Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Kedatangan Sang Mama Mertua


__ADS_3

"Apa kabar Ma?" sapa Andrea menyambut Belinda Dimitri, sang mama mertua yang baru saja datang dan masuk kedalam rumah itu.


"Baik sayang." jawab Belinda yang secara khusus sengaja datang untuk mengunjungi menantu kesayangannya itu.


Mereka kemudian saling menautkan pipi, saling peluk dan saling meluapkan rasa kangen.


"Mama sengaja ya, datang tak memberikan kabar dulu. Tau tau datang." keluh Andrea yang merasa tak enak hati karena tak menjemput sang mertua di bandara.


"Mama memang sengaja datang tak memberi tau kamu. Bahkan si anak nakal Reyhan pun juga tak tau jika mama nya saat ini ada di Indonesia." tutur Belinda sedikit bernada kesal saat menyebut nama putranya, Reyhan. Andrea hanya menanggapi dengan tersenyum.


"Mau aku beritahu kan Reyhan, kalau Mama ada di rumah? Aku bisa menelponnya dan memberi tau nya." saran Andrea pada sang mama mertua.


"Tidak usah repot-repot Dea sayang. Biarkan saja anak itu tidak tau Mama nya di sini. Nanti saja bahas anak nakal itu. Aku ingin banyak ngobrol dulu dengan mu. Mengenai cucu ku yang masih di perut ini." tutur Belinda sambil merangkul Andrea dan meletakkan tangan nya ke perut Andrea yang kini sudah semakin membesar.


"Sudah berapa bulan Andrea?"


"Sudah masuk bulan ke enam Ma,"


"Bagus, kau hebat. Jaga terus kandungan mu ya. Jangan terlalu banyak capek. Walau kau kini CEO dari dua perusahaan besar, kesehatan mu dan bayi ini tetap harus kamu prioritaskan."


"Tentu Ma, jangan kawatir. Aku lebih sering bekerja dari rumah dari pada ke kantor. Aku kekantor hanya untuk urusan penting."


"Bagus, ngomong-ngomong di mana cucu ku Isabella. Dari tadi aku tak mendengarkan suaranya?"


Mendengar pertanyaan dari mertuanya, membuat Andrea sedikit tidak nyaman. Andrea tidak nyaman karena ia merasa tak enak hati, jika alasan Andrea menempatkan Isabella ke New Zealand adalah bagian dari alasannya karena tidak ingin terlalu banyak bertemu dengan Reyhan.


Karena jika Isabella ada bersamanya, pasti anak itu akan selalu menanyakannya Daddy-nya.


"Isabella ada di Wellington bernama papa dan mama." jawab Andrea sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa cucu ku ada di sana. Bukankah selama ini dia ada di sini bersama kalian?"


Pertanyaan sang mertua pun akhirnya membuat Andrea tidak bisa untuk tidak jujur. Kemudian Andrea pun berkata jujur tentang alasannya menaruh Bella di Wellington bersama keluarga nya di sana.

__ADS_1


Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Andrea tentang alasan kenapa Isabella berada di Wellington, dengan menghela nafas panjang, Belinda memeluk sang menantu kesayangannya itu erat erat.


"Maaf kan putra ku ya Dea. Reyhan sudah banyak melakukan kebohongan dan kesalahan yang sangat fatal terhadap mu. Sebagai ibunya, mama minta maaf."


"Ma, yang salah itu Reyhan bukan Mama. Mama tidak perlu minta maaf pada ku. Justru akulah yang harus minta maaf sama mama, karena mama tidak bisa bertemu dengan cucu mama, padahal kedatangan mama ke Indonesia kan salah satu nya untuk bertemu Bella."


"Aku bisa mengerti dengan apa yang saat ini kau rasakan Andrea. Kau butuh waktu untuk menenangkan diri. Mama juga tidak mau mencampuri urusan kalian. Tapi jika mama boleh sarankan. Isabella lebih baik berada di tengah tengah kalian, bagaimanapun Bella butuh kasih sayang dari kedua orang tua nya. Apa kamu tidak kasian pada Bella, jika sewaktu-waktu ia merasakan kangen dengan mu atau dengar Reyhan, bagaimana. Anak itu punya hak untuk dekat dengan kalian berdua."


Dan ucapan sang mertua pun membuat Andrea sedih. Ia membenarkan perkataan sang mama mertua nya.


