Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Mempergoki


__ADS_3

Dan akhirnya dalam rapat itu di sepakati bahwa kini perusahaan Dimitri Corp telah resmi di akusisi oleh perusahaan Sahara Corp. Semua saham yang dimiliki Dimitri Corp sekarang sudah beralih ke Sahara Corp.


Tidak hanya itu, Reyhan juga harus mengganti rugi beberapa kerugian perusahaan. Karena beberapa orang telah menarik kerjasamanya. Dan Andrea lah yang dengan berani membayarkan semua kerugian yang di alami beberapa partner bisnis di Dimitri Corp. Andrea membayar lunas seketika itu juga, kepada mereka yang merasa di rugikan.


Meeting kali itu telah usai. Reyhan juga sudah menandatangani proposal pengalihan saham 100 kepada sang istri.


"Selamat Andrea, kau menang." Ucap Reyhan pada sang istri sambil memberikan tangannya ke arah Andrea dengan maksud ingin berjabat tangan. Namun Andrea tidak menanggapi.


"Kemasi barang barang mu di kantor. Ruang direktur itu kini menjadi ruangan ku. Dan aku ingin mengganti semua furniture yang ada di dalam ruangan itu. Termasuk sofa pajang di sana. Aku rasa sofa itu menjadi tempat kalian berbuat mesum selama ini di kantor." Ucap Andrea tanpa menoleh kearah Reyhan.


Tetapi malah sibuk membereskan beberapa dokumen yang masih berserakan di meja rapat.


"Aku sudah tidak ada kepentingan untuk ke kantor lagi. Jika kau ingin membuangnya, buang saja." Reyhan berkilah, dan lagi lagi Andrea cuek tak menanggapi.


"Aku sudah iklas dan merelakan perusahaan ku kau ambil. Tapi aku tak akan iklas melepaskan mu."


"Jika sudah tidak ada kepentingan, pergilah. Dan tunggu saja surat pengajuan perceraian kita. Pengacara ku sedang mengurus itu." Tutur Andrea, yang berucap tanpa sedikitpun menatap wajah sang suami, Reyhan.


Reyhan yang sejak tadi masih bisa bersikap sabar. Nampak terlihat emosi saat Andrea menyinggung surat perceraian. Kemudian Reyhan berjalan mengitari meja rapat, dan setelah ia berada deket di sisi Andrea, Reyhan meraih lengan Andrea dan berbicara dengan nada serius.


"Apa kau udah tidak punya etika berbicara yang sopan dengan suami mu. Aku sudah iklas tentang perusahaan, silahkan ambil. Tapi aku tidak iklas dan tak akan pernah iklas untuk melepaskan mu."


"Sakit Rey, lepaskan." Tutur Andrea sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Reyhan di lengannya.


"Kau akan tetap menjadi milikku, dan akan selalu menjadi istri ku seorang."


"Tapi aku tidak akan pernah sudi untuk berbagi suami dengan wanita itu." Balas Andrea dengan tatapan menghunus ke arah Reyhan. Tatapan penuh kebencian dan juga kekecewaan yang mendalam. Reyhan nampak mengendurkan cengkraman tangannya dari lengan Andrea, ketika ia menatap tatapan sang istri yang tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Aku tidak puas jika hanya merebut perusahaan mu. Kau punya hutang terhadap ku. Bisnis adalah bisnis Tuan Reyhan Aditya. Dalam bisnis tidak ada kata suami istri, kakak atau adik, atau bahkan saoudara. Dan kau, aku tunggu etikat baik mu untuk menyerahkan surat surat kepemilikan dua Penthouse yang kau beli dengan uang perusahaan dan juga mobil baru yang akan kau berikan pada wanita itu. Jika itu masih kurang untuk menutup hutang perusahaan, selebihnya kau harus tetap membayarkan hutang mu pada ku dengan uang cash. Jadi urusan hutang piutang antara kau dan aku belum beres Tuan Dimitri."


Setelah itu Andrea bergegas pergi meningalkan ruang meeting dengan langkah cepat. Kini hanya Reyhan yang masih berada di ruangan itu.


"Sial," umpat Reyhan sambil mengebrak meja.


Deringan ponsel di saku celananya mengalihkan kegusaran Reyhan kala itu. Kemudian ia meraih ponselnya dan menjawab pangilan telepon tersebut.


"Ia Nala, ada apa?"


