
Siang itu Reyhan nampak terlihat segar. Sedangkan Andrea sendiri terlihat seperti kurang tidur. Bagaimana tidak, mereka melakukannya tidak cuma sekali, melainkan beberapa kali.
Dan terakhir adalah pagi ini saat mereka hendak membersihkan diri. Andrea dan Reyhan kembali saling memberikan kenikmatan satu sama lain di bawah guyuran air shower di kamar mandi hotel. Dan itu menjadi pergumulan panas untuk yang terakhir kali bagi mereka setelah hampir 10 tahun bersama sebagai pasangan suami istri.
Dengan mengunakan kain syal yang ia lingkarkan di seputaran lehernya. Andrea dan Reyhan kini sedang menikmati sarapan pagi yang sudah telat di restoran yang ada di hotel itu.
"Mau kopi, kau terlihat pucat." Reyhan menawarkan kopi untuk Andrea.
"Tidak terima kasih. Tapi susu segar boleh." jawab Andrea yang nampak sibuk dengan ponselnya.
"Aku sudah menelpon orang rumah. Isabella dan Alden baik baik saja. Jangan kawatir kan mereka."
"Tapi aku siang ini harus kembali ke rumah Rey. Ada urusan penting yang harus aku kerjakan. Harusnya hari ini aku mengadakan meeting di kantor. Tapi apa boleh buat, aku membatalkannya."
"Terimakasih untuk semuanya Andrea."
"Tidak perlu berterima kasih, aku sudah menjalankan kewajiban ku kan. Aku harap kedepannya, kita bisa tetap menjaga hubungan baik. Tentu saja bukan sebagai pasangan, tapi sebagai temen dan sebagai orang tua untuk anak anak kita. Setelah putusan cerai itu final, aku harap kita bisa saling menghargai Rey. Soal urusan pribadi kita sudah masing-masing. Kau bebas dan aku juga bebas."
"Aku akan menghargai itu."
"Good," jawab Andrea, kemudian ia fokus untuk menikmati makanan yang ia pesan. Saat Andrea sedang asik dengan makanannya, diam diam Reyhan memperhatikan wajah cantik Andrea. Ia nampak mengulas senyum bahagia. Masih jelas dalam ingatannya, bagaimana Andrea merancau sambil menyebut namanya.
"Kenapa Rey?" suara Andrea yang bertanya kepadanya seketika membuyarkan semua imajinasi nya tentang apa yang mereka lakukan semalam dan tadi pagi saat di kamar mandi.
"Tidak apa apa sayang. Habiskan makanan mu."
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
Sesuai menginap semalam di hotel, kini Andrea dan Reyhan dengan mengendarai mobil masing-masing siang itu akhirnya kembali pulang ke rumah masing-masing.
Andrea membelokkan mobilnya ke rumahnya sedangkan Reyhan juga berbelok ke arah rumahnya sendiri. Memiliki rumah saling berseberangan membuat Reyhan lebih mudah dan efisien waktu untuk tetap dekat dengan anak-anaknya.
Sekarang yang ada di pikiran Reyhan hanyalah anak anak nya. Hubungannya dengan Andrea yang sudah ia perjuangkan semaksimal mungkin untuk mempertahankan pernikahan rupanya tidak berhasil.
Andrea tetap dalam pendiriannya yaitu bercerai. Dan kini Reyhan sudah menerima dengan lapang keputusan sang istri, yang mana esok hari wanita itu sudah tidak lagi menjadi istrinya.
Begitu sampai di dalam rumah, Andrea langsung bergegas ke kamar anak anaknya. Pertama Andrea menemui bayi nya yang kini telah berumur 3 bulan. Ternyata baby Alden sedang tidur siang di tempat tidur box nya. Andrea tersenyum tipis saat melihat bayi laki-laki nya tertidur sambil menghisap jempol tangannya.
"Maafkan mommy Al, meningalkan mu semalam." ucap lirih Andrea pada baby Alden. Lalu ia membungkukkan badannya untuk bisa mencium kepala sang putra.
Setelah selesai mengecek baby Alden, kini Andrea beralih ke kamar Isabella. Ia ternyata sedang asik bermain boneka barbie dengan di temani salah seorang babysister khusus untuk menjaga Isabella.
"Hai Bell,"
"Mommy, mommy sudah pulang." celoteh Bella sambil menghamburkan diri kearah Andrea. Andrea pun merentangkan kedua tangannya dan mendekap putri cantiknya itu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Keesokkan harinya........
Kompak datang ke pengadilan, baik Andrea maupun Reyhan sepertinya sudah saling siap untuk menerima putusan final sang Hakim.
__ADS_1
Duduk dengan tenang di depan meja persidangan. Andrea dan Reyhan sama sama fokus dalam mendengarkan bacaan putusan sang hakim yang sebentar lagi akan di ketok palu.
Tanpa ada nya pihak keberatan ataupun penyangkalan, akhirnya hari itu juga jatuh talak cerai secara agama maupun secara negara pada Andrea Sahara.
Dan terhitung sejak hari itu Andrea dan Reyhan telah resmi bercerai. Untuk sesaat mereka nampak saling tatap. Reyhan menatap hampa pada Andrea, sedangkan Andrea menatap Reyhan dengan tatapan penuh kelegaan dan kemenangan.
"Selamat Andrea, kau bebas."
"Kau juga," jawab Andrea singkat saat di sapa oleh Reyhan ketika mereka sama sama baru keluar dari ruang sidang.
"Aku ada banyak urusan hati ini Rey. Jika kau tak sibuk hati ini, pulang lah awal dan temani anak anak di rumah. Mungkin aku akan pulang agak terlambat." Andrea berpesan.
"Jangan kawatir, setelah ini aku ingin pulang dan bersama anak anak di rumah."
"Good,"
Andrea pun kemudian bergegas berjalan menuju di mana mobilnya di parkir kan.
Mengendarai mobil nya sendiri, Andrea nampak beraura beda kala itu. Ada secercah perasaan kelegaan yang ia rasakan. Andrea sudah memutuskan sejak awal saat ia mengetahui suaminya mendua ia memilih untuk bercerai. Itu adalah bagian dari perlawanannya pada sang suami yang telah tega mengkhianati dirinya. Dan juga sebagai bentuk penolakan untuk tidak bisa berbagi suami dengan wanita lain dengan dalih poligami.
Karena Andrea bukan wanita sebijak itu dan bukan wanita setangguh itu untuk menerima sebuah kehidupan berpoligami.
Ayo mampir di novel pertama ku juga ni, no pelakor ngk kalah seru, kisah seorang Georgia Savanah Almeera yang menikah di usia muda dan harus kehilangan suami nya dalam waktu singkat....asal muasal Metthew dari sini 🥰🥰🥰
__ADS_1