
Sambil terus di papah dan di pegangi Reyhan, Andrea berjalan kesana kemari dengan pelan di dalam ruangan kamar VVIP nan exclusif di sebuah rumah sakit bersalin ternama di Jakarta. Dia sengaja berjalan jalan, untuk supaya lebih mudah mencapai pembukaan berikutnya.
Terakhir kali di cek dokter, Andrea masih dalam pembukaan empat. Yang artinya masih belum cukup untuk bisa memulai di lakukan nya proses melahirkan dengan cara normal.
"Jika kau sudah tidak tahan dengan sakitnya, kita operasi saja ya" pinta Reyhan yang nampak sudah tidak tega setiap kali melihat Andrea meringis kesakitan.
"Tidak. Aku tetap ingin melahirkan dia dengan normal." ucap Andrea tetap pada pendiriannya.
"Tapi aku tidak tahan melihat mu kesakitan begini Andrea." Reyhan berucap dengan raut wajah sangat cemas.
"Aku masih bisa tahan Rey. Aku menikmati rasa sakit ini." jelas Andrea sambil mengatur nafas nya.
"Aku sering melihat di film film, bagaimana perjuangan seorang ibu untuk melahirkan bayi nya. Dan sekarang aku merasakan nya sendiri. Rasa mulas seperti ini tidak di rasakan oleh ibu hamil yang memilih untuk melahirkan dengan cara Cesar. Bahkan mereka bisa memilih sesuai tanggal yang di inginkan jika mau melahirkan dengan cara operasi. Dan mereka tidak merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan saat ini. Tapi mereka akan merasakan sakit di bagian bekas goresan pisau operasi." celoteh Andrea di sela sela ia sedang menikmati rasa mulas yang tiba-tiba datang dan pergi itu.
"Aku berjanji pada mu Andrea. Aku tidak akan pernah menyakitimu setelah ini."
"Kenapa kau berkata begitu?"
"Karena aku hanya akan mencintai mu seorang. Hanya kau yang akan manjadi pendamping hidup ku selama aku hidup."
"Jangan berkata begitu Rey. Kau tidak akan pernah tau perjalanan hidup mu akan seperti apa kedepannya."
"Justru karena aku sudah melalui berbagai hal dalam hidup ku. Maka aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama sayang. Aku akan selalu membersamai mu."
Andrea nampak memejamkan mata nya, dan kemudian ia kembali meringis menahan sakit. Reyhan kemudian memeluk tubuh Andrea. Membelai belai punggung dan juga pinggang Andrea dari belakang.
__ADS_1
"Aku ingin duduk Rey."
Reyhan kemudian memapah Andrea untuk bisa duduk di sebuah sofa yang ada d ruangan itu. Lalu Reyhan berjongkok dan mengelus elus perut besar Andrea.
"Jangan buat mommy terlalu lama merasakan sakit nak. Ayo jagoan daddy, yang pintar ya keluarnya." ucap Reyhan berbicara ke arah perut Andrea, lalu ia melabuhkan kecupan dengan sangat lama ke perut bulat wanita yang tengah berjuang untuk melahirkan putra nya itu.
🌹🌹🌹🌹
Setelah menunggu sekitar 6 Jam, kini Andrea sudah berada di ruang khusus bersalin. Dengan di tangani langsung oleh dokter Karina dan beberapa perawat lain, kini Andrea siap untuk memulai proses melahirkan.
"Andrea, jangan tegang. Rilex, santai. Yang penting adalah atur nafas mu." ucap dokter Karina menasehati.
"Aku sudah sangat rilex Rin. Aku siap melahirkan dia. Rin, sepertinya dia sudah mau keluar." tukas Andrea sambil mengejan.
"Oke, good. Ayo mengejan dengan pelan, dan dorong dengan tenaga yang kuat dari dalam ya."
"Andrea, Kau bisa sayang. Ayo kau bisa." Reyhan bersuara lirik di samping wajah Andrea yang kini sudah berpeluh dengan keringat.
"Rey, eeeeeehhhhhhh." Andrea mengejan dengan sekuat tenaga sambi berpegang tangan pada Reyhan.
"Lagi Andrea. Sudah nampak bagian kelapanya. Atur napas mu. Ayo mengejan lagi." Dokter Karina berucap memberi semangat. Sambil terus memegangi tangan Reyhan erat erat Andrea pun mengejan lagi dan lagi.
"Kau bisa sayang ku. Kau bisa." ucap Reyhan sambil menyibakkan beberapa helai rambut panjang Andrea yang berantakan di sekitar wajah.
"Eeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhhh." Andrea kembali mengejan. Dan tak lama suara tangisan bayi pun mengema dengan keras di ruangan itu.
__ADS_1
"Oek...Oek....Oek....Oek....."
Begitu mendengar suara tangisan bayi itu, tubuh Andrea seolah melunglai. Tubuh Andrea seketika melemas. Tapi di lain sisi Andrea merasa sangat lega. Karena ia telah berhasil melahirkan sang putra seperti apa yang dia inginkan.
"Selamat Andrea, putra mu sudah lahir." ucap dokter Karina yang masih nampak sibuk mengurusi bayi yang baru saja lahir itu.
Andrea tidak bisa menjawab, saking ia sudah kehabisan tenaga, Andrea hanya bisa mengulas senyum penuh kebahagiaan.
"Selamat sayang, kau hebat." Reyhan kemudian mencium kening Andrea dalam dalam. Ia tidak tau harus berkata apa lagi. Ia seakan sudah kehabisan kata untuk mengungkapkan rasa bahagianya.
"Ini bayi mu Andrea. Metode skin to skin bagus untuk kalian berdua." lalu dokter Karina menaruh sang bayi yang belum ada namanya itu ke dada Andrea.
"Hi.... sayang. Liatlah diri mu." Andrea meneteskan air mata penuh haru saat pertama kali melihat bayi yang selama ini ia kandung.
Bersamaan dengan itu, Reyhan pun ikut memeluk dan mencium bayinya yang kini berada di dada Andrea.
"Hai sayang, senang berjumpa dengan mu." sapa Reyhan pada putranya.
"I Love You Andrea. I Love You." Reyhan berucap sambil melabuhkan lagi kecupan di kening Andrea.
"Terimakasih untuk membuat dia ada dalam hidup ku Rey. Terimakasih." jawab Andrea penuh makna.
__ADS_1
"Dia anugerah untuk kita berdua."