
"Mett, jika kau mau, aku bisa memberikan mu masukan untuk bisa mendapatkan Syanala. Bukankah kau menaksirnya?" celetuk Reyhan saat mereka sedang bertemu di sebuah restoran cepat saji. Mendengar itu, Metthew terkekeh.
"Apakah kau kira aku seburuk itu dalam mengaet wanita, sampai harus belajar dari mu," kilah Metthew.
"Bukan maksudku begitu Mett, seingat ku, dulu kamu pernah naksir Syanala kan, aku hanya ingin membantu mu."
"Kau tak perlu kasian dengan ku. Justru aku lah yang kasian dengan mu Rey. Kau kembali ke dasar dari awal, hanya karena perempuan." ujar Metthew menyindir Reyhan terang terangan.
Dan hal itu membuat Reyhan tak bisa berkata-kata.
"Sebenarnya apa yang kau cari. Wanita atau hidup yang mapan dan nyaman. Padahal kau sudah mendapatkan dunia dunia itu Rey, aku saja iri dengan mu. Hidup mu sudah sempurna dengan di dampingi istri yang cantik, baik, sempurna, dan di tambah anak anak yang luar biasa. Itu semua sudah kau genggam Rey. Tapi sepertinya itu saja tidak membuat mu puas." ledek Metthew.
"Ingat Rey, Andrea itu menjadi incaran banyak pengusaha sekarang. Sejak perusahaan mu jatuh ke tangan istri mu sendiri, banyak yang berspekulasi bahwa rumah tangga mu sedang goyah. Dan aku pun ada dengar, perceraian mu juga telah sampai pada mereka. Hati hati Rey, kali ini jika kau tak serius meyakinkan hati Andrea. Kau akan kehilagan Andrea dan juga anak anak mu." ucap Metthew menasehati.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Mett."
"Jika aku bukan teman kalian, aku mungkin orang pertama yang akan mendaftar untuk menjadi calon suami Andrea berikutnya." cetus Metthew sambil tertawa. Reyhan sekilas tersenyum getir. Namun semua perkataan Metthew seakan telah menampar nya.
"Aku menyesali semuanya Mett. Aku benar-benar menyesal."
"Ambil lah pelajaran untuk apa yang sudah terjadi. Aku lebih suka hidup seperti ini, bebas. Semenjak istri ku meningal, aku tidak ingin main main dengan banyak perempuan. Padahal aku bisa saja melakukannya. Jika aku ingin, aku akan menikah dan membangun keluarga seperti mu. Tapi sayang nya aku belum menemukan yang tepat dan yang cocok dengan ku. Aku tipe pria setia, tidak seperti mu,"
"Sekarang aku sudah tobat. Aku tidak ingin mempermainkan kesetiaan Andrea."
"Apa kau yakin. Kau sudah tidak mencintai dia lagi kan, mantan istri siri mu itu."
"Sekarang wanita yang aku cintai hanyalah Andrea. Terhadap Nala, aku hanya kasih pada nya, tapi aku sudah tidak mencintai dia lagi. Apa yang sudah aku lakukan terhadap nya dulu hanya hasrat semata. Aku lebih ke kasian terhadap Syanala saat ini. Karena aku sudah membuat dia menjadi wanita yang, mungkin terhina."
"Menyesal memang selalu datang belakangan Rey. Sekarang kamu hanya bisa berharap jika Andrea mau menerima mu kembali. Karena sepertinya, itu akan sedikit sulit, walau juga tidak mustahil, tingal bagaimana usaha mu meyakinkan Andrea."
"Terimakasih sudah banyak membantu ku selama ini Mett. Hanya kau teman yang masih mau membantu ku."
"Kalian teman ku."
🌹🌹🌹🌹🌹
Malam itu di rumah besar. Andrea tengah menikmati makan malam sendiri an di ruang makan. Bagaimana tidak, kini ia dan Reyhan sedang menjaga jarak. Lebih tepatnya Andrea lah yang menjaga jarak. Sedangkan Isabella sengaja ia titipkan kepada orang tua nya di New Zealand.
