
Siang itu bersamaan dengan makan siang, Reyhan bersama Syanala sedang meeting bersama klien penting di sebuah Lounge hotel.
Meeting kala itu juga di hadiri Metthew Wilson, sebagai pelaku rekan bisnis Reyhan. Meeting membahas tentang rencana pembangunan Hotel berbintang yang akan di bangun di kota Santorini Yunani.
Reyhan memilih mengandeng Metthew sebagai rekan bisnisnya. Karena Metthew sudah lebih dulu sukses dalam bidang properti. Bahkan duda kaya itu sudah mendirikan beberapa jaringan hotel berbintang yang kini sudah tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Kesuksesan Metthew membuat Reyhan sebagai pemegang tender pembangunan hotel, mengandeng Metthew untuk menjalankan bisnisnya.
Setelah pembahasan rapat kala itu selesai, kini hanya tingal Reyhan, Syanala dan juga Metthew yang masih berada di ruang Lounge hotel tersebut. Mereka bertiga masih sibuk mengecek beberapa dokumen yang sudah saling di tandatangani oleh beberapa pemegang saham yang lainnya. Baik Reyhan, Syanala dan juga Metthew masih mendiskusikan hasil meeting dan kesepakatan mereka tadi.
"Sekertaris mu cantik sekali Rey, boleh dong dekatkan aku dengannya." bisik Metthew pada Reyhan.
"Dia sudah punya pacar." jawab Reyhan juga dengan berbisik.
"Dari mana kau tau dia sudah punya pacar?" tanya Metthew lagi.
"Ya aku tau saja. Carilah yang lain, jangan dia. Buat apa kekayaan mu melimpah tapi kau tidak punya pendamping hidup, kau payah men," sindir Reyhan sambil terkekeh lirih.
"Permisi, aku izin sebentar ke toilet." ucap Nala pada Reyhan dan juga Metthew.
"Iya, hati hati Nala," ucap Reyhan.
"Kau tampak perhatian sekali dengan sekertaris mu," tanya Metthew pada Reyhan, yang nampak sedikit curiga dengan gesture tatapan mata Reyhan pada Syanala.
"Tentu saja aku perhatian, dia sekertaris ku. Dan jujur saja, Nala itu cerdas, pintar melobi klien. Berkat kecerdasannya dan penguasaan dia di lapangan, aku terbantu mendapatkan tender proyek itu. Makanya aku membelikan dia Penthouse sebagai hadiah untuk nya." tukas Reyhan. Tapi sesaat kemudian Reyhan nampak menyesali keteledorannya saat berucap. Seharusnya dia tak perlu memberitahukan itu pada Metthew.
"Sial," umpat Reyhan dalam hati.
__ADS_1
"Oh, jadi kau membeli Penthouse waktu itu salah satunya juga untuk diri nya?" ucap Metthew nampak kaget.
"Wow prestisius sekali hadiahnya." ucap Metthew sambil menaikkan ke dua alis nya, merasa tajub karena seorang bos memberikan hadian Penthouse mewah untuk seorang sekertaris.
"Sutttttt, tapi jangan pernah katakan ini pada Andrea. Karena Andrea tidak tau." Reyhan berucap pada Metthew dengan tatapan serius.
"Tenang bro, aku bukan pria pengosip. Tapi, kau tidak sedang ada afair dengan Syanala kan?" tanya Metthew to the point.
"Tidak," jawab Reyhan berbohong setelah sekitar detik berfikir.
"Bagus, jangan sia sia kan wanita sempurna seperti Andrea bro. Dia itu wanita impian semua pria, termasuk aku." ucap Metthew, kemudian tertawa.
"Aku hajar kau sampe babak belur jika berani mendekati Andrea." ancam Reyhan bercanda.
Dan perkataan Metthew tak khayal membuat Reyhan termenung. Karena dia memang sudah mengkhianati Andrea. Dia sudah menduakan Andrea. Bahkan sudah banyak berbohong pada istrinya itu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di ruang kerja nya, di kantor. Andrea sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi. Perasaan gelisah dan tidak tenang di rasakan oleh Andrea semakin kuat. Dugaan perselingkuhan suaminya dengan Syanala selalu mencuat dalam pikirannya. Gambaran demi gambar expresi Nala dan juga kejadian ruangan kerja di kunci dari dalam oleh Reyhan kembali berputar putar di mata nya.