"Coba pikirkan itu Andrea, di saat hubungan kalian sedang tidak baik seperti ini, jangan sampe mental Isabella juga terkena dan berdampak. Dia berhak dekat dengan mu dan juga Reyhan, terlepas dari apa yang kamu dan juga Reyhan saat ini hadapi. Mama tidak ingin anak itu malah menjadi sedih karena jauh dari mama dan daddy-nya, apa lagi saat ini kau tengah hamil, pasti dia juga kangen dengan calon adiknya yang masih di perut mu."


"Ia ma, nanti Andrea akan pikiran kan lagi untuk membawa Isabella pulang."


🌹🌹🌹🌹🌹


"Halo, ya sayang. Tumben menelpon ku dulu an." ucap Reyhan, begitu ia tersambung dengan Andrea lewat sambungan telepon.


"Jangan gr dulu Rey. Aku menelepon mu karena saat ini mama sedang ada di rumah." jawab Andrea dari sebrang telepon.


"Mama mu?"


"Apa, mama ku, mama jauh jauh datang dari Amerika malah hanya memberi tau mu, dan mendatangi mu, keterlaluan mama." desah Reyhan tidak serius dengan ucapannya.


"Datanglah ke rumah malam ini. Ada hal penting yang ingin mama bicara dengan mu."


"Aku pasti datang sayang. Terimakasih sudah memberitahu aku soal kedatangan Mama. Sampai jumpa nanti malam."


🌹🌹🌹🌹🌹


Dan malam itu Reyhan akhirnya mendatangi rumahnya. Rumah yang selama ini menjadi tempatnya melepas lelah dan penat dari aktivitas bekerja di kantor seharian.


Dan di rumah itu pula ia bisa bertemu istri dan anaknya sebagai pelipur hati. Bersenda gurau, bercerita, melakukan aktivitas yang menyenangkan seperti keluarga bahagia.

__ADS_1


Tapi saat ini, semua hal itu seakan musnah. Begitu ia menyusuri ruang tamu, ruang tengah hanya kehampaan yang ia rasakan. Ada rasa sesak yang ia rasakan saat ini. Rasa bersalah telah membuat bencana dalam kehidupan rumah tangganya sendiri. Menghancurkan kepercayaan Andrea, menghancurkan keharmonisan rumah tangga nya. Dan yang paling membuat ia sedih. Kini ia berpisah dengan putri kesayangannya Isabella.


"Tuan, apa kabar?" sapa salah satu pelayan yang ada di rumah itu menyapa Reyhan.


"Baik Bibik," jawab Reyhan ramah.


"Makan malam sudah siap di meja makan. Saya baru saja mau memangil Nyonya Andrea dan juga Nyonya Belinda." ujar pelayan yang sudah bertahun tahun mengabdi di rumah itu.


"Biar aku saja yang memangil Andrea Bik," usul Reyhan.


"Oh baiklah kalau begitu Tuan. Saya pangil Nyonya Belinda kalau begitu. Permisi Tuan Reyhan." ucap pelayan itu sopan.


Kemudian dengan langkah pelan, Reyhan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Menuju dimana kamarnya berada.


Apakah Andrea akan marah jika aku mendatangi kamarnya?


Aku merindukan kamar ini, kamar di mana aku dan Andrea biasa saling tidur sambil berpelukan dan saling menghangatkan.


Sejenak Reyhan nampak ragu untuk masuk, walau kini ia sudah berdiri tepat di depan pintu kamar. Dengan sedikit ragu, akhirnya Reyhan memberanikan diri untuk masuk.


Setelah kini ia berada di dalam kamar, Reyhan tak mendapati sang istri ada di ruangan kamar. Karena saat itu pintu belum ia tutup sepenuhnya, kemudian Reyhan pun menutup pintu kamar.


Dari balik ruang ganti baju yang menjadi satu dengan kamar, Andrea sepertinya mendengar suara pintu sedang di tutup.


"Bik, kau kah itu." tanya Andrea dari dalam bilik ruang ganti.


"Tolong Bik, bantu aku resleting kan gaun ku. Aku kesulitan untuk meresletingkan gaun ini." tutur Andrea dari dalam bilik ruang ganti.


Sebuah gerakan tangan nampak bergerak dengan lembut meresletingkan gaun hamil Andrea yang bermodelkan, ber resleting di bagian belakang.


"Terimakasih kasih Bik," ucap Andrea, yang kemudian ia menengadah ke arah kaca. Begitu ia melihat pantulan wajah yang ada di kaca itu yang berdiri tepat di belakangnya membuat Andrea kaget.


"Rey, apa yang kau lakukan di sini."

__ADS_1


"Membantu meresletingkan gaun mu." jawab Reyhan enteng sambi tersenyum manis.


__ADS_2