Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Cinta Yang Melukai Ku


__ADS_3

Andrea POV


Diri ku terbelalak kaget, ketika netra ini menangkap sosok yang tidak asing sedang mandi di bawah guyuran air shower di kamar mandi. Seseorang itu adalah Reyhan.


Ingin sekali aku memutar tubuh ku dan segera melenyapkan diri dari hadapannya saat ini. Tapi apa daya, mual yang aku rasakan kian menyeruak dan membuat ku tak tahan untuk tidak memuntahkan isi perut yang sudah aku tahan sejak tadi.


Dan akhirnya, aku menghambur ke closet, dan memuntahkan semuanya di sana.


Ketikan aku sedang berjuang dengan rasa mual yang kini kian menyiksa, sebuah uluran tangan terarah memegangi rambut ku yang tergerai. Menyibakkan kebelakang. Reyhan memegangi rambut ku dengan satu tangannya. Dan tangannya yang lain nampak memijat tengku ku. Sentuhan tangan nya yang mengenai kulit di sekitar leher membuat aku bergidik.


Setelah berjuang beberapa saat mengeluarkan semua isi perut, kini aku merasa lemas sekali.


Dan dengan sigap Reyhan memegangi ke dua pundak ku. Tapi aku menepis sentuhannya di pundak ku.


"Aku hanya membantu mu, Dea. Apa kau sudah lebih baik?" tanyanya dengan nada suara penuh dengan kekawatiran. Dan aku tidak mau mengubrisnya. Ia berdiri tepat di depan ku dengan melilitkan handuk di seputar pinggang. Dadanya masih telanjang dan rambutnya juga masih basah. Bahkan rambutnya yang masih basah itu nampak menetes netes jatuh ke wajahnya.


Sekilas tadi aku melihat wajahnya. Namun kini aku sengaja membuang muka dan menghindari tatapanya.


Setelah aku bisa merasa sedikit lega dan tenang, tanpa mengubrisnya, aku berlalu dari hadapan Reyhan dan meningalkan dia di kamar mandi.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Ma, bagaimna dia bisa berada di kamar ku?" Tanya ku pada Mama mengintrogasi. Mama terlihat tersenyum, sepertinya Mama sengaja tidak memberi tau pada ku tentang kedatangan Reyhan hari ini.


"Kamu ini bagaimna sih Dea, harusnya kamu senang kan. Suami mu mengunjungi mu. Kenapa kau malah terlihat tidak bersemangat?" Tanya balik Mama, yang nampak sibuk menyiapkan makan malam di meja makan. Dan aku pun tak bisa bertanya apa apa lagi, kecuali hanya bisa pasrah. Karena aku tetap dalam prinsip ku, aku tidak ingin memberi tau masalah rumah tangga ku yang di ambang perpisahan ini pada Mama dan juga Papa.


Aku akan memberi tau semua masalah ku pada mereka jika semuanya sudah bisa aku selesaikan dengan baik. Karena aku pikir, tak ada gunanya Mama dan Papa tau tentang persoalan rumah tangga ku. Terlebih aku sudah mengambil keputusan untuk berpisah dengan Reyhan dengan cara baik baik.


Hubungan keluarga yang amat dekat antara keluarga besar ku dan keluarga besar Reyhan amatlah kental. Sejak dulu kami bertetangga sampai pada akhirnya aku dan Reyhan menikah. Hubungan itu masih terjalin erat dan dekat. Mama sudah anggap Reyhan seperti anaknya sendiri. Mama sangat menyayangi Reyhan. Dan begitu pula diri ku di keluarga Reyhan. Ibu dan Ayah nya Reyhan juga sangat sayang pada ku.


"Hai, kok malah bengong. Pangil suami mu. Makan malam sudah siap!" seru Mama dan seketika membuyarkan lamunanku.


"Dimana Bella?" tanya ku pada Mama.


"Dia ada di ruang perapian, sejak pulang dari peternakan tadi, Opa nya langsung mengajak Bella bersantai di ruangan tengah. Kata nya ada cerita baru yang siap untuk di dongengkan untuk Bella."

__ADS_1


Kemudian aku bergegas menuju ruang perapian. Mau tak mau aku harus memberi tau Bella bahwa Daddy nya ada di rumah ini. Pasti dia senang sekali. Beberapa Minggu ini dia selalu menanyakan Daddy-nya. Bahkan tiap mau tidur, Bella selalu memberondong ku dengan pertanyaan tentang Daddy-nya itu. Walau bagaimanapun, Reyhan tetaplah Daddy nya. Aku tidak bisa memberikan kesan jelek tentang Reyhan pada Isabella.


