
"Nala," sapa Reyhan, yang kini dia sudah ada di kamar mereka di Penthouse. Nala yang sudah tertidur kemudian mengerjap.
"Mas Reyhan." sapa Nala, yang kemudian ia bangkit dari posisi tidurnya. Reyhan yang kini duduk di sisi rajang tersenyum, kemudian menyisipkan beberapa helai rambut Nala yang berserakan di area pipi.
"Jam berapa ini Mas." tanya Nala yang masih belum sadar sepenuhnya dari tidur lelapnya tadi.
"Jam 11 malam. Maaf ya seharian tak memberikan mu kabar. Dan kemarin malam juga aku mereject pangilan telepon mu." ucap Reyhan meminta maaf pada Nala. Kerena dia menolak panggilan telepon dan juga tak membalas pesan pesan Nala.
"Iya mas, aku paham. Aku tau posisi ku, jangan kawatir." jawab Nala pasra sambil menunduk. Melihat expresi wajah sedih sang istri siri tak hayal juga membuat Reyhan merasa bersalah. Reyhan kemudian meraih tubuh Nala dan memeluknya.
"Kemarin aku bersama Andrea. Kau tau kan aku sedang memperbaiki hubungan ku dengan nya."
"Iya, aku tau. Mas sudah makan?" tanya Nala, yang memang orangnya sangat perhatian.
"Aku sudah makan sayang. Kamu sudah makan belum?" tanya balik Reyhan.
"Aku belum makan."
"Ko belum makan, sini ayo ke ruang makan. Aku temani kau makan."
Kemudian Reyhan mengandeng tangan Nala beralih menuju ruang makan. Nala kemudian mengambil makanan dari lemari pendingin dan memanaskan nya di Microwave. Setelah makanannya sudah panas Nala membawa satu mangkuk makanan pasta itu ke meja makan.
"Mas mau, aku bisa berbagi?" ucap Nala menawarkan.
"Tidak usah sayang. Aku sudah makan tadi." jawab Reyhan sambil meminum minuman soft drink yang Nala berikan pada suami nya.
Kemudian Nala pun menikmati makanan nya. Dan dari tempat duduknya, Reyhan menatap tak berkedip Nala yang sedang asik menikmati makan malam yang sudah terlambat itu. Dari dalam hati nya, Reyhan merasa kasian pada Nala karena ia merasa tidak begitu bisa memperhatikan sang istri siri nya itu. Walau ke dua nya sering berjumpa di kantor, pekerjaan yang numpuk dan kesibukan masing-masing tak bisa memberikan waktu buat mereka untuk saling memperhatikan. Apa lagi kini Reyhan seolah-olah juga menjaga jarak pada Nala.
Dan kini perasaan Reyhan di liputi rasa dilema. Di satu sisi ia sedang membangun kembali kepercayaan Andrea pada nya. Dan di lain sisi ia malah mengabaikan Nala. Dimana saat mereka kala itu sedang di mabuk cinta, Reyhan banyak mengucap kata kata manis dan penuh janji pada Nala. Dan kini janji janji itu seolah menjadi buah simalakama untuk Reyhan. Karena semakin ke sini ternyata ia semakin sulit untuk bisa membagi waktu.
Apalagi hubungan nya dengan Nala sampai detik ini masih di rahasiakan. Hal itu semakin menambah membuat Reyhan di landa kekawatiran.
"Mas, kenapa nomor ponsel ku kamu blokir?" ucap Nala akhirnya. Setelah ia menahan nahan nya tadi untuk bertanya.
"Maaf jika aku kurang sopan mas, aku tau posisi ku hanya lah istri siri, tapi apakah aku sekarang tidak boleh menghubungi mu di jam jam tertentu?" tanya Nala yang kini sudah selesai makan itu.
__ADS_1
"Maaf Nala. Mas minta maaf karena sudah memblokir nama mu dari ponsel ku. Aku ke sini untuk membuat kesepakatan dengan mu."
"Kesepakatan apa mas?" tanya Nala bigung.
