
"Andrea, masuk sayang." Reyhan berucap sambil meraih tangan Andrea.
"Kenapa kau mengunci pintunya?" tanya Andrea dengan tatapan curiga pada Reyhan.
"Aku sedang membicarakan hal pekerjaan yang penting dengan Syanala. Jadi kami butuh waktu untuk tidak bisa di ganggu." ucap Reyhan berbohong.
"Masuk dulu sayang," Reyhan kemudian melingkarkan tangannya ke belakang punggung Andrea. Mengajak Andrea masuk ke dalam ruangan nya, di mana Syanala sudah berdiri gemetaran.
"Hai Mbak Andrea. Apa kabar." sapa Syanala yang berdiri di sisi meja kerja Reyhan.
"Baik Nala, kamu sendiri. Apa kabar?"
"Saya juga baik mbak. Kalau begitu aku permisi dulu." tutur Nala, sambil membawa dokumen di tangannya, Nala bermaksud pergi. Tapi Andrea menahannya.
"Tunggu Nala. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu." ucap Andrea.
"Hal apa mbak?" tanya Nala dengan penuh tanda tanya.
"Rey, boleh kah aku minta waktu sebentar saja untuk bicara dengan Nala?"
"Tentu, tentu saja boleh sayang. Memangnya mau bicara apa dengan Nala ?" tanya Reyhan ingin tahu.
"Bukan hal yang penting. Ini urusan wanita." tutur Andrea santai.
"Oke, silahkan mengobrol." ucap Reyhan.
"Tapi tidak di sini. Kita ke kopi shop sebrang jalan oke?"
"Ia Mbak," jawab Nala.
🌹🌹🌹🌹🌹
Di Sebuah Kopi Shop
"Nala, sudah berapa lama kamu menjadi sekertaris suami ku?"
"Sudah hampir satu Tahun mbak,"
__ADS_1
"Sebelumnya kau di bagian apa di kantor Reyhan?" tanya Andrea dengan tatapan menyelidik ke arah Nala, namun tetap santai. "Aku di divisi marketing sebelumnya" jawab Nala singkat.
"Ya, dan aku kan yang merekomendasikan diri mu bekerja di perusahaan Reyhan dulu," tugas Andrea masih dengan expresi santai, sedangkan Nala sendiri nampak tegang.
"Ia Mbak." jawab Nala selalu singkat.
Nala berusaha sebisa mungkin untuk santai. Sedangkan Andrea dengan tatapan penuh tuduhan, meneliti perubahan expresi Nala.
Andrea sudah menaruh curiga pada Nala sejak lama. Tapi dia menepis kecurigaan itu. Namun, kini kecurigaan Andrea terhadap Nala sudah begitu mengarah ke yakin. Hanya saja Andrea tipe orang yang tidak asal main tuduh. Sebelum ia punya bukti yang kuat.
"Nala, aku terus terang saja ya dengan mu. Saat ini aku mencurigai suami ku sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Tapi orang itu aku belum tau siapa. Dan saat ini aku sedang berusaha mecari tau." ucap Andrea secara lugas.
"Kenapa aku mengajak mu ke sini. Karena aku ingin minta batuan mu, aku ingin mau membantu ku untuk menyelidiki siapa wanita yang mungkin di sukai Reyhan." ucap Andrea menambahkan.
Dan hal itu semakin membuat Nala panas dingin. Nala kini meraih minuman yang telah di pesan kan oleh Andrea untuk nya. Nala meneguk minuman jus jeruk itu sampe setengahnya.
Hal itu ia lakukan untuk mengusir kegugupan dan kecanggungan nya pada wanita yang berusia 5 tahun lebih tua dari nya itu.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk mu Mbak,"
"Baik Mbak. Nanti aku akan bawakan lampiran nya."
"Good. Terimakasih Nala," ucap Andrea sambil tersenyum.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Terimakasih sudah meminjamkan sekertaris mu untuk ku Rey." ucap Andrea, yang kini sudah kembali ke ruangan Reyhan.
Reyhan yang sejak tadi sibuk di depan laptop nya kemudian menoleh ke arah sang istri yang baru saja kembali itu. Reyhan kemudian berjalan menghampiri Andrea yang kini sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Memangnya ada perlu apa kau dengan Nala?" tanya Reyhan yang sudah ikut duduk di samping Andrea.
