Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Firasat Buruk


__ADS_3

Pagi itu, Andrea sedang bersama Bella di meja makan untuk sarapan. Seperti biasa Andrea selalu menyiapkan sarapan untuk sang putri. Mengoleskan selai pada selembar roti tawar, kemudian menaruh nya di piring makan Bella.


"Ayo habis kan sarapannya, biar kita tidak terlambat." ucap Andrea yang juga sedang menikmati sarapannya sambil memeriksa ponselnya.


Saat Andrea sedang mengecek ponselnya, tiba tiba ia teringat Reyhan. Andrea yang tadi sibuk mengecek email kemudian beralih mengecek kotak masuk pesan.


Ada satu hal yang membuat hati nya berdecak kesal. Pasal nya pesan yang ia kirim semalam sebelum tidur pada Reyhan, sampe saat ini belum terbalas. Bahkan masih ceklis. Hal itu membuat Andrea berfikir yang tidak tidak.


Kemudian ia beralih ke nomor ponsel Syanala, yang memang ia juga menyimpan nya.


Andrea mengirimkan pesan singkat pada Nala. Tapi hasilnya pun juga ceklis. Andrea kemudian menjadi berfikir keras.


"Bagaimana bisa ponsel Nala juga tidak aktif?" Guman Andrea dalam hati.


"Sayang, Mommy ke kamar dulu yaa, ada barang Mommy yang ketingalan." ucap Andrea pada Bella yang tengah asik menikmati sarapan roti nya.


"Iya Mommy," jawab Bella lembut . Kemudian Andrea naik ke kamar nya. Sebenarnya ia tidak sedang ingin mengambil barang. Tetapi ia ingin menghubungi Reyhan secara langsung.


Begitu ia sampai di kamar, Andrea kembali mencoba menghubungi suami nya itu. Dan lagi lagi ponsel Reyhan belum juga aktif.


Kemudian Andrea pun juga mencoba menghubungi Syanala. Dan usahanya kini membuahkan hasil.


"Halo, Ia mbak Andrea, ada apa?" tanya Syanala di sebrang sana.


"Tadi aku kirim pesan ke nomor mu tidak aktif?" tanya Andrea melalui sambungan telepon langsung pada Nala.


"Ia Mbak maaf, aku baru saya mengaktifkan posel ku. Biasa mbak kehabisan baterai." jawab Nala.


"Apa sudah jam segini kalian belum bersiap. Seharusnya di sana ini sudah siang." tanya Andrea menyelidik.


"Hari ni jadwal meeting nya malam Mbak, jadi Kami santai." jawab Nala.


"Maksudnya, maksud mu apa? Kita.? tanya Andrea karna Nala menyebutkan "kita".

__ADS_1


"Maksud aku, Pak Reyhan mungkin masih di kamar nya Mbak, karna aku belum bertemu beliau." jawab Nala yang kini suaranya berubah terdengar gugup oleh Andrea.


"Baiklah, sampaikan pada Reyhan jika kau sudah bertemu dengannya, untuk segera menghubungi ku." perintah Andrea pada Nala.


"Baik Mbak, pasti akan saya sampaikan. Ada lagi pesan yang lain?" tanya lagi Nala.


"Tidak ada, itu saja." jawab Andrea kemudian dia menutup sambungan telepon nya.


Setelah pangilan telepon itu berakhir, Andrea berdiam diri di tempat nya. Seperti sedang berfikir sesuatu.


Kemudian Andrea berjalan kearah ruang kerja Reyhan yang berada di sebelah kamar mereka.


Sesampainya ia di ruang kerja suami nya, Andrea nampak mencari cari sesuatu. Di buka nya beberapa laci di ruang kerja sang suami. Ia mencari cari sesuatu entah apa.


Kemudian Andrea beralih ke meja kerja Reyhan. Andrea kembali mencari sesuatu di balik beberapa tumpukan dokumen yang ada di atas meja.


Lalu pandangan mata Andrea kini tertuju pada laci di meja kerja Reyhan.


Andrea kemudian membuka laci tersebut.


Dan, tak sengaja, Andrea mendapati sebuah brungkusan alat kontrasepsi.


Betapa kagetnya Andrea saat mendapati alat kontrasepsi itu tersimpan di laci suami nya.


Karena selama ini, diri nya dan Reyhan tak pernah menggunakan alat pelindung saat berhubungan badan.


Seketika tubuh Andrea lemas. Pikiran negatif kembali terbayang-bayang di benak nya.


"Apa ia kamu berselingkuh Rey. Rasanya aku tidak percaya. Tapi buat apa alat kontrasepsi ini ada di ruang kerja mu. Padahal sekali pun kamu tidak pernah memakai pengaman jika kita berhubungan." guman Andrea dalam hati. Dah hal itu sudah cukup membuat kelapa nya pening.


"Mom, Mommy aku sudah telat pergi ke sekolah Mom,!" teriak Isabella dari lantai bawah. Andrea yang mendengar teriakkan sang putri pun, kini mengembalikan lagi alat kontrasepsi yang ia pegang ke dalam laci lagi.


"Ya sayang, Mommy turun." balas Andrea. Kemudian ia meninggal ruang kerja Reyhan dan berjalan menuruni tangga, bergegas ke arah Bella yang kini telah siap untuk pergi ke sekolah.

__ADS_1


Dan di dalam mobil, di sepanjang perjalanan mengantar Bella sekolah, pikiran Andrea semakin kacau.


"Mommy kenapa, kau dari tadi diam saja." tanya Bella.


"Mommy tidak apa apa sayang, Mommy hanya memikirkan pekerjaan Mommy di kantor." jawab Andrea berbohong.


Setelah mengantarkan sang putri ke sekolah, kini Andrea yang duduk di bangku belakang mobil mewah nya siap untuk menuju kantor nya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Mas, tadi Mbak Andrea menelpon ku." ucap Nala ketika mereka sedang sarapan bersama di Breakfast Room di hotel tempat mereka menginap. Mendengar ucapan Nala, seketika itu juga Reyhan tersedak. Nala dengan perhatian langsung memberikan Reyhan segelas air putih.


Reyhan kemudian meraih gelas itu dan minum nya. Setelah beberapa saat tersadar. Reyhan nampak mengumpat.


"Brengsek....Kenapa aku bisa ceroboh sekali." umpat Reyhan. Yang tanpa bicara lagi, kemudian dia berdiri dan berlalu dari kursi nya. Meningalkan ruang Breakfast.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Nala, namun Reyhan tak menanggapi teriakan Nala.


Dengan langkah gontai, Reyhan berjalan menuju kamar hotel nya. Begitu dirinya telah sampai di dalam kamar, Reyhan langsung menyambar ponsel nya yang masih tersambung dengan kabel mengisi daya tersebut.


"Sial, bagaimana aku bisa lupa menghubungi Dea." umpat Reyhan kesal pada diri sendiri.


Setelah Reyhan menunggu beberapa saat, kini ponselnya sudah kembali aktif.


Dan benar saja, setelah ponselnya kembali aktif, notifikasi bersautan terdengar di ponselnya. Beberapa pangilan telepon dan juga pesan dari Andrea menumpuk.


Andrea



Reyhan


__ADS_1


Syanala



__ADS_2