Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Kecemburuan Andrea pada Reyhan


__ADS_3

Sampai jelang tengah malam, Andrea di buat tidak bisa tidur lantaran baby Alden yang sedang rewel akibat demam. Berbagai hal sudah di lakukan Andrea dengan di bantu babysister nya untuk bisa meredakan demam yang baby Alden alami. Namun semua hal yang sudah di upayakan belum juga bisa meredam panasnya.


Andrea sendiri semakin panic. Lalu terlintas dalam benaknya untuk menghubungi Reyhan.


Reyhan yang kini tinggal tepat di sebrang rumah nya tak perlu waktu yang lama untuk bisa langsung datang. Begitu Reyhan sampai di rumah, ia langsung bergegas ke kamar Andrea, di mana baby Alden saat ini berada.


"Hai jagoan Daddy, kau kenapa? Sakit." Reyhan berucap sambil mengecek suhu tubuh sang putra dengan menempelkan telapak tangannya ke dahi baby Alden.


"Dia panas, padahal tadi sore dia baik baik saja." jelas Andrea.


"Sudah di beri obat penurun panas?" tanya Reyhan.


"Sudah, tapi panasnya belum juga turun."


"Biar aku gedong dia." izin Reyhan pada Andrea.


"Sini sama Daddy."Reyhan kemudian meraih baby Alden yang rewel itu dari gedongan Andrea.


Sambil mendekap sang putra, Reyhan nampak menimang nimang baby Alden dengan sayang.


"Jagoan Daddy mau pintar ya. Kalau mau pintar, jangan rewel. Kasian mommy." ucap Reyhan lirih pada sang putera sambil menepuk-nepuk lembut punggung baby Alden yang ia baringkan di pundaknya.


"Ada Daddy sayang. Sama Daddy ya, jangan nangis lagi." sambung Reyhan.


Dengan terus menerus menepuk pundak baby Alden dengan lembut lama kelamaan tangisan baby Alden pun lambat laun terhenti, bahkan ia kini tertidur di pundak Reyhan dengan sangat pulas nya. Karena dia sudah terlalu capek menangis sedari tadi.


Setelah memastikan baby Alden tertidur pulas. Perlahan-lahan Reyhan membaringkan lagi tubuh baby Alden dengan pelan ke tempat tidur Andrea.


"Jika masih deman sampe besok pagi, kita bawa Alden ke rumah sakit." saran Reyhan bersuara lirik pada Andrea yang kini duduk di samping baby Alden yang sudah tertidur pulas itu.

__ADS_1


"Ia Rey. Terimakasih sudah menenangkan Alden."


"Kau ini bicara apa, dia juga anak ku. Sudah kewajiban dan juga sudah menjadi tugas ku menjaganya. Jangan sungkan bangunan aku jika kau butuh bantuan. Itu sebabnya aku ingin tetap dekat dengan kalian. Ya, karena agar aku bisa lebih mudah menjangkau kalian. Kalian ini yang ku maksud adalah anak anak ku." jelas Reyhan.


"Ya, aku paham."


"Kalau begitu aku kembali ke rumah ku. Kabari aku besok pagi untuk perkembangan Alden."


"Ia Rey,"


Kemudian Reyhan melangkah menuju pintu kamar Andrea untuk kembali pulang ke rumahnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dan keesokannya, baby Alden sudah kembali ceria. Panasnya sudah reda dan ia kini bahkan terlihat segar.


"Hai boy, liatlah kamu, anak hebat." lalu Reyhan menciumi pipi sang putera dengan gemas. Setelah selesai bercengkrama dengan sang putera, Reyhan memberikan baby Alden pada babysister nya. Aksi Reyhan kala itu tak lepas dari pantauan Andrea yang baru saja menuruni anak tangga bersama Isabella.


Isabella sendiri begitu melihat sang daddy ada di rumah pagi pagi langsung antusias dan dengan langkah cepat menuruni anak tangga lalu menghambur ke arah Reyhan.


"Daddy." seru Isabella.


"Hai Bell," seru balik Reyhan yang kini sudah di gelayuti sang putri kesayangannya dengan manja.


Lagi lagi hal itu pun tak luput dari pantauan perhatian Andrea. Ia berfikir, anak anak nya seperti lebih nyaman saat bersama Reyhan. Kejadian semalam yang membuat Andrea panic saat Alden rewel terlintas lagi di benaknya. Baby Alden langsung tenang ketika sudah di gendong Reyhan. Saat ia rewel bahkan baby Alden tidak mau menyusu pada nya langsung.


"Pagi Rey." sapa Andrea.


"Pagi Andrea. Alden sudah terlihat segar. Apa semalam kau terjaga sebelum aku datang?"

__ADS_1


"Anak itu tidak mau diam saat bersama ku tadi malam. Hal itu jujur saja membuat ku sedih. Karena sebagai ibu aku tidak bisa menenangkannya." keluh Andrea.


"Kenapa sedih Andrea. Mungkin saja Alden semalam sedang grumpy. Anak kecil memang kadang seperti itu kan." jawab Reyhan menenangkan. Andrea kemudian tersenyum tipis.


"Kau mau sarapan?" tawar Andrea pada Reyhan.


"Aku sudah sarapan di rumah. Aku ke sini karena semalam aku sangat menghawatirkan Alden juga."


"Dad, aku mau berangkat sekolah sama Daddy. Mom, boleh ya?" tanya Isabella pada Andrea.


"Kamu berangkat sama mommy sayang."


"Tapi aku mau berangkat sama Daddy. Sudah lama aku tidak berangkat ke sekolah sama Daddy." rengek Isabella.


"Ya, nanti Daddy antar Bella ke sekolah." putus Reyhan sepihak.


"Rey, aku yang akan mengatar nya."


"Anak nya sedang mau bersama Daddy-nya. Tidak masalah Andrea, toh sama saja kan." jawab Reyhan enteng.


"Please mommy please...!" Isabella memohon.


Dan akhirnya Andrea pun mengizinkan. Lagi lagi rasa cemburu melingkupi hati Andrea terhadap Reyhan. Karena anak-anaknya terlihat lebih dekat dengan sang mantan suami. Bagi Andrea, hal itu seolah-olah menjadi ancaman. Pikiran negatif mulai menghantui dirinya.


Bagaimana jika suatu saat nanti Reyhan mengajukan permohonan hak asuh anak anaknya ?


Karena saat ini, anak anak adalah segalanya bagi Andrea. Dan Reyhan pun juga nampak selalu memprioritaskan anak anak. Baik Andrea dan Reyhan seperti berlomba-lomba untuk menunjukkan perhatian dan memberikan kasih sayang pada anak anaknya. Hal itu wajar, namun bagi Andrea, ada terbesit rasa kawatir yang ia rasakan jika anak anak nya lebih condong ke Reyhan.


Ia takut jika anak anak nya akan lebih memilih Daddy-nya dari pada dirinya. Sebagai seorang ibu, itu hal yang memalukan. Apa lagi Andrea sadar, ia terlalu sibuk dengan urusan perusahaan beberapa bulan terakhir.

__ADS_1


__ADS_2