Tak tahan dengan semua hal yang kini membuatnya jengah. Andrea nampak menghubungi seseorang.
"Den, bagaimana penyelidikan mu. Apa kau sudah mendapatkan sesuatu yang bisa kau tunjukkan pada ku?" tanya Andrea pada Deniz, orang kepercayaan Andrea.
"Aku sudah mendapatkannya. Tapi berikan aku waktu 1 kali 24 jam lagi agar Nyonya mendapatkan informasi yang tepat, akurat dan lengkap beserta dengan seluruh bukti nya." jawab Deniz berucap lewat sambungan telepon pada Andrea.
__ADS_1
"Tapi setidaknya berikan aku satu saja jawaban, dan pastikan ini adalah benar. Apakah perempuan yang bersama suamiku selama ini adalah Syanala, sekertaris nya?" tanya Andrea yang sudah tidak sabar lagi ingin tau siapa sebenarnya wanita yang sudah di cintai oleh Reyhan, selain dirinya.
"Benar Nyonya. Perempuan itu memang dia, perempuan itu Syanala Arunika. Mereka tidak hanya menjalin hubungan spesial Nyonya, tapi mereka sudah menikah siri." jawab Deniz lugas.
Bagaikan di sambar petir, tubuh Andrea langsung lemas. Bahkan Andrea sempet terhuyung dan ia kemudian berpegangan erat pada meja kerjanya.
"Selidiki terus Den, aku butuh informasi dan bukti yang lebih jelas lagi." perintah Andrea pada Deniz.
"Siap Nyonya."
Setelah mendengar kepastian tentang kebenaran dugaannya. Andrea duduk di kursi nya dengan tatapan kosong. Kemudian pandangan kini tertuju pada foto keluarga yang ia pajang di meja kerjanya. Yang mana di dalam foto itu ada dirinya, Reyhan dan juga Bella. Andrea menatap dengan fokus foto tersebut, dan yang menjadi ke fokusnya netra nya bukan dirinya atau Bella. Melainkan netra nya memandang fokus pada gambar sang suami, Reyhan.
"Aku tidak menyangka, kau ternyata brengsek sekali Rey." ucap Andrea dengan napas yang sudah tak karuan deruan nya. Nafas yang menyesak kan hati, pikiran yang sudah terbakar, kilatan amarah yang mulai tercipta, dan emosi yang tertahan. Semua itu Andrea rasakan dalam satu waktu kala itu.
Tak bisa lagi menahan luapan emosi nya, Andrea kemudian berdiri dari tempat duduknya. Ia kemudian beralih berjalan mendekati jendela kaca di ruangannya. Andrea menyapukan pandangannya ke arah luar gedung. Dimana saat itu hujan tengah turun dengan sangat derasnya. Bahkan, kilatan cahaya guntur nampak sesekali terdengar menggelegar.
Kini air mata Andrea sudah jatuh tak tertahankan lagi. Dia merasakan sedih yang begitu dalam. Kesetiaannya selama ini ternyata hanya di permainkan oleh Reyhan. Dan bahkan ia tak percaya jika Reyhan bisa setega itu mengkhianati dirinya.
Setelah ia menangis sambil menahan luapan emosi, kemudian Andrea berjalan keluar ruangan. Andrea tidak peduli jika tangisannya kini sedang menjadi tontonan semua karyawannya.
Andrea terus melajukan langkahnya menuju left. Setelah ia kini berada di dalam lift, kemudian ia menekan tombol ke lantai gedung paling atas. Tujuan Andrea saat ini adalah ia ingin berada di rooftop gedung.
Sesampainya di rooftop, Andrea langsung berlari kearah area terbuka di rooftop gedung tersebut. Andrea sengaja membiarkan dirinya terkena air hujan. Andrea tidak peduli dengan kilatan cahaya petir kala itu, dia tak peduli tubuhnya basah kuyup. Hujan deras yang mengguyur dirinya seolah olah menjadi meditasi yang bisa membuat hati dan jiwa nya tenang. Air mata nya kini kian mengucur bersamaan dengan derasnya hujan.
Andrea merasa hancur, marah, dan kecewa.
__ADS_1