
Reyhan POV
"Andrea, bisa kita bicara?" Tanya ku pada Andrea saat ia baru saja keluar dari kamar mandi. Dan kini ia mengenakan gaun malam warna putih yang sangat anggun dan pas melekat di tubuhnya. Dan seperti biasa, parfum malam yang ia selalu gunakan selalu menyihir ku.
Hanya saja, untuk saat ini hubungan ku dengannya sedang tidak baik. Aku hanya bisa menikmati pemandangan indah di hadapan ku ini tanpa bisa bebas menyentuhnya.
Andrea terlihat sangat cantik dengan balutan gaun malam warna putih yang tertutup itu. Dan ia memang gemar mengoleksi gaun malam. Dari yang tertutup hingga terbuka modelnya. Dan sebagai suaminya, aku merasa bangga dengan wanita di hadapan ku ini.
Tapi aku sudah bertindak bodoh dan juga ceroboh. Aku kini baru menyadari, jika perasaan suka ku pada Syanala hanya sementara, dan juga hanya nafsu belaka.
Kini aku menyesal, telah menyakiti hati Andrea. Mahluk secantik dan seseksi ini, mana mungkin aku akan rela melepasnya.
"Kau mau bicara apa Rey?" Suara Andrea yang terdengar merdu, seketika membuyarkan lamunanku. Yang sejak tadi membuat aku berimajinasi dengannya.
"Bisa kita duduk dulu, di sopa itu?" ucap ku sambil menunjuk ke arah sofa yang ada di kamar.
Dengan langkah gemulai, Andrea melalui ku. Desiran udara yang terlewati olehnya membuat ku membeku. Sampai sampai aku menelan saliva ku dengan susah payah.
Ingin rasanya aku memeluknya. Tapi aku sadar diri. Aku tidak mau mempermainkan perasaannya yang sedang marah terhadap ku. Bagaimanapun aku sadar, aku telah berbuat salah yang teramat besar terhadapnya.
"Katakan pada ku, apa tujuan mu datang kemari?" tanya Andrea yang kini sudah duduk di sofa single, dan aku duduk di sofa yang pajang.
"Aku ingin minta maaf terhadap mu Andrea. Tujuan ku ingin mengemis permintaan maaf dari mu. Dan aku ingin kau cabut gugatan cerai itu." Andrea menatap ku dengan tatapan tak bersahabat.
"Jadi kau ingin aku berubah pikiran. Lalu memaafkan mu, dan kita hidup bersama seperti dulu. Seperti seolah-olah tidak terjadi apa-apa?" tuturnya.
"Bukan begitu Andrea. Aku,"
__ADS_1
"Rey, hubungan kita sudah rusak. Kau paham itu." ucap Andrea memotong ucapan ku. Dan kini memandang ku dengan sorot mata penuh kekecewaan.
"Maaf. Aku salah, aku brengsek, aku memang pecundang. Tapi aku janji Andrea, aku tidak akan melakukan hal yang bisa membuat mu terluka lagi,"
"Aku sudah pernah memberikan diri mu kesempatan Rey. Tapi kau malah berbuat sesuatu yang menjijikkan di belakang ku. Kali ini kesalahan mu sungguh luar biasa. Dan aku tidak bisa memaafkan mu."
"Iya aku tau aku salah. Tapi, pikirkan anak yang saat ini ada dalam kandungan mu Dea." Dan kini aku liat Andrea nampak kaget saat aku tau dirinya sedang hamil.
"Dari mana kau tau saat ini aku sedang hamil?"
"Mama sudah menceritakan tentang kehamilan mu tadi, saat aku baru datang."
"Mama," Andrea kemudian tersenyum getir.
"Jika aku hamil kenapa? Masih ada ibu nya kan. Aku akan membesarkan dia, aku akan menjadi ibu untuk dua anak aku, Bella dan janin yang saat ini aku kandung." ungkap nya.
"Andrea, aku Daddy-nya. Aku juga berhak atas anak itu."
"Andrea aku serius. Aku sungguh minta maaf. Maafkanlah aku." kemudian aku berinsut dari sofa dan kini aku duduk bersimpuh di hadapan Andrea. Aku bersimpuh di dekat kaki nya di karpet. Aku meraih tangannya tapi ia menepisnya.
"Katakan apa yang harus aku lakukan untuk bisa membayar rasa bersalah ku Dea. Aku ingin memperbaiki hubungan kita lagi. Aku berjanji ini adalah kesempatan terakhir untuk ku. Ku mohon sayang." Andrea kini malah berdiri dan berjalan beberapa langkah menjauhi ku.