"Aku tidak akan lagi memperkerjakan mu sebagai sekertaris ku."
Deg. Apa yang Nala dengar dari suami nya membuat ia kaget.
"Maksudnya mas Reyhan, Aku di pecat!" ucap Nala mempertegas.
Renyah kemudian berjalan ke arah Nala yang masih duduk di kursinya. Reyhan menarik satu kursi yang lain dan duduk berdekatan dengan Nala. Reyhan kemudian meraih tangan Nala yang ada di atas meja. Mengengamnya dengan kedua tangannya.
"Aku tau ini hubungan yang sulit. Tapi aku mencoba tetap untuk menjalani ini Nala. Aku punya janji dan tangung jawab terhadap mu dan juga Andrea. Aku sedang berusaha untuk melakukan itu, dan aku ingin tetap mempertahankan kalian."
"Dan dengan memecat ku sebagai sekertaris mu salah satu nya jalan." jawab Nala.
"Nala, aku harus membuat jarak untuk mu di hadapan Andrea. Aku tidak ingin keberadaan kita yang deket membuat Andrea curiga. Kau tak perlu bekerja sayang jika kau mau. Aku akan menanggung hidup mu."
Mendengar itu Syanala kemudian menarik tangannya yang dari genggaman Reyhan.
"Apa kau pikir aku wanita matre Mas. Apa kau pikir aku rela menjadi istri siri mu karena aku menyukai uang mu." kilah Nala merasa tidak suka jika di anggap wanita yang hanya mengharapkan pemberian.
"Jangan marah dulu sayang." bujuk Reyhan.
"Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk mu."
"Apa?"
"Bukahkan kau pernah bilang, kau ingin usaha cafe. Aku sudah siap kan sebuah ruko untuk mu. Jika ada waktu kita bisa meninjaunya."
"Aku tidak ingin kau mengeluarkan uang untuk ku berlebihan mas."
"Aku tau kau bukan wanita seperti itu, itu bukan pemberian cuma cuma. Ruko itu hadiah untuk mu. Karena bantuan mu aku dapat banyak tender kan. Itu hak mu sayang. Lagi pula kau kan istri ku, sudah berapa kali aku bilang, kau dan Andrea punya kedudukan sama. Bedanya hanya Andrea istri sah ku secara hukum."
"Jangan samakan aku dan Mbak Andrea Mas. Jelas aku dan dia berbeda, Mbak Andrea akan selalu spesial untuk mu."
__ADS_1
"Soal itu jangan di bahas. Hidup ku dan hidup Andrea urusan ku dengan nya. Dan hidup ku dengan mu adalah urusan kita. Kau harus maklum Nala, aku punya dua kehidupan rumah tangga. Jadi aku harap kau paham."
Ucap Reyhan kemudian mengelus rambut panjang Nala.
"Sudah larut, kembali lah tidur."
"Mas mau nginap?" tanya Nala.
"Aku pulang Nala."
"Ayo ku antara kau ke kamar."
"Tidak usah, ku antar dulu mas Reyhan sampai ke pintu." jawab Nala.
"Baiklah,"
Kemudian Reyhan dan Nala sama sama bangkit dari duduknya. Sambil bergandengan tangan mereka berjalan menuju pintu.
"Hati hati di jalan ya mas."
"Iya, besok aku berikan no kontak yang baru untuk mu. Nomor itu khusus untuk mu, untuk kita bisa berkomunikasi. Jadi kau tak perlu menghubungi ku di no nomor ponsel ku yang biasa."
"Aku mengerti. Aku sudah paham," jawab Nala yang memang orangnya sangat peka dan pengertian.
"Hati hati ya, aku pulang dulu." ucap Reyhan kemudian melabuhkan kecupan manis di bibir Nala dan juga di kening istri siri nya itu.
"Sampai ketemu besok di kantor."
"Minggu-minggu terakhir aku sebagai sekertaris mu" jawab Nala mencoba tersenyum walau berat hati.
"Selamat malam sayang."
"Selamat malam Mas,"
Syanala
__ADS_1