
Syanala Arunika POV
Hari ini aku sudah siapkan sebuah map berisikan data diri yang sudah lengkap. Bagaimanapun aku harus tetap bersemangat untuk mencari pekerjaan yang baru.
Sudah dua bulan lamanya aku tidak bekerja. Aku tidak bisa hanya mengandalkan uang tabungan yang aku punya untuk memenuhi kebutuhan.Tapi aku harus bangkit kembali. Mencari pekerjaan, dan semangat menjalani hidup yang sempat membuat minder dengan diri ku sendiri.
Bahkan aku sempat merasakan kehilagan kepercayaan diri. Aku sempat berfikir bahwa diri lu hanyalah wanita murahan. Wanita penggoda, wanita yang tak bisa menjaga harga diri. Wanita tak tau malu, wanita hina dan berbagai sebutan buruk itu memang layak ku sandang.
Aku kehilagan akal, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada atasan ku sendiri. Bagaimana aku bisa memadu kasih dengan Pria yang sudah beristri. Bahkan istrinya adalah orang paling berjasa dalam kehidupan ku dan juga orang tua ku dulu. Bagaimana aku bisa menyakiti perasaan seorang wanita baik dan cantik berpendidikan tinggi serta elegan seperti Mbak Andrea.
Jika mengingat itu semuanya, rasanya aku muak terhadap diri ku sendiri. Bahkan aku sudah menjadi istri siri Mas Reyhan 6 bulan lamanya. Aku seperti orang bodoh yang terlalu percaya diri. Bahwa seorang CEO tampan yang baik hati dan penuh pesona Reyhan Aditya Dimitri tiba tiba saja mengutarakan isi hatinya. Menyatakan bahwa ia menyukai ku, jatuh cinta dengan ku, dan ingin menjadikan aku istri kedua nya. Walau awalnya aku menolak, tapi nyatanya aku luluh juga.
Dan tak bisa aku pungkiri, aku memang menyukai Mas Reyhan saat itu. Aku mencintai pria itu, aku sayang dengannya.
Dan selama 6 bulan lama nya menjadi istri sirinya. Aku melakukan semua tugas-tugas ku sebagai istri. Menjalankan semua tugas dan kewajiban ku layaknya seorang istri melayani suaminya. Aku menuruti kemauannya, mematuhi perintahnya. Hingga pada akhirnya, aku terlalu percaya diri, jika diri ku bisa sejajar dengan Mbak Andrea di hati Mas Reyhan. Dan percaya diri Mbak Andrea mau berbagi suami.
Tapi ternyata aku salah. Aku lah yang terlalu bodoh, aku lah yang murahan, aku lah wanita pelakor itu.
Dan kini aku telah sadar, aku tidak ingin menjadi wanita simpanan lagi. Aku tidak ingin menjadi wanita yang selama hidupnya menanggung beban aib. Aib karena menjadi istri siri yang rahasia. Menjadi wanita kedua yang sang istri pertama saja tidak tau. Aku benar-benar kejam ternyata.
Dan, sehina apapun aku, sekotor apapun diri ku. Aku kini menguatkan diri ku sendiri, untuk bisa move on.
Move on dari diri ku yang dulu, yang penuh khilaf dan salah, menuju diri ku yang baru. Menjadi Syanala yang baru, aku akan melanjutkan hidup dengan semangat.
Biarlah aib ini aku simpan untuk ku sendiri, dan biarlah yang tau aib ini semoga bisa melupakan nya. Dan teruntuk dia yang telah aku sakiti hati dan perasaannya, smoga suatu saat dia bisa memanfaatkan aku. Dan seumur hidup, aku akan selalu merasa bersalah denganya.
Aku sudah mengembalikan semua barang barang yang pernah Mas Reyhan berikan pada ku. Aku tidak membawa apapun dari semua barang yang pernah Mas Reyhan berikan.
Sejak ia menalak ku, aku bener benar telah memutuskan hubungan dengannya. Dan aku juga berharap, tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.
Aku memang sudah banyak melakukan dosa dan kesalahan. Dan aku tidak akan pernah membiarkan diri ku terjebak dalam situasi yang sudah pernah aku lakukan sebelumnya.
Dan aku mungkin tak termaafkan.
"Maaf kan aku Mbak Andrea. Aku harap pernikahan kalian akan tetap utuh setelah semua yang terjadi. Aku menyesal telah masuk dalam rumah tangga Mbak Andrea. Aku menyesali semua yang telah aku lakukan. Cinta mang buta, dan aku buta saat itu. Aku hilang akal, hilang kendali dan tak tau balas budi. Setelah ini aku berjanji, aku tidak akan menampakkan diri ku pada kalian semua. Aku harap kalian tetap bersama, sebagai pasangan suami istri."