"Jika kau ingin tau apa yang bisa kau lakukan. Maka jawabannya adalah, tanda tangani surat gugatan perceraian itu. Maka kau akan ku maafkan." tutur Andrea, yang kemudian berjalan menuju pintu dan melangkahkan pergi meninggalkan kamar.
Dan, percobaan pertama malam ini untuk aku minta maaf gagal. Aku bisa melihat betapa Andrea sangat kecewa terhadap ku.
"Stupid." umpat ku untuk diri ku sendiri.
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi itu kami semua sedang sarapan pagi bersama. Lagi lagi Mama Anna sangat perhatian pada ku. Ada perasaan bersalah yang aku rasakan terhadap mertua ku. Bila saja Andrea bercerita tentang masalah rumah tangga kami, aku yakin Papa dan Mama tidak akan sebaik dan seperhatian ini sekarang.
__ADS_1
"Rey, Papa dan Mama pagi ini akan pergi ke pusat kota Wellington. Ada acara yang harus kami hadiri di sana. Jadi tolong jaga Andrea dan juga Bella." ujar Mama Anna, dan hal itu seperti sebuah kabar gembira untuk ku. Karena aku akan punya banyak waktu di rumah bersama anak dan istri ku.
"Ma, aku ikut ya." pinta Andrea.
"Kau ini, apa mau menyiksa janin mu. Saat ini saja kau sering mual dan muntah. Bagaimana kamu akan ikut. Kami akan naik bus ke sana. Sebaiknya kau di rumah, lagi pula ada Reyhan." Aku senang sekali Mama Anna ada di pihak ku. Kemudian aku layangkan pandangan ke arah Andrea. Dan sepertinya ia, kecewa. Apa sebegitu inginnya kau menghindari ku Dea.
🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah Papa dan Mama pergi, praktis hanya ada aku, Andrea dan juga Bella di rumah. Saat ini aku sedang bersama Bella di ruang tengah. Bella ingin di temenin menggambar bersama ku. Sedangkan Andrea berada di ruang kerja.
"Dad, aku lapar." tutur Isabella, kemudian aku liat jam. Dan memang kini telah tiba waktu makan siang.
"Tunggu sebentar ya sayang. Daddy pangil Mommy dulu." kemudian aku beranjak dari ruang tengah, berjalan menuju ruang kerja. Di mana Andrea saat ini berada.
"Sayang, waktunya makan siang. Bella bilang ia lapar, apa ada sesuatu untuk kami makan siang ini?" tanya ku pada Andrea yang tengah fokus di depan laptop nya.
"Kau saja yang urus Bella. Ada pasta di lemari pendingin. Tinggal panaskan." tutur Andrea sambil terus fokus di laptopnya. Tanpa sedikitpun menoleh ke arah ku.
"Kau juga butuh makan sayang. Ingat, kau sedang hamil anak kita." saat aku berucap (anak kita) barulah Andrea menatap ku.
"Oya, aku curiga pada mu Rey, apakah kau sengaja membuat aku hamil? Di saat aku mengancam untuk bercerai. Kau mengajak ku bercinta dengan paksa waktu itu. Aku masih ingat semua kejadian itu. Aku tidak lupa bagaimana cara mu memaksa ku. Jika kita bukan suami istri, apa yang kau lakukan pada ku waktu itu adalah tindakan pemerkosaan. Semua yang kau lakukan padaku di Penthouse itu kurasa kau sengaja melakukannya. Agar aku hamil dan kemudian aku akan berubah pikiran mengugat mu, begitukah?"
Aku hanya bisa termangu mendengar semua perkataan Andrea. Karena apa yang ia katakan adalah benar. Aku tidak mau kehilangan wanita yang telah membuat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya itu.
Wanita hebat yang telah memberikan aku seorang putri dan kini ia tengah hamil lagi mengandung anak ku yang ke dua.
"Ya, aku akui itu Andrea. Aku melakukan itu karena aku takut kehilanganmu. Dan aku tidak mau kehilangan dirimu."
Kini wajah Andrea berubah merah padam. Tidak hanya itu, kedua mata nya kini berkaca kaca. Kemudian dia berdiri dari duduknya.
"Brengsek kau Rey."
__ADS_1
Like dan komentarnya Bestie 🥰🤗💐👍♥️💝