
Berada di dalam ruang kerja nya di rumah. Andrea yang berpakaian rapi itu tengah memimpin rapat melalui sambungan video meeting melalui internet. Meski tengah hamil besar Andrea tetap aktif dengan pekerjaannya.
Tidak memungkinkan untuk pergi ke kantor Andrea tetap bekerja dari rumah. Menjadi pemimpin dua perusahaan besar membuat dirinya tidak bisa meninggalkan tugas tugas penting nya begitu saja.
"Ini berkas berkas yang harus ibu tanda tangani Bu," tukas Jenna sambil memberikan lembar demi lembar file pada Andrea. Setelah mengeceknya beberapa saat, Andrea pun menandatangani berkas berkas itu satu persatu.
"Oya Bu, ada titipan undangan pernikahan dari Pak Metthew. Kemarin dia ke kantor, dan menitipkan ini pada Bu Andrea."
"Metthew, menikah?" ucap Andrea kaget. Pasalnya selama ini dia tidak tau jika temannya itu punya pasangan. Kemudian Andrea pun mengecek undangan pernikahan yang Jenna bawakan untuk nya.
"Bagaimana bisa duda kolot itu tiba tiba mau menikah?" guman Andrea dalam hati. Saat ia sudah membaca undangan tersebut dan tau siapa calon istri Metthew, Andrea nampak melongo.
"Yang benar saja Mett," desis Andrea.
"Apakah ada yang penting lainnya?" tanya Andrea pada Jenna.
"Semua sudah beres Bu."
"Kalau begitu, kau boleh kembali ke kantor." perintah Andrea.
Sepeninggal Jenna dari ruangan kerjanya, Andrea membuka lagi undangan pernikahan yang Jenna bawakan untuk nya. Rasanya Andrea tidak percaya jika Metthew akan menikahi Syanala.
"Apa di dunia ini sudah kehabisan stok wanita yang lebih bermartabat Mett dari pada dia. Dan kau seperti nya sedang menguji ku." tutur Andrea berguman sendiri.
__ADS_1
"Kau teman ku, tapi kau justru berencana menikahi wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga ku. Are You Kidding." ucap Andrea lagi merasa sangat heran. Kemudian Andrea meraih ponselnya dan langsung menghubungi Metthew.
Begitu sambungan telepon itu tersambung, dari sebrang sana suara Metthew nampak bersemangat menyapa Andrea.
"Kau ini bodoh atau buta Mett. Kau serius mau menikahi wanita itu." ucap Andrea tanpa basa-basi.
"Tenang Andrea. Aku tau kau pasti akan sangat kaget. Tapi itu sudah menjadi pilihan ku."
"Apa kau tidak takut jika suatu saat nanti kau juga akan di perlakukan sama seperti ia melakukan itu pada ku."
"Kurasa Nala tidak seburuk apa yang ku pikir." jelas Metthew dari sebrang telepon. Dan hal itu membuat darah Andrea mendidih.
"You fucking idiot." ucap Andrea kesal. Kemudian ia mematikan ponselnya dengan perasaan amat sangat kesal pada Metthew.
"Maaf sayang, mommy terbawa emosi." Andrea berucap sambil mengelus perutnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Andrea, kau kenapa. Dari tadi diam saja." tanya Reyhan, ketika mereka berdua kini berada di dalam mobil untuk mengecek kandungan.
"Apa kau dapat undangan pernikahan dari Metthew?" tanya Andrea dengan nada sarkatis.
Mendengar pertanyaan itu, Reyhan akhirnya paham. Diamnya Andrea ternyata soal itu. Untuk menjaga perasaan Andrea, Reyhan pura pura tidak tau menahu.
__ADS_1
"Aku sudah lama tidak bertemu Metthew." jawab Reyhan.
"Dia mau menikah." cetus Andrea.
"Bagus lah. Aku tidak tau dia mau menikah." jawab Reyhan lagi masih pura pura tidak tau.
"Kau tau siapa wanita yang akan menjadi istri Metthew. Aku rasa kau sudah tau."
"Aku tidak tau Andrea." jawab Reyhan berbohong.
Andrea nampak menghela nafas berat, kemudian ia menoleh ke arah Reyhan dengan tatapan menghukum.
"Mantan istri siri mu." dan seketika wajah Reyhan nampak pucat. Jika skandal itu di ungkit, rasakan hati Reyhan merasa sesak. Sesak karena ia di rundung rasa bersalah yang seperti tiada ujungnya. Sedangkan bagi Andrea, jika menyangkut Nala, hati ya terasa perih seperti tertusuk sembilu.
"Dea, jangan bahas itu ya. Kita fokus untuk dirimu. Aku sudah selesai dengan nya. Aku tidak mau ini di bahas." Reyhan berucap lirih dan tenang. Akan tetapi air mata Andrea sudah terlanjur menetes. Dan lagi-lagi hal itu membuat sedih Reyhan. Ingin rasanya ia memeluk wanita yang ada di sampingnya itu. Tapi ia merasa engan, engan jika Andrea menolak pelukannya. Yang ada Reyhan hanya bisa tertunduk pasrah. Reyhan kemudian memberikan Andrea tissue, Andrea meraihnya dan mengunakan itu untuk menghapus air matanya.
Dengan sedikit ragu, Reyhan mengulurkan tangannya dan mengusap usap bahu Andrea dari belakang.
"Maafkan aku Andrea. Aku minta maaf." ucap Reyhan dengan masih mengusap usap pundak Andrea.
"Jika bukan karena anak yang aku kandung ini. Kita tidak akan duduk bersama dalam satu mobil saat ini. Aku pun juga sudah selesai dengan mu." tutur Andrea dengan emosi tertahan.
Reyhan hanya bisa diam tak bisa berkata-kata. Dan tak lama, mobil yang di kendari sopir pun telah tiba di lokasi dokter kandungan langganan Andrea. Dengan di bantu Reyhan, Andrea keluar dari mobilnya. Kemudian mereka masuk ke sebuah tempat praktek Dokter khusus kandungan yang sudah menjadi langganan sejak ia hamil pertama kali.
__ADS_1