Jika saat ini Isabella berada di rumah, pasti ia akan selalu menanyakannya Daddy-nya. Sedangkan Andrea sendiri belum siap untuk sering berinteraksi dengan Reyhan. Dirinya masih nyaman untuk menjauhi suaminya itu. Mengingat bagaimana hantaman kenyataan yang tak pernah Andrea duga jika suaminya akan berselingkuh dengan orang yang sudah ia anggap keluarga.
Menempatkan Isabella di New Zealand adalah bagian dari usaha Andrea menghindari Reyhan
__ADS_1
Jika Isabella di Indonesia, putri kesayangannya itu pasti akan terus-menerus menanyakan Daddy-nya. Dan tidak mungkin Andrea terus menerus membuat alasan Daddy-nya ada urusan kerja di luar kota atau ke luar negeri saat mendapati Daddy-nya sering tidak ada di rumah.
Andrea berfikir lagi. Cepat atau lambat Isabella harus mengetahui yang sebenarnya apa yang sudah terjadi antara diri nya dan juga Daddy nya.
Ia tidak bisa terus-terusan bersandiwara, berpura pura harmonis dengan Reyhan. Jika jauh di hatinya, peristiwa perselingkuhan itu masih bercokol dalam ingatan nya dan membuat hati nya perih.
Andrea sudah bertekad untuk mengakhiri rumah tangga nya bersama pria yang ia sudah kenal dari kecil itu.
"Padahal aku sudah mengenal mu sejak kecil Rey. Tapi ternyata kau belum juga mengenalku dengan baik. Hubungan kita saat ini tidak hanya soal cinta. Tapi ini tentang mental. Aku tidak mau hidup dalam bayang bayang skandal mu. Kau dan Nala bukannya orang asing untuk ku. Tapi kalian semua adalah orang terdekat ku. Di saat kalian sama sama menusuk ku dari belakang, penghianatan itu rasanya tak bisa ku lupakan dan tak bisa ku maafkan."
Andrea kemudian mengelus perutnya yang semakin besar. Ada kesedihan yang ia rasakan terhadap janin ia kandungan saat ini. Sedih karena sejak ia ada dalam kandungan Andrea tidak bisa memberikan kehangatan kasih sayang dari Daddy-nya yaitu Reyhan. Dan di lain sisi, ia juga sangat bahagia karena calon bayi yang ia kandung saat ini berjenis kelamin laki-laki. Yang memang sudah ia sangat harapkan jika ia berkesempatan hamil lagi.
"Mommy mencintai mu sayang. Tidak apa ya, kau tidak mendapatkan kasih sayang dari Daddy mu saat ini. Tapi kamu tidak akan kekurangan kasih sayang dari Mommy. Mommy sangat menyayangi mu. Mommy senang kau hadir dalam rahim Mommy, walau dalam kondisi Mommy tidak siap sebenarnya. Tapi Mommy percaya, kamu adalah anugrah dari Tuhan untuk Mommy. Mommy bisa melupakan rasa sakit hati itu nak, semua karena kehadiran mu. Kau ajaib, kau menakjubkan." Andrea berucap dalam hati sambil terus mengusap usap perutnya yang kini semakin besar.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Ada apa Rey," tanya Andrea pada Reyhan lewat sambungan video call. Saat itu Andrea tengah berselonjoran di tempat tidur, sambil bersandar di headbord tempat tidur.
"Kau sedang apa?" Reyhan bertanya lewat sambungan video call.
"Aku sedang beristirahat."
"Kau sudah makan?" tanya Reyhan nampak perhatian.
"Apa kau menginginkan sesuatu yang lain, mungkin camilan atau apa?"
"Aku sudah kenyang." jawab Andrea singkat.
"I Miss You Andrea, I Love You." ucap Reyhan terdengar sungguh sungguh. Sekian detik Andrea hanya diam saja tak menjawab. Tapi dari sebrang sana Andrea nampak memandangi Reyhan lewat camera ponselnya. Sedangkan Reyhan sendiri pun sama, memandang Andrea dengan tatapan penuh damba, memuja dan merindu.
"Kau sedang apa?" tanya Andrea kemudian, memecah kebisuan.