Ruang perapian



"Bell, Mommy ada kejutan untuk mu?" ucap ku pada Bella, ketika itu Bella sedang asik membaca buku bersama Papa di ruang perapian.


"Kejutan apa Mommy?" Tanya Bella nampak begitu penasaran.


"Kau mau liat tidak kejutannya?"


"Mau Mommy." jawab Bella nampak begitu antusias.


"Kalau begitu, pergilah ke kamar Mommy. Kejutannya ada di kamar Mommy." ucap ku.


"Ayo, liat sana kejutannya" timpal Papa pada Isabella. Dan tanpa berfikir panjang, Bella kemudian berinsut dari sofa dan kini malah berlari menuju kamar.


Dan, tak berselang lama. Aku bisa mendengar jeritan suara Isabella yang melengking keras dari dalam kamar ku.


"Hai sweety honey!" seru Reyhan tak kalah nyaring dan sepertinya ia juga terkejut melihat kedatangan putrinya. Dan aku bisa dengar celotehan Bella yang tak berhenti saat ia bertemu dengan Daddy-nya. Aku rasa Ayah dan anak itu sama sama punya rasa rindu yang menggebu.


Apakah aku juga merindukan Reyhan?


Aku tidak tau. Yang jelas aku masih sakit hati terhadapnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Makan malam kali ini berlangsung riuh. Isabella duduk di samping Reyhan. Anak itu memunculkan kemanjaan nya pada Daddy-nya.


Aku hanya diam sambil sesekali mengerlingkan padangan pada Reyhan dan juga Bella yang begitu intim. Jika mereka sudah bersama, mereka seolah-olah sudah lupa dengan hal hal lain di sekitarnya. Bella memang sangat dekat dengan Reyhan. Anak itu bahkan lebih terlihat dekat dengannya dari pada aku.


"Kau tampak senang sekali Bell, Daddy dayang." ucap Mama pada Bella ketikan kami sudah berada di ruang makan.


"Bella memang sudah sangat kangen dengan Daddy Oma. Daddy tingal lama ya di sini. Pokoknya Bella tidak mau kalau Daddy cuma sebentar," ucap Bella sambil menoleh ke arah Reyhan dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Hemmm. Bagaimna kalau Bella ikut pulang saja sama Daddy. Jadi kita kembali ke Indonesia sama sama. Bagaimana?" dan pernyataan Reyhan membuat aku marah dalam hati. Memangnya kini siapa dia, main atur atur. Apa dia tidak sadar, jika saat ini aku dan dia dalam proses perceraian. Seketika aku melancarkan protes dengan menatap tajam ke arah Reyhan. Sedangkan Reyhan sendiri malah membalas ku dengan tersenyum.


"Aku setuju Daddy. Aku mau pulang bersama Daddy." ucap Bella bersemangat.


"Kalau begitu ajak Mommy ya."


"Bell, habiskan makanan mu. Dan pergi tidur!" perintah ku pada Bella.


"Iya Mommy. Nanti Daddy ceritakan aku dongeng ya." celoteh Bella, lagi lagi ia hanya fokus pada Reyhan. Dan hal itu membuat ku pusing.


"Reyhan, Mommy masakan sup daging domba kesukaan mu. Dan ada steak daging domba juga. Cobalah!"


"Makasih Ma. Tidak usah repot-repot Ma."


"Dea, layani suami mu. Ambilkan sup daging domba yang tadi Mama buat." Apa- apaan Mama ini. Malah menyuruh ku melayani Reyhan.


"Ma, aku mual begitu mencium bau sup nya." ucap ku beralasan.


"Tidak boleh begitu sayang. Suami sudah datang jauh jauh masa kamu tidak mau meladeni. Hanya mengambil kan sayang."


Dari pada Mama banyak ceramah, akhirnya aku mengambilkan satu mangkuk sup daging domba yang mama buat untuk Reyhan.


"Jika di Indonesia kau di layani para ART di sini kau semua kau kerjakan sendiri. Itu rule, tapi untuk suami, kita harus tetap melayani. Bukan begitu kan Papa," ucap Mama yang kemudian menoleh ke arah Papa.


"Ya, betul." ucap Papa membenarkan.


Dan lagi lagi aku pun kalah. Akhirnya aku berdiri dari kursi duduk ku. Mengambilkan semangkuk sup untuk Reyhan.


"Terimakasih sayang." jawab Reyhan pada ku. Saat kini, sup itu sudah ada di hadapannya.


Sup daging domba



Makan malam

__ADS_1



__ADS_2