Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Sentuhan Yang Di Rindukan


__ADS_3

Andrea POV


Aku tidak menyadari kedatangan Reyhan, tau tau dia sudah ada di samping ku, dengan membawakan air putih yang aku pesan pada Jenna. Dia dengan santainya duduk di sofa bersama ku, tepat di hadapan aku yang saat ini sedang tiduran sambil selonjoran di sofa.


Saat ia ingin menyentuh perut ku yang kini sudah terlihat menonjol, aku menahan pergerakannya.


"Aku hanya ingin menyapanya. Aku Daddy-nya, dia tau Daddy-nya datang, makanya dia cari perhatian."


Kemudian Reyhan meletakkan tangannya ke perut ku. Ia meletakkan tangannya persis di bagian perut ku yang makin keras dan menonjol. Aku melihat ada expresi tajub saat ia berinteraksi dengan janin yang ku kandung. Rasa hangat terpancar dari sentuhan tangan Reyhan kala ia menempelkan tangannya di perut ku yang mulai membulat.


Saat melihat bagaimana Reyhan menyapa lewat sentuhan pada calon bayi kami di dalam kandungan ku, seakan-akan janin yang ada di dalam sana merespon kedatangan daddy-nya. Ada pergerakan yang bisa aku rasakan dari dalam sana, seperti gerakan menendang.


Ada sebuah kehangatan yang aku rasakan ketika melihat itu semua. Mungkin itu karena aku tertawa suasana. Tapi aku benar-benar merasakan sesuatu saat ini. Apakah aku merasa bahagia ataukan itu hanya bahagia yang semu.


Jika Reyhan sudah membahas tentang hak nya sebagai seorang ayah dari bayi yang aku kandung saat ini. Seolah-olah aku sudah kehabisan kata untuk menyangkal.


Selama mengandung anak ke dua kali ini, aku benar-benar sendirian berjuang melalui masa sama ke payahan. Bukan karena Reyhan tak memperdulikan dan memperhatikan aku. Sebab akulah yang menghindarinya.


Aku membencinya, aku masih marah padanya, aku muak jika teringat bagaimana ia mengkhianati ku.


Dia memang masih berstatus suami ku. Dan saat ini aku makin sulit untuk mengajukan gugatan cerai terhadapnya. Hal itu karena terhalang kondisi ku yang tengah hamil lagi. Belum lagi di tambah dengan bantahan bantahan Reyhan pada hakim pengadilan yang kekeh ingin pernikahan kami tetap utuh.


Dia rupanya tidak kehilangan akal untuk membuat hakim bimbang dalam persidangan pertama waktu itu.


Dalam proses mediasi, Reyhan selalu jujur apa adanya tentang skandalnya. Dan dia rupanya berhasil menyajikan hakim untuk menunda putusan final nya. Dan Reyhan selalu memohon tengang waktu. Senjata ampuh nya adalah kerena kehamilan ku. Hingga akhirnya sampai detik ini aku dan Reyhan belum resmi bercerai. Dan kasus gugatan cerai ku terhadapnya seperti mengambang tidak jelas.


"Kenapa menatapku seperti itu Dea." tanya Reyhan menatap balik ke arah ku dengan menyungging senyum manis nya.

__ADS_1


"Kau menyebalkan. Aku tidak pernah sebenci ini terhadap mu Rey." kata ku jujur, tapi Reyhan sepertinya tidak memperdulikan setiap kata hujatan yang aku ucapkan terhadapnya.


"Jangan terlalu membenci ku. Benci itu tanda cinta. Aku adalah cinta pertama mu Andrea, kau sudah menyukai ku sejak kecil kan, sejak kita masih suka bermain petak umpet. Bahkan kau sampai menyusul ku ke Amerika." tutur Reyhan nampak percaya diri.


"Itu dulu Rey. Sekarang tidak lagi." jawab ku dengan nada sinis.


"Teruskan nanti saja menghujat ku. Aku ke sini membawakan makanan sehat untuk mu. Aku memasaknya sendiri khusus untuk mu." Reyhan kemudian mengeluarkan sebuah kotak makan dari paper bag yang ia bawa. Kemudian ia meletakkan kotak makan yang ia sudah buka penutup nya itu dan menaruhnya ke pangkuan ku.


"Aku sudah makan. Kau saja yang makan."


"Jangan bohong Dea. Tadi aku tanya pada Jenna kau belum makan siang. Aku sengaja datang ke sini tidak sekedar ingin bertemu dengan mu. Tapi karena juga aku ingin memberikan makanan bergizi untuk anak ku yang kau kandung. Ayo di makan, atau mau aku suapin."


"Tidak usah, aku bisa sendiri."


Kemudian aku gerakkan tangan kananku untuk mengambil garpu yang sudah juga ia siapakan. Tumisan brokoli yang di campur wortel segar itu nampak membuat air liur ku seketika menetes. Apa lagi melihat ikan salmon pangang itu. Semakin membuat ku berselera dan ingin segera melahapnya. Entahlah, kenapa bisa begitu. Padahal saat ini aku muak terhadapnya. Apakah ini perasaan emosional ibu hamil, yang selalu ingin di manjakan oleh suaminya.


"Salmon panggang dan brokoli makanan sehat untuk mu sayang. Aku juga sudah siapkan ini, potongan buah apel dan stroberi untuk mu."


"Jika kau mau, aku bisa setiap hari menyiapkan ini untuk mu."


