang kemudian mengamati pakaiannya. Takut jika dirinya terlihat berantakan. Karena ia dan Reyhan baru saja sedang bercumbu.


Kemudian dengan langkah santai Reyhan berjalan ke arah pintu. Dan membukakan pintu untuk sang istri yang datang mengunjungi diri nya.


"Andrea," sapa Reyhan, begitu ia membukakan pintu untuk Andrea dan melihat sang istri sudah berdiri dengan pakaian kantor yang elegan.


"Hai Rey," sapa Andrea tenang sambil tersenyum.


Andrea sahara


__ADS_1


__ADS_2