Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Demi Anak


__ADS_3

Setelah berbagai pendekatan dan usaha yang Reyhan lakukan untuk meluluhkan hati Andrea belum juga membuahkan hasil. Kini Reyhan hanya bisa pasrah. Akan tetapi ia tetap tidak akan mau menceraikan istrinya itu. Terlebih sekarang sang istri tengah mengandung lagi.


Dan malam itu, adalah malam terakhir Reyhan berada di New Zealand. Esok siang ia harus sudah kembali ke Indonesia.


Dan malam itu Reyhan memohon pada Andrea untuk mau di ajak makan malam di luar bersama sang putri. Dan akhirnya, Andrea mau untuk di ajak makan malam di luar.


Isabella pun sangat girang, ketika akan di ajak makan malam oleh orang tuanya. Dan Bella nampak bersemangat.


Sepanjang bersiap siap untuk makan malam, Isabella yang kini di bantu Andrea mengenakan baju berceloteh ria saking bahagianya.


Dan hal itu membuat perasaan dan hati Andrea terunyuh. Isabella memang sangat sayang pada Daddy nya. Dari kecil putri nya itu memang sudah sangat dekat dengan Reyhan. Dan tak di pungkiri, Reyhan pun juga sangat sayang dan memanjakan anak pertama nya itu.


"Bella, maaf kan Mommy, jika suatu saat nanti Mommy dan Daddy tidak bisa bersama sama lagi. Saat ini kau tidak perlu tau apa yang sudah terjadi dengan Mommy dan juga Daddy. Karena kamu tidak perlu tau juga tentang masalah orang dewasa." ucap Andrea dalam hati.


"Mommy dan Daddy akan selalu membuat kamu bahagia. Tidak perlu kamu tau drama yang sudah Mommy dan Daddy lalui. Dan Mommy yakin sayang, kamu dan juga calon adik mu akan baik baik saja walau tidak ada Daddy di sisi kalian setiap saat. Kalian akan tumbuh dengan baik. Mommy pastikan, kalian tak akan kekurangan kasih sayang serta cinta dari Daddy kalian. Walau Mommy telah memutuskan untuk berpisah dengan Daddy. Tapi Mommy janji, kalian akan tetap bisa berkomunikasi dengan Daddy kalian dengan bebas." ucap Andrea lagi dalam hati, ketika ia sedang menyisir rambut panjang Isabella.


"Bagaimana, apa kalian sudah siap?" tanya Reyhan sesaat setelah ia memasuki kamar Isabella.


"Kita dah siap Daddy. Ayo kita berangkat!" seru Bella bersorak bahagia. Dan Andrea pun hanya menghela napas berat, ketika melihat betapa dekatnya sang putri dengan Reyhan. Dan tawaran acara makan malam ini pun Andrea terima karena demi sang putri kesayangannya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Di sebuah restoran steak yang terkenal di kota Wellington, di sanalah Reyhan, Andrea dan juga Bella menikmati makan malam keluarga mereka. Baik Andrea dan juga Reyhan nampak kompak menunjukan pada Bella bahwa mereka terlihat akrab. Momentum itu di manfaatkan oleh Reyhan untuk terus berbicara banyak hal. Dan mau tak mau Andrea pun harus menimpali berbagai macam perbincangan mereka kala itu.


Keluarga itu nampak bahagia, nampak penuh kehangatan dan juga cinta. Padahal sesungguhnya Andrea masih menyimpan rasa sakit hati dan kekecewaan yang mendalam terhadap sang suami.


"Bell, kau ingin adik perempuan atau laki laki? tanya Reyhan pada sang putri.

__ADS_1


"Aku ingin adik laki-laki Dad. Sepertinya asik punya punya adik laki-laki. Aku akan main boneka sama Mommy, dan Daddy bisa main bola dengan adik Bella nanti, aku ingin adik laki-laki." ucap Bella semangat.


"Daddy setuju, di hari libur kita akan pergi piknik, naik mobil berempat. Lalu kita akan mengelar tikar dan kita duduk berempat di sana. Sambil duduk santai menikmati kue, sandwich atau sosis bakar. Itu hal yang menyenangkan yang bisa kita lakukan nanti ya Bell," Reyhan berucap dengan penuh semangat.


"Aku jadi tidak sabar dia ke luar dari perut Mommy," imbuh Isabella.


"Belum saat nya Bell, sekarang saja perut Mommy belum terlihat besar. Nanti kalau Perut Mommy dah besar, baru nanti adik keluar." tutur Reyhan menjelaskan


Andrea yang sejak tadi hanya mendengarkan perbincangan ayah dan anak itu hanya diam saja. Tapi sebenarnya Andrea sedang memikirkan sesuatu.


