
Isabella POV
Entah bagaimana aku harus bersikap. Apakah aku harus marah. Ataukah aku harus bisa menerima semua keadaan tentang kedua orang tua ku yang sudah lama berpisah. Dan menerima juga bahwa mungkin, suatu saat mereka akan memiliki pasangan yang lain.
Kejadian yang ku lihat di depan mata beberapa malam lalu, saat om Julian mencium bibir mommy di dalam mobil. Membuat ku tidak suka, dan aku tak bisa berhenti berpikir bahwa, sejujurnya aku sangat kecewa dengan mommy.
Aku tau daddy bersalah. Dan aku juga tau daddy sudah berusaha minta maaf kepada mommy. Tapi sayangnya mommy tetap tidak mau kembali pada daddy.
Tapi sejak kecil mereka mengajari aku untuk harus bisa memanfaatkan kesalahan orang lain dan harus berani untuk minta maaf.
Aku memang tidak tau persis bagaimana rasa sakit yang di alami mommy saat itu. Yang kulihat sejauh ini adalah daddy sudah berusaha untuk minta maaf dan ingin selalu bersama mommy. Tapi sepertinya mommy lebih memilih untuk berpisah dari daddy.
Sudah 7 tahun lamanya daddy dan mommy bercerai. Tapi sampai detik ini aku masih berharap bahwa mereka bisa kembali bersatu.
Tapi kedekatan om Julian dan mommy sepertinya juga makin serius. Bahkan mereka pernah mengajak aku dan juga Alden dinner di sebuah restoran. Itu mungkin upaya agar aku dan Alden bisa akrab dengan om Julian.
Alden kini sudah berusia 7 tahun. Dia belum paham betul dengan situasi dan kondisi kedua orang tuanya.
Tapi dia sudah di beri pemahaman jika daddy dan mommy sudah berpisah dan tidak bisa tingal satu rumah.
Keadaan yang membingungkan memang. Bahkan saat Alden masih berumur 3 bulan daddy dan mommy sudah sah bercerai.
Tidak ada banyak hal yang bisa aku lakukan untuk mencegah daddy ataupun mommy, jika suatu saat mereka akan menikah lagi. Aku hanyalah anak. Hanya bisa berharap tanpa bisa berbuat apa apa. Aku hanya bisa pasrah.
Walau sejujurnya aku tidak menyukai hal itu. Karena aku sayang mommy dan daddy. Dan masih berharap jika mereka suatu saat bisa bersama kembali.
__ADS_1
Kini usiaku ku sudah 14 tahun. Aku sudah sudah dewasa, menurut ku. Aku pun sudah bisa mengemuka kan pendapat. Aku bukan anak kecil lagi yang harus patuh dengan segala aturan. Aku paham mana aturan yang di buat untuk kebaikan ku dan mana aturan yang mengekang ku.
Daddy lebih santai dengan semua aturan yang telah mereka buat untuk ku. Tapi mommy sedikit lebih protektif. Terkadang aku juga suka berdebat dengan mommy. Dan puncaknya akhir akhir ini aku merasa kurang nyaman dengan mommy.
Mungkin ini ada hubungannya dengan om Julian. Dan daddy perpesan, agar aku harus berusaha untuk menerima om Julian. Sebagai pendamping hidup mommy. Tapi entahlah, aku tetap saa tidak suka itu. Sedangkan daddy sendiri masih setia sama mommy.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Bells, kamu dari mana? Kenapa jalan kaki. Mana sopir mu?" tanya mommy sesaat setelah ia turun dari mobil mewahnya ketika kami berpapasan di sebuah jalan dekat rumah.
"Aku baru saja pulang dari les berkuda mom." kata ku santai, sambil melirik ke arah mommy yang sepertinya baru saja pulang dari kantor.
"Lain kali kau harus di antara dan jemput sopir. Atau, kau bisa hubungi mommy atau daddy untuk menjemput mu sayang." jelas mommy penuh penekanan. Karena tidak mau berdebat, aku iya kan saja untuk mengakhiri perbincangan kami.
"Bells, mommy belum selesai bicara nak," saut mommy lagi saat aku hendak melangkahkan kaki kembali.
"Sudah seminggu kamu bersama daddy. Malam ini kamu tidur di rumah mommy ya. Mommy kangen tidur bersama dengan mu Bella." ucap mommy dengan suara paruh. Kemudian aku menatap wajah mommy yang terlihat sendu.
"Di rumah kan ada Alden mom," sangkal ku.
"Tapi mommy kangen dengan ada gadis mommy. Mommy tidak mau ada alasan, mommy tunggu kamu di rumah ya."
"Oke mom," kata ku akhirnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
"Ada apa dengan diri mu Bells, beberapa Minggu ini mommy liat, kamu bersikap dingin sama mommy." tanya mommy ketika kami saat itu sedang tiduran santai di kamar mommy.
Mommy menyuruhku untuk tidur di kamarnya untuk malam ini. Dan aku pun menurut.
"Tidak ada apa apa mom, jangan mencurigai ku." jawab ku singkat sambil memainkan ponsel ku.
"Berbagilah dengan mommy. Katakan apa yang ingin kau katakan. Bicarakan sesuatu yang bisa kau diskusikan dengan mommy. Mommy akan senang sekali bila mommy bisa jadi teman curhat mu Bells."
Aku hanya bisa mengulas senyum tipis saat mommy ingin aku terbuka tentang apa yang sebenarnya ingin aku ungkapkan. Tapi, apakah mommy akan memahami apa yang menjadi keinginan ku. Padahal aku tau, mommy dan om Julian makin dekat.
"Aku bahagia jika mommy bahagia. Aku sebagai anak hanya bisa menerima apa yang sudah mommy putuskan. Bukankah kata mommy, mommy sudah punya kehidupan pribadi sendiri. Termasuk saat mommy berhubungan serius dengan om Julian, Bella ikut senang melihat mommy juga senang." kata ku sambil memandang wajah mommy yang terlihat mellow itu.
Dan perkataan Isabella bukanya membuat hati Andrea senang dan lega. Tapi justru sebaliknya. Ia merasa nelangsa. Mana ada anak bahagia melihat ibu nya bahagia. Yang ada seorang ibulah yang akan bahagia jika melihat anak anak nya bahagia.
Isabella kecil
isabella dewasa
__ADS_1
Maaf cuma dikit, masih sibuk lebaran 🤭😬🤗🙏♥️💐