
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit. Kini Syanala dan juga Metthew akhirnya menempati salah satu apartemen milik Metthew di Jakarta.
Karena mereka masih dalam pemulihan, tidak mungkin mereka kembali ke Seattle Washington DC Amerika.
Kaki Metthew juga belum pulih. Untuk berjalan Metthew harus mengunakan kruk (alat bantu jalan) agar bisa seimbang.
Metthew tidak mempermasalahkan dirinya yang saat ini cidera. Tetapi ia lebih mengawatirkan Nala yang masih saja terlihat lebih banyak diam. Dia tidak akan bicara jika tidak di ajak bicara. Dan hal itu membuat Metthew khawatir.
"Nala, kamu jangan banyak bergerak dulu. Lebih baik kamu banyak badrest. Sudah ada pelayanan yang mengerjakan semua pekerjaan di sini." tutur Metthew memperingatkan Syanala yang pagi itu nampak terlihat mondar mandir membuatkan Metthew kopi dan sandwich untuk sarapan.
"Jangan kawatir sayang. Aku sudah lebih baik, aku hati hati kok." tutur Syanala lembut sambil mengukir senyum manis.
"Sudah jangan repot-repot melayani ku. Biarkan pelayanan yang melakukannya." ujar Metthew lebihnya keras lagi memperingatkan Nala. Tapi sepertinya Syanala tak mengindahkan peringatan Metthew.
"Sudah jadi, makanlah." ucap Syanala sambil meletakkan roti sandwich buatannya untuk sang suami. Karena sudah di buatkan sarapan oleh Nala dengan keras kepala. Metthew pun melahap sandwich itu sampai habis untuk membuat hati Nala senang.
"Terimakasih Nala, kau keras kepala sekali. Apa susahnya diam saja sih. Lain kali kau tak perlu lakukan ini. Kau harus banyak istirahat." perintah Metthew tegas.
__ADS_1
"Jangan kawatir, setelah ini aku tidak akan membuat mu jengkel." kilah Nala kemudian tersenyum getir.
"Ada apa sayang. Apa yang kau pikirkan?" tanya Metthew yang melihat perubahan sikap Syanala yang tiba-tiba berubah murung.
"Tidak ada apa apa sayang." Nala kemudian meraih tangan Metthew yang ada di atas meja. Menggenggamnya dengan erat.
🌹🌹🌹🌹🌹
Syanala POV
Hari ini aku sengaja memanjakan Metthew lebih dari pada hari hari sebelumnya. Meski kondisi ku masih belum seratus persen pulih. Jika dia terlihat amat sangat mengawatirkan aku. Sebenarnya, aku lah yang terlebih sangat merasa tidak enak hati pada lelaki yang punya kebaikan hati sempurna itu.
Metthew adalah pria hangat. Selalu tersenyum, dan sangat mengasihi dan menghormati wanita.
Sikapnya yang lembut, perhatian dan gentleman membuat ia sebenarnya banyak di lirik oleh wanita. Entah kenapa dia malah justru mengejar-ngejar aku. Padahal ia tau, aku hanyalah wanita kotor. Aku bukanlah orang yang masih suci, terlebih aku adalah bekas istri siri sahabatnya, mas Reyhan.
Tapi entah kenapa, Metthew seolah-olah buta. Dan tetap kekeuh ingin menikahi ku walaupun aku saat itu sudah menolak nya.
__ADS_1
Aku sadar diri, aku ini siapa. Aku juga merasa tidak pantas bersanding dengan seorang Metthew Wilson. Pembisnis sukses, punya kekayaan yang melimpah dan sosok yang karismatik. Saat ia memilih ku, rasa rasanya ia telah menjatuhkan harga diri nya.
Katanya, alasan ia menikahi ku adalah karena ia ingin melindungi ku dan karena ia juga sudah tertarik dengan ku sejak lama. Tapi ia buta, aku ini siapa. Aku hanyalah barang bekas yang tidak berharga. Sudah aku jelaskan padanya aku tidak pantas untuk nya. Tapi dia tidak peduli.
Akhirnya, aku menerimanya. Kami menikah. Tau dia sudah sangat ingin menjadi seorang ayah, dan memiliki anak. Maka, keinginan ku begitu menikah dengannya adalah memberikan dia keturunan.
Seolah-olah semua berjalan mulus. Aku langsung hamil. Dua Minggu menikah dengannya Metthew, aku di nyatakan positif hamil oleh dokter dan saat tes dengan mengunakan alat tes kehamilan pun juga hasilnya positif saat itu.
Tidak bisa aku lupa bagaimana expresi wajah Metthew kala itu. Terlihat sangat bahagia. Bahkan ia membawa ku pergi dari Indonesia dan mengajak ku tingal di Amerika, yang alasannya salah satunya pasti karena ia ingin aku bisa menjalani hari-hari masa kehamilan dengan tenang. Dia ingin melindungi ku dari perasaan bersalah pada Mbak Andrea yang masih saja aku rasakan kala itu, bahkan sampai detik ini.
"Kamu mau mandi sekarang apa nanti?" tanya ku pada Metthew sore itu.
"Aku mandi sekarang saja. Aku sudah gerah." jawabnya.
"Kita mandi bersama-sama ya," pinta ku. Metthew nampak mengembangkan senyumnya.
Aku dah Metthew pun kemudian mandi bersama. Aku memandikan nya, mengeramasinya dan juga menyabun nya.
__ADS_1
Di bawah pancaran air shower yang mengucur hangat, kami tidak hanya sekedar mandi. Tapi juga bercumbu. Tapi aku belum bisa memberikan hak nya, karena aku masih dalam pemulihan. Kami hanya mandi bersama dan saling mencurahkan rasa cinta kami. Ia, aku sudah mulai mencintaimu Metthew Wilson.
"Maafkan aku Metthew, ini mungkin perhatian ku untuk yang terakhir kalinya untuk mu. Aku sekarang tidak lagi menjadi wanita sempurna seperti yang kau katakan. Aku tau keinginan terbesar mu menikah lagi adalah untuk memiliki keturunan. Maafkan aku, aku mungkin tidak bisa memberikan itu pada mu dengan cepat. Satu satu jalan agar kamu bisa mencari yang lebih baik dari ku adalah dengan aku meninggalkannya mu." batin Syanala di sela sela mereka masih berciuman di bawa guyuran air shower di kamar mandi.