"Urusan wanita sayang," ucap Andrea. Kemudian Andrea menjulurkan satu tangannya ke arah pipi sang suami. Andrea kini membelai belai dengan lebut rahang Reyhan yang di tumbuhi bulu bulu halus di sepanjang dagu nya.
"I Love You Rey," ucap Andrea sambil memandang wajah Reyhan dengan serius.
"Love You Too, Dea." balas Reyhan. Karena Andrea memandangi dirinya dengan sangat intens, Reyhan pun kini mendekatkan wajah nya pada Andrea. Tanpa ragu Andrea menarik wajah Reyhan untuk lebih dekat ke arah wajah nya.
__ADS_1
Saat bibir itu sudah semakin dekat untuk saling bersentuhan, Andrea sengaja lebih dulu menempelkan bibirnya ke bibir Reyhan. Dengan satu kali tautan Andrea membenamkan bibir nya ke bibir Reyhan. Reyhan nampak menikmati tautan bibir yang Andrea mainkan.
"Biar ku kunci dulu pintunya." kilah Reyhan menarik sejenak bibirnya dari tautan bibir Andrea.
"Tidak usah di kunci. Jangan beranjak Rey, aku sedang ingin menikmati berciuman di ruang kerja mu." ucap Andrea nakal, sambil masih mengalungkan kedua tangannya ke leher Reyhan. Dan Reyhan pun menurut.
"Apapun yang kau inginkan sayang."
Dan kini Andrea sengaja merebahkan diri nya ke sofa dengan terus mengalungkan kedua tangannya melilit ke leher Reyhan. Mengunci Reyhan dengan sengaja. Melalui lilitan kedua tangannya yang melingkari leher Reyhan, Andrea semakin agresif mencium suami nya itu. Begitu pula dengan Reyhan. Sudah lama ia tak melakukan ciuman panas membara seperti itu. Ketika ciuman mereka semakin panas dan liar. Tiba tiba terdengar suara decitan pintu terbuka. Otomatis Andrea dan Reyhan menengadahkan pandangan mereka ke arah pintu itu. Dan di sana, Nala berdiri dengan tatapan wajah penuh keterkejutan.
"Maaf, aku sudah lancang masuk tanpa pemisi. Silahkan di lanjutkan." ucap Nala yang kemudian kembali menutup pintunya.
Dan dalam hati Andrea tersenyum puas. Kemudian Andrea melayangkan pandangannya ke arah Reyhan. Ia mengamati wajah Reyhan yang nampak masih syok itu.
"Rey, apakah Nala memang bebas masuk ke ruangan mu tanpa harus menjaga sopan santun." tanya Andrea pada Reyhan yang masih berada di atas nya. Reyhan kini berinsut menegakkan tubuhnya. Dan Andrea pun kini kembali duduk sambil merapikan baju nya.
"Tidak sayang. Biasa nya dia sopan." tutur Reyhan.
"Jadi apa fungsi dari tombol remote lock control yang ada di meja mu itu." Dan pertanyaan Andrea pun membuat Reyhan bigung.
"Itu untuk privasi,"
"Privasi untuk siapa?" tanya Andrea lagi.
"Untuk ku, untuk kita," jawab Reyhan setelah sekian detik berfikir.
"Kau tau kan Rey, aku jarang sekali menemui mu di kantor mu. Aku punya kesibukan jauh lebih sibuk di bandingkan diri mu. Dan ingat ya sayang, aku menaruh saham 40 persen di perusahaan mu ini." tutur Andrea.
"Kenapa tiba tiba kau mengungkit itu dan membahas saham. Aku tau kau pemilik sebagian besar saham di perusahaan ku. Lantas kenapa Andrea?" tanya Reyhan sarkatis.
"Belum saat nya kau membuka ini semua Andrea." ucap Andrea dalam hati, yang kala itu masih menatap Reyhan.
"Tidak apa apa sayang. Aku hanya mengingatkan dirimu bahwa aku punya andil besar dalam kesuksesan mu, iya kan?" ucap Andrea sambil menyentuh pipi Reyhan dengan tangannya.
"Aku pergi dulu. Maaf sudah menganggu mu." ucap Andrea yang kemudian mendaratkan satu ciuman di pipi Reyhan.
Dan setelah itu Andrea melangkah pergi meninggalkan ruangan Pria berumur 37 Tahun tersebut. Sedangkan Reyhan sendiri masih diam di tempatnya, memandangi sang istri yang berjalan menjauhinya.
__ADS_1