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
Pagi ini aku ada interview di salah satu gedung di pusat kota. Aku sudah siapkan mental untuk melakukan interview kerja jauh jauh hari. Aku berharap kali ini lamaran kerja ku akan di terima.
Dengan sedikit cemas, aku menunggu nama ku di pangil. Di ruang tunggu saat ini ada sekitar 20 an orang sedang mengantri. Semua nampak berharap hari ini adalah hari terbaik. Di terima kerja dan memulai pekerjaan yang baru.
Jantung ku rasanya deg deg kan saat nama ku di pangil. Dengan langkah penuh harap, aku memasuki ruangan HRD untuk melakukan interview.
🌹🌹🌹🌹
"Nala," Sapa seseorang memanggil ku, ketika aku memasuki sebuah lift.
"Pak Metthew." Sapa ku kembali pada seseorang itu, yang ternyata adalah Pak Metthew. Pak Metthew kemudian bergeser dari berdirinya, memberikan aku ruang.
"Sedang apa kau di sini?" tanyanya dengan ramah.
"Saya sedang ada interview pekerjaan di gedung ini Pak." jawab ku jujur.
"Bagaimana interviewnya?" tanya lagi pak Metthew yang nampak penasaran.
"Apa setelah ini kau ada tujuan lain?"
"Saya mau pulang Pak,"
"Kita bisa ngobrol sebentar, di lantai bawah ada cafe. Kita ngobrol sebentar jika kau bersedia?"
Dan akhirnya, kerena tidak enak menolak permintaan Pak Metthew, aku meng iya kan ajakannya.
"Saya mohon tidak perlu membicarakan masalah saya, Pak Reyhan dan juga Bu Andrea. Karena aku yakin Pak Metthew sudah tau semuanya."
"Ya, aku tidak akan membahas itu. Aku hanya ingin ngobrol santai dengan mu." ucap Pak Metthew sambil mematik kan abu rokoknya di sebuah asbak.
"Jika kau mau, aku bisa memberikan mu pekerjaan Nala." tawar Pak Metthew, dan hak itu membuat ku kaget. Bagaimanapun aku tidak mungkin bekerja di perusahaannya. Sedangkan perusahaan Wilson Corp banyak bekerja sama dengan Dimitri Corp, yang artinya kedua perusahaan itu banyak kerja sama dengan perusahaan yang kini telah di akusisi oleh perusahaan Mbak Andrea. Jika aku bekerja untuk perusahaan Pak Metthew itu sama saja aku tidak konsisten untuk menjauhi Mas Reyhan dan juga Mbak Andrea.
"Maaf Pak, bukanya aku tidak menghargai kebaikan Pak Metthew. Tapi aku tidak bisa bekerja di perusahaan Pak Metthew."
__ADS_1
"Metthew, pangil saja aku Metthew. Kita bukan atasan atau bawahan lagi."
"Tapi saya tetap menaruh hormat pada anda Pak, karena bagaimanapun, kita pernah satu tim."
Entah kenapa tiba tiba Pak Metthew terkekeh.
Tapi aku tidak berani untuk bertanya, kenapa dia tertawa.
"Kadang aku bigung Nala. Memangnya, pesona apa yang membuat mu mau di nikahin siri oleh Reyhan."
Deg...... pertanyaan Pak Metthew langsung membuat aku tak nyaman.
"Pak, maaf itu hal pribadi. Saya tidak ingin membahasnya. Dan karena ini sudah sore, saya pamit dulu." ucap ku sambil merapikan barang bawaan ku.
"Nala, tunggu. Jangan marah. Maaf karena sudah menyinggung hal pribadi." ucap Pak Metthew sambil menahan pergelangan tangan ku.
"Saya sejauh ini sudah berubah untuk menghindari masalah ini Pak. Saya tidak ingin membahasnya. Saya mau fokus pada diri saya sendiri." tandas ku, kemudian Pak Metthew mengangguk, tanda dia paham.
"Biar ku antar kau pulang." tawarnya.
"Terimakasih Pak, saya bisa pulang sendiri. Terimakasih pesanan makanan dan minuman nya." kemudian aku pun buru-buru untuk bergegas pergi. Namun lagi-lagi Pak Metthew menahan ku.
"Ini kartu nama ku. Walau kau menolak untuk bekerja di perusahaan ku, siapa tau aku tetap bisa membantu mu untuk memberikan rekomendasi tempat kerja yang bisa menerima mu." Pak Metthew kemudian memberikan aku kartu namanya. Karena merasa tak enak hati, aku pun meraih kartu nama yang ia berikan pada ku.
"Jangan ragu untuk menghubungi ku, jika kau benar-benar kesulitan mencari pekerjaan yang baru." pungkasnya.
"Terimakasih banyak Pak, saya pergi dulu."
Syanala Arunika
Metthew Wilson
__ADS_1