Aku tak menjawab ocehannya. Aku saat ini tengah menikmati lezatnya daging salmon panggang yang sudah dia buat untuk ku. Reyhan memang jago dalam bidang memasak. Di rumah dia seringkali berexperimen membuat berbagai olahan makanan bersama Bella di hari libur. Dan biasanya, hasil experimen mereka tidak lah buruk.


"Andrea, boleh aku bertemu dengan Isabella?" tanyanya di sela sela aku masih menikmati makanan yang ia bawakan.


"Dia masih di Wellington. Aku ke Indonesia sendirian. Banyak pekerjaan yang butuh kehadiran ku, kau lupa aku sekarang CEO di dua perusahaan."


"Iya aku tau, kau memang hebat." tutur Reyhan lembut dan malah memuji ku.

__ADS_1


"Sampai sekarang kau masih memblokir nomor ponsel ku. Jadi kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Demi anak anak kita, aku mohon, buka blokiran nomor ponsel ku." ucap Reyhan memohon.


"Apa kau ke sini untuk negosiasi tetang nomor ponsel mu yang aku masih blokir. Jika merindukan Bella kau bisa menelpon nomor rumah ku di Wellington"


"Andrea, selama ini aku masih sabar. Bagaimanapun aku berhak mendapatkan kemudahan berkomunikasi dengan anak anak ku. Tapi selama ini kau seakan-akan seperti ingin memisahkan aku dengan anak anak ku. Kau tau aku sangat sayang pada Bella, dan aku juga ingin sekali memperhatikan mu yang saat ini tengah hamil. Aku sangat peduli dengan mu, dengan anak anak kita."


Entah kenapa perkataan Reyhan kembali membuat dada ku sesak dan bergemuruh. Lagi lagi bayangan perselingkuhan itu mencuat dalam memory ku. Seakan-akan aku ingin selalu mengungkit skandal nya jika dia sudah mulai banyak menuntut. Apa dia tidak sadar, kehidupan rumah tangganya menjadi seperti ini gara gara perbuatannya.


Ku fokuskan tatapan ku kini ke arahnya. Aku sengaja menatapnya dalam dalam. Menembus iris mata nya yang hitam pekat itu. Dan aku ingin membunuhnya hanya dengan melalui tatapan tajam ku.


"Jadi kau protes. Ptotes karena aku membatasi komunikasi mu dengan Isabella dan juga terhadap bayi yang saat ini aku kandung?"


"Kau boleh membenci ku sayang. Kau boleh menghina ku sepuas mu. Tapi aku tidak mau jika kau juga mencoba untuk menjauhkan aku dari anak anak ku. Aku mencintai mereka." Dan kini aku bisa melihat kedua mata Reyhan memerah, seakan ingin menangis.


"Tiap malam aku memikirkan mu Andrea. Aku masih ingat bagaimana dulu saat kamu hamil Isabella. Aku ada di samping mu. Saat kau mengalami mual, muntah, ingin makan sesuatu yang aneh-aneh. Dan bagaimana saat itu kau selalu mengeluh sakit pinggang dan pusing. Aku ada di sana untuk mu. Aku sedih saat kau hamil lagi saat ini tapi aku tidak bisa ada di samping mu dan memperhatikan mu."


"Aku bukannya tidak butuh perhatian mu Rey. Terimakasih kau masih memperhatikan aku. Tapi kehamilan ku saat ini lebih kuat dari pada kehamilan ku dulu saat mengandung Isabella. Jadi jagan merasa bersalah. Bukan karena apa, aku bisa melalui kehamilan ini sendiri an, aku bisa melalui nya tanpa mu. Karena bagi ku, kau sudah tidak ada lagi dalam kehidupan ku." ucap ku pada Reyhan tegas.


Entah kenapa sikap ku padanya kali ini benar-benar membuat ku mellow. Aku mengatakan jujur apa adanya tentang apa yang ku rasakan. Namun di sisi lain hati ini seolah menjerit. Wanita hamil mana yang tidak menginginkan di perhatikan dan di sayang oleh suaminya.


Wanita hamil mana yang tidak ingin di sentuh suami nya dengan sentuhan sayang. Aku merindukan sentuhan sentuhan sayang seorang suami di kala aku tengah berbadan dua. Janin yang sedang berkembang di rahim ku juga pasti merindukan sentuhan itu. Tapi aku bisa apa, jika aku menolak untuk ia sentuh. Walau aku sebenarnya butuh.


Tapi mana bisa aku mendapatkan itu saat ini. Jika mengingat bagaimana mesum nya mereka, hal itu membuat aku jijik pada Reyhan.


"Aku bisa melalui kehamilan ku kali ini sendirian. Aku dan dia sudah terbiasa tanpa mu" ucap mu sambil membereskan kotak makan yang isi nya belum habis ku makan. Karena aku sudah hilang selera makan juga.


Bisa baca juga karya pertama ku gaess @Belahan jiwa, karya pertama jadi harap maklum 🤭😁

__ADS_1



Assalamu'alaikum salam hangat semuanya. Cuma mau ingin mengucapkan Mohon maaf lahir dan batin ya buat pembaca setia Dua istri sang CEO. Dan selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan ini. Marhaban ya Ramadhan 🙏🙏🙏 maafkan aku jika sudah buat kalian emosi 😬😁🤭 jgn lupa like komen agar aku semangat nukis nya, terimakasih banyak ♥️💐🥰


__ADS_2