
"Aku melihat Mommy dan Daddy semalam di tangga. Maaf jika aku tidak sopan." tutur Isabella pada Andrea saat mereka sedang berada di meja makan pagi itu untuk bersarapan.
"Kau mendengar semua yang Mommy dan Daddy bicarakan?" tanya Andrea penasaran.
"Ya," jawab Isabella singkat sambil menyedoki sereal nya. Mendengar itu, Andrea nampak bernapas panjang.
"Lalu apa yang kau pikirkan. Apa kau berfikir buruk tentang Mommy." tanya Andrea ingin tau.
"Entah," jawab Isabella kembali singkat.
"Kalau begitu, kau pasti sudah berfikir buruk tentang Mommy." pungkas Andrea.
"Mom, kau seorang ibu kan. Lalu buat apa kau pergi tengah malam, lalu kembali dengan mengenakan baju yang berbeda?" tanya Isabella penuh penekanan. Seolah Isabella sedang mengintrogasi ibunya sendiri. Dan hal itu membuat Andrea tercengang.
Andrea lalu mendengus dan tertawa kecil. Ia tidak habis pikir, jika Isabella akan mengintrogasi dirinya.
"Dengar sayang, Mommy semalam ke rumah Om Julian. Dia sedang berulang tahun, dan Mommy di undang untuk datang ke rumahnya. Om Julian kan calon suami Mommy. Jadi Mommy merasa tidak enak jika tidak datang. Dan soal kenapa Mommy ganti baju, itu karena semalam Mommy tercebur ke dalam kolam renang di rumah Om Julian. Lalu Mommy di berikan baju oleh Om Julian. Karena menurut Mommy baju itu terlalu terbuka, maka Mommy pijam kemeja Om Julian. Sudah jelas dan paham kan." jelas Andrea dengan sabar pada putrinya.
Bagaimanapun ia memang harus menjelaskan itu agar putrinya paham dan tidak salah tangkap. Apalagi Isabella sudah menuju masa masa pubertas. Masa masa di mana ia kan tertarik pada lawan jenis.
Setelah di jelaskan pajang lebar oleh Mommy nya, kini Isabella nampak berfikir. Kemudian ia kembali pada mangkuk sarapannya yang berisikan sereal dan susu segar.
"Entah Mom, aku masih belum paham. Aku mengira selama ini Mommy dan Om Julian pacaran. Aku hanya tidak suka jika Mommy hangout seperti anak anak remaja itu." ujar Isabella. Dan Andrea pun terkekeh mendengarnya.
"Bell's, kami bukan remaja. Mommy dan Om Julian sudah dewasa. Kami tau apa yang harus kami lakukan dan tau batasannya."
__ADS_1
"Boleh aku bertanya, tapi Mommy janji jangan marah," ucap Isabella fokus menatap Andrea.
"Mommy tidak akan marah. Bertanyalah."
"Apa Mommy benar-benar tidak ingin kembali sama Daddy Rey. Aku kasian pada Daddy, dia masih mencintai mu mom. Daddy pernah mengatakannya pada ku,"
Mendengar pertanyaan Isabella, membuat Andrea termangu. Apa benar, ia sudah tidak mencintai Reyhan lagi. Lalu perasaan berdebar macam apa itu, yang terkadang masih muncul di saat ia bersama Reyhan. Dan soal semalam, dirinya juga sangat takut jika Reyhan sampai salah paham saat ia mengenakan kemeja putih milik Julian.
"Mom," pangil Isabella pada Andrea, di saat Andrea malah sibuk dengan pikirannya.
"Mommy tidak membenci Daddy mu. Mommy juga tidak memusuhi Daddy mu. Mommy hanya sudah tidak bisa lagi bersama dengan Daddy."
"Bukan itu pertanyaan ku Mom, aku bertanya. Apakah Mommy sudah benar-benar tidak mencintai Daddy lagi?" tanya ulang Isabella.
"Tidak, Mommy sudah tidak mencintai Daddy mu lagi. Dan Mommy dengan izin mu, memilih Om Julian sebagai teman hidup Mommy selanjutnya. Kita sudah berdiskusi tentang ini kan Bell's."
"Rey, dari kapan kau sudah di sini." tanya Andrea, sesaat kemudian ia menoleh kearah Reyhan yang kedatangannya tidak ia sadari.
"Baru saja, aku sudah janjian dengan Isabella untuk berangkat bersama ke sekolah."
"Hai Dad, aku sudah siap. Tapi aku ke kamar sebentar ya. Ada barang yang tertingal." ucap Isabella, kemudian ia berinsut dari kursi di ruang makan lalu bergegas ke kamarnya untuk mengambil barang.
"Kau sudah sarapan?" tanya Andrea ramah.
"Aku sudah makan. Mana Alden, apa dia sudah berangkat?" tanya Reyhan sambil menarik salah satu kursi di ruang makan itu, kemudian ia duduk di sana.
__ADS_1
"Dia sudah berangkat bersama sopir dan babysister nya.
"Kau tidak ke kantor?" tanya Reyhan basa basi.
"Aku sedang malas, dan ingin bekerja dari rumah saja." jawab Andrea bersahabat.
"Kenapa bibir mu?" tanya Reyhan pada Andrea tiba-tiba.
"Memangnya kenapa?" tanya balik Andrea pada Reyhan dengan tatapan bigung.
"Hemm," desis Reyhan, kemudian ia tertawa kecil.
"Ini tergigit," ucap Andrea sambil menyentuh sudut bibirnya yang menjadi perhatian Reyhan.
"Itu bukan tergigit, tadi itu di gigit. Apa semalam kalian sepanas itu." sergah Reyhan dengan berani bertanya pada Andrea soal hal pribadi.
"Ini privasi ku, kau lupa. Aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu." jawab Andrea dengan defensif serta melayangkan pandangan tajam. Andrea tidak suka hal semalam di bahas lagi.
"Aku hanya ingin mengingatkan. Jika kalian memang sudah tidak bisa sabar lagi, kenapa kalian tidak segera menikah saja." balas lagi Reyhan dengan nada suara menyindir dan masih ngotot menyingung soal hal hal pribadi dan privasi.
"Cukup Rey, kau sudah buat aku marah sepagi ini." ucap Andrea akhirnya emosi dan berucap dengan nada suara agak tinggi.
"Hentikan obrolan tidak penting ini, antarkan saja anak mu ke sekolah." tutur Andrea, kemudian ia tanpa permisi langsung melegos pergi dari hadapan Reyhan. Dan langsung bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Reyhan sendiri yang masih duduk di kursi nya hanya bisa membeku di tempatnya. Ia lalu tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku sudah puas membuat mu marah Andrea. Dan sudah puas menyindir mu. Kita liat saja, seberapa serius kau sebenarnya dengan tunangan mu itu."
Double up 🥰 jgn lupa comen ya 🥰🥰🥰