Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Kebahagiaan Kita Bersama


__ADS_3

Andrea nampak tertidur dengan sangat pulas setelah beberapa jam yang lalu ia berjuang dengan sekuat tenaga untuk melahirkan sang putra. Reyhan yang baru saja datang ke ruangan pemulihan, tersenyum saat mendapati sang istri tertidur dengan sangat pulas dan tenang. Sambil berdiri di sisi ranjang Reyhan memperhatikan wajah Andrea yang terlihat keletihan itu, tapi tetap terlihat cantik.


Reyhan yang juga nampak lelah itu kemudian memilih untuk tiduran di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Baru saja Reyhan memejamkan mata. Suara pangilan menyebut namanya membuat ia kembali membuka matanya.


"Rey, di mana bayi ku."


"Bayi kita." ralat Reyhan yang kemudian menggeliatkan badannya beberapa detik dan setelah itu terduduk di sofa.


"Dia anak ku." ucap Andrea penuh penekanan.


"Tapi dia juga putra ku. Kita berdua membuat nya." goda Reyhan sambil menyunggingkan senyum.


"Terserah kau saja. Di mana dia?" tanya lagi Andrea tidak sabaran.


"Dia masih di dalam ruangan NICU"


"Memang kenapa dengan nya, ada apa dengan putra ku?" tanya Andrea seketika panic.


"Tidak apa apa, dia baik baik saja. Dia hanya perlu penanganan sedikit hal." jelas Reyhan santai.


"Rey, aku tidak tenang. Aku mau melihat putra ku." ucap Andrea dengan nada suara cemas. Reyhan dengan langkah cepat langsung menahan Andrea yang hendak turun dari tempat tidur di rumah sakit.


"Tenang Dea, tidak ada hal yang harus di kawatir kan. Anak kita baik baik saja. Sebentar lagi juga akan di bawa kemari. Kau harus ingat, kau ini habis melahirkan."

__ADS_1


"Tapi aku tidak tenang sebelum melihat nya." rengek Andrea. Reyhan kemudian berfikir sejenak.


"Ya sudah, aku ambil kursi roda dulu kalau begitu. Kata dokter Karina, kamu belum boleh terlalu banyak jalan. Kamu mendapatkan beberapa jahitan di **** ********** mu kan." mendengar nasehat Reyhan, akhirnya Andrea pun menurut.


Akhirnya dengan di bantu Reyhan menaiki kursi roda, Andrea di antara ke ruang NICU untuk melihat bayi nya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Andrea nampak tajub ketika sang putra sudah ada dalam gendongannya. Andrea tak henti hentinya menciumi pipi gembul sang putra. Bagi nya, bayi itu sangat menggemaskan dan membuat hati nya di hujani kebahagiaan.


"Mommy bangga dan sangat beruntung memiliki mu sayang. Mommy sangat sayang dan mencintai mu." tutur Andrea penuh cinta.


"Kau juga bangga dengan ku kan?" cetus Reyhan yang tiba tiba saja sudah ada di samping Andrea yang tengah mengedong putranya di tempat tidur.


"Jika bukan dengan ku tidak akan ada dia sayang." Reyhan berucap sambil ikut duduk di sisi Andrea dengan satu tangannya melingkar di punggung wanita yang makin ia sayang itu. Andrea terus fokus menatap sang putra sambil mengoda sang putra dengan suara lembut. Sepertinya hati Andrea sedikit luluh saat ini. Dia tidak menolak setiap sentuhan yang Reyhan lakukan pada nya. Bahkan saat di mobil dan sebelum ia menjalani persalinan. Andrea terus berada di dalam dekapan dan pelukan Reyhan. Setiap perhatian yang Reyhan berikan selalu di sambutnya dengan baik.


Dan hingga kini, bayi nya sudah lahir pun, Andrea masih bersikap menurut. Tidak seperti biasanya yang selalu menolak segala bentuk sentuhan yang Reyhan lakukan dan lebih banyak menghindar.


"Jadi, nama apa yang pas untuk anak kita?" tanya Andrea di sela sela ia dan Reyhan menikmati moment bertiga dengan penuh rasa syukur.


"Aku ambil nama depan yang kau rekomendasikan, dan aku menambahkan nama tengah yang aku sudah pilih, serta membubuhkan nama Dimitri di belakang."


"Jadi, siapa nama yang pas untuk nya?"

__ADS_1


"Alden Sebastian Dimitri. Kita akan memanggilnya Alden. Bagaimana?"


"Bagus, aku setuju." jawab Andrea tersenyum tipis.


"Hai baby Alden. Kau tampan sekali, mommy sangat menyayangi mu." Andrea gemas sekali dengan bayinya, dan terus saja menciumi baby Alden.


"Dia tampan, perpaduan gen yang pas antara diri mu dan diri ku. Aku harap, dia semakin membuat kita makin akrab kembali dan membuat kita kembali menjalani kehidupan rumah tangga seperti dulu." Reyhan mulai berandai-andai.


"Jangan bahas itu dulu Rey. Aku tidak mau memikirkan hal hal yang tidak begitu penting saat ini. Saat ini aku hanya ingin berbahagia tanpa harus kembali memikirkan hal hal yang berat. Kita sekarang telah menjadi orang tua yang baru lagi. Ada Alden dan juga ada Isabella. Ya Tuhan, ngomong ngomong soal Isabella, aku kangen dengan anak gadis ku itu."


"Dia baik baik saja di rumah. Dia sudah tau adiknya sudah keluar. Besok aku akan membawanya kemari untuk menjenguk mu."


"Oh ia, aku juga sudah kangen dengan nya. Dan tak sabar bagaimana reaksi nya melihat baby Alden."


"Pasti dia akan sangat gemas sekali. Andrea, seperti nya baby Alden haus, berilah dia ASI." ucap Reyhan sambil menyentuh mulut baby Alden yang nampak mencari cari sesuatu dan bergerak gerak lemah.


"Apa kau haus sayang. Baiklah, sini mommy kasih asi." celoteh Andrea yang dengan spontan membuka kancing demi kancing baju nya dan ingin memberikan baby Alden ASI. Tapi begitu Andrea hendak mengeluarkan satu sisi ***********, tiba tiba ia mengurungkan nya.


"Rey, bisa kah kau pindah dulu di sana." Andrea berucap sambil menunjuk ke arah sofa.


"Memangnya kenapa jika aku tetap di sisi mu. Kau tau tidak, membuat bahagia perasaan ibu menyusui itu baik untuk mu, hal itu bisa memperlancar produksi ASI mu saat ini." jelas Reyhan.


"Tapi kita sedang marahan Rey, ingat."

__ADS_1


"Siapa bilang kita marahan. Dari kemarin kau selalu memeluk ku. Bahkan kau nyaman jika aku peluk." jawab Reyhan puas dan tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2