"Aku sedang mengerjakan membuat disain cafe yang klien pesan. Besok harus sudah jadi, makanya malam ini aku akan lembur."
"Kalau begitu kerjakanlah. Sudah malam, aku juga mau istirahat."
"Jangan terlalu cakep sayang. Ingat kamu sedang hamil, harus lebih penting menjaga putra ku di dalam kandungan mu." ucap Reyhan sambil mengembangkan senyum bahagia, dia selalu semangat jika sudah membicarakan soal kandungan Andrea.
"Dia putra ku," tutur Andrea.
"Dia anak kita, buah cinta kita." kata kata Reyhan membuat Andrea teringat saat terakhir kali mereka melakukan hubungan seksual. Reyhan memaksa nya waktu itu. Walau kini hasil hubungan itu telah menjadi janin yang bahkan berjenis kelamin laki-laki dan membuat Andrea bahagia. Akan tetapi Andrea tidak lantas melupakan apa yang sudah Reyhan lakukan pada nya juga.
__ADS_1
"Kau memaksa ku, kau ingat."
"Tapi kau juga menikmatinya kan." jawab Reyhan.
"Kau licik Rey." tuduh Andrea.
"Tapi kau adalah istri ku, aku suami mu sampai sekarang. Tidak ada yang salah dalam kejadian waktu itu. Dan kini liatlah, apa yang kita lakukan berbuah manis kan. Janin berjenis kelamin laki-laki, aku bangga pada mu, terimakasih kasih sekali lagi Andrea."
"Tapi kita akan tetap bercerai Rey. Kau jangan terlalu bahagia."
"Dan aku tak akan mau bercerai dengan mu. Aku akan lakukan apapun demi bisa mengagalkan recana mu."
"Aku penguguat nya, kita liat saja nanti. Jika saat ini aku masih bersikap baik tidak meneruskan gugatan, itu karena aku dalam keadaan mengandung."
"Jangan bicarakan perceraian Andrea. Aku sedang tidak ingin membahasnya."
"Tapi hakim bisa kabulkan gugatan ku, jika aku bisa meyakinkan hakim." ucap Andrea tegas.
Sesaat setelah mereka saling beradu argumentasi, Andrea dan juga Reyhan saling tatap dan saling diam dalam sambungan video call.
"Aku mencintaimu Andrea Sahara. Aku ingin kita tetap bersama. Mari kita besarkan anak anak kita bersama, aku ingin keluarga kita tetap utuh. Ampuni kesalahan ku sayang. Aku minta maaf," Reyhan berucap dengan nada suara sarat akan penyesalan yang dalam.
"Kau masih mencintai ku kan. Kau masih sayang dengan ku kan?"
"Cinta dan sayang ku terhadap mu kini sudah berubah Rey. Jangan memaksa ku untuk tetap mencintaimu."
"Aku bisa liat di mata mu Dea, kau masih menyimpan cinta itu untuk ku. Aku berjanji pada mu Andrea aku akan memperbaiki semua yang sudah aku hancurkan. Aku akan memperbaiki semua nya yang sudah aku rusak. Walau tak akan kembali sama seperti dulu, kita harus tetap bersama, demi anak anak kita. Demi Tuhan aku sayang kalian semua."
"Sudah malam Rey, aku matikan ya video call nya." ucap Andrea dengan nada suara letih.
"Jangan matikan sayang, biarkan tetap hidup, taruh ponsel mu di atas nakas dengan posisi kamera mengarah ke arah mu, aku ingin melihat mu tidur, nanti biar aku yang matikan sambungan telepon nya."
"Terserah kau Rey, tapi jangan harap kau liat wajah ku." tutur Andrea kemudian meletakkan ponsel di atas nakas yang ada di samping tempat tidur. Dengan memposisikan letak ponselnya menghadap ke arah diri nya."
"Seperti itu kan mau mu?" tanya Andrea kini dengan posisi berbaring.
"Ya sayang, seperti itu. Tidur lah, aku menjaga mu dari tempat ku berada."
"Good Night" ucap Andrea yang kemudian memiringkan tubuhnya membelakangi kamera ponsel nya.
"Good Night My Honey. My Sweet Heart."
__ADS_1
Metthew Wilson