"Bell, di sana ada Playground. Jika kau mau kau bisa main ke sana." ucap Andrea sambil menunjuk ke arah mini Playground yang terdapat di restoran itu. Dan Bella pun kemudian berlari dengan riang menuju Playground tersebut.


"Hati hari main nya sayang." ucap Reyhan berpesan pada sang putri.


"Siap Daddy."


"Mau aku potong kan?" tawar Reyhan pada Andrea, saat Andrea nampa kesulitan memotong daging steak miliknya.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri Rey." jawab Andrea dingin. Tetapi tangan Reyhan sudah meraih piring Andrea. Lalu ia memotong motong kan daging steak itu menjadi bagian kecil kecil.


"Saat kau makan steak, aku selalu memotong kan daging steak nya untuk mu kan," tutur Reyhan sambil menyunggingkan senyumnya.


"Rey, jangan berikan Bella harapan harapan yang membuat dia menagihnya suatu saat nanti." tutur Andrea.


"Harapan harapan apa maksudmu Dea?" tanya Reyhan bigung.


"Seperti tadi. Kau memberikan dia imajinasi tentang liburan bersama keluarga. Padahal kita saat ini dalam proses bercerai. Aku tidak ingin membebani pikiran anak anak kita dengan berbagai gambaran yang indah-indah. Jika pada akhirnya, kita akan berpisah. Itu akan menyakiti mereka."

__ADS_1


"Kita tidak akan bercerai Andrea." ucap Reyhan tegas, penuh penekanan.


"Bukan kau yang menentukan. Aku yang menggugat mu." balas Andrea, menatap dengan tatapan serius kearah Reyhan. Sesaat mereka saling menatap dengan pandangan angkuh. Kemudian Reyhan mengalah, dan melembutkan tatapan tajam nya.


"Aku tau kesalahan ku sangat besar. Bahkan mungkin itu kesalahan terbesar yang tak termaafkan oleh mu. Tapi pikiran anak anak Andrea. Aku tidak ingin di pisahkan dengan anak anak ku. Aku ingin bersama mereka siang dan malam. Membacakan buku cerita untuk mereka, membuatkan mereka susu dan mengamati setiap perubahan anak anak kita. Jika kita tidak satu atap lagi, bagaimana aku bisa melihat mereka tumbuh setiap harinya?" keluh Reyhan.


"Lalu bagaimana dengan ku Rey, kau pikir aku tidak trauma. Aku melihat dengan mata ku sendiri bagaimana kau dengannya begitu mesum di Penthouse waktu itu. Aku menemukan alat kontrasepsi di laci kerja mu, dan aku juga pernah mendapati dia tidur di ruangan kantor mu. Kau egois Rey, kau hanya memikirkan diri mu saja, tapi kau tidak tau bahwa aku mengalami trauma yang dalam di hati ku." ucap Andrea terlihat emosi.


"Permisi, aku mau ke toilet dulu." ucap Andrea dengan mata yang sudah memerah.


"Andrea," pangil Reyhan, tapi Andrea tak menggubris, ia tetap melangkah pergi.


"Sial, harusnya aku bisa lebih mengontrol diri dan juga memahami guncangan hatinya." ucap Reyhan lirih, merutuki sikapnya yang kurang sabar.


"Daddy!" seru Bella memangil.


Kemudian Reyhan berjalan mendekati sang putri yang masih berada di Playground itu.


Di dalam mobil menuju kembali ke rumah, Andrea hanya diam saja. Bella tertidur di kursi belakang. Reyhan yang saat itu sedang menyetir pun sama diamnya.


Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah sampe di halaman rumah. Saat Andrea ingin keluar dari mobil, Reyhan menahan Andrea dengan memegang pergelangan tangannya.


"Dea, aku minta maaf. Aku minta maaf telah mengukir luka di hati mu. Ya, aku akui, tadi aku sudah bersikap egois. Tidak memperdulikan perasaan mu. Tapi aku jujur Andrea, aku menyesal. Dan aku takut kelihatan kalian semua. Apa lagi saat ini kau sedang hamil lagi. Aku ingin di samping mu. Aku ingin memperhatikan mu selama masa kehamilan. Aku sayang kalian semua." tutur Reyhan dengan nada suara lembut.


"Bawa Bella langsung ke kamarnya. Aku mau istirahat." jawab Bella, ia tak menanggapi ucapan Reyhan. Kemudian Andrea keluar dari mobil dan langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Tanpa peduli lagi dengan Reyhan dan juga Isabella yang masih berada di dalam mobil.


Reyhan pun merasa semakin tersudut. Tapi dia tidak akan menyerah untuk tetap bisa mempertahankan pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2