"Mas, Mas Reyhan di mana. Aku tidak bisa masuk ke dalam Penthouse. Apa kau merubah kodenya?" Tanya Nala dari sebrang telepon.


"Tunggu aku di Lobby gedung, aku segera kesana," Tutur Reyhan yang kemudian juga bergegas pergi meningalkan ruang meeting.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kemasi barang barang mu, kita akan meninggalkan Penthouse malam ini." Tutur Reyhan pada Nala.


"Aku kemari memang untuk meningalkan Penthouse ini Mas. Aku tidak pantas tingal di tempat mewah seperti ini. Dan aku juga menyerahkan kunci mobil ini pada Mas Reyhan." Ucap Nala sambil menyerahkan kunci mobil yang Reyhan baru berikan pada Syanala beberapa Minggu lalu.


"Mobil itu tak pernah ku pakai. Masih terparkir di tempat semula. Persis saat mobil itu tiba di bestment gedung."


"Kenapa kau tak memakainya?" Tanya Reyhan.


"Aku mau menikah dengan mu walau secara siri dulu, bukan karena kau punya segalanya Mas. Tapi karena aku mencintai sikap Mas Reyhan yang lembut dan penyayang." Tutur Syanala pada Reyhan.


Reyhan yang seharian ini di liputi perasaan gusar dan juga penuh emosi, seolah mendapat penyejuk mana kala Syanala bersikap manis padanya.

__ADS_1


Reyhan kemudian maju selangkah ke arah istri sirinya itu dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ramping Syanala.


"Kau selalu bisa menghibur ku Nala. Padahal saat ini aku sedang kacau. Kau tau, Andrea mengakusisi perusahaan ku. Dan kau juga pasti sudah tau, aku sekarang tidak punya apa apa lagi. Bahkan semua property yang aku berikan padamu harus ikut serta di sita. Jadi, maafkan aku sayang. Aku sudah mengecewakan mu." Tutur Reyhan dengan raut wajah lesu. Tak tega dengan nasib malang yang menimpa suaminya, Nala kemudian menangkupkan kedua tangannya ke wajah Reyhan.


"Aku turut sedih dengan apa yang kau alami Mas. Tapi aku yakin, Mas Reyhan mampu bangkit lagi suatu saat. Aku juga minta maaf, jika semua hal buruk yang menimpa Mas Reyhan pasti ada hubungan dengan ku."


"Kau tidak perlu minta maaf. Jika ada yang salah, aku lah orang yang paling bersalah." Tutur Reyhan dengan wajah memelas.


"Mas Reyhan. Sebaiknya aku mundur saja ya. Aku tidak ingin, karena aku, pernikahan Mas Reyhan dan Mbak Andrea menjadi taruhannya."


"Tanpa kau bilang begitu, Andrea kini sudah mengurus surat gugatan perceraian untuk ku." Tandas Reyhan jujur pada Syanala.


"Tidak Mas, jangan biarkan Mbak Andrea melakukan itu. Jika kalian bisa terus bersama, biarkan aku yang mundur. Mbak Andrea pasti tidak mau kan berbagi suami?" Reyhan tertegun, pikirannya sudah melayang tak tenang.


"Mas, dalam keadaan seperti ini, Mas Reyhan harus mengambil sikap. Bertahanlah, dan pertahanan pernikahan kalian. ceraikan aku Mas," Ucap Syanala, tulus.


"Aku sudah jadi orang jahat untuk hubungan kalian." Ucap Nala yang kini kedua mata nya sudah menganak sungai.


"Nala," Sebut Reyhan dengan nada suara tercekat, kemudian Reyhan menyerukan tangannya ke arah tengkuk Syanala, kemudian menarik wajah Nala untuk lebih mendekat ke wajahnya. Dengan gerakan pelan, Reyhan mendaratkan ciuman bibir ke arah bibir Syanala.


"Mas," Pangil Nala, namun pangilan itu semakin membuat hasrat Reyhan kian naik. Dan kini bukannya mencium bibir Nala dengan lembut dan pelan, melainkan Reyhan menguasai bibir ranum Syanala dengan posesif. Bahkan ciuman bibir mereka kini makin liar.


Reyhan kemudian mengiringi tubuh Nala kearah dinding terdekat. Dengan tak melepaskan ciumannya, Reyhan makin kalut dalam puncak gairah. Kini setelah tubuh Nala sudah dalam keadaan terdesak di dinding, Reyhan makin kalut dalam penguasaan pergulatan dan tautan bibir mereka.


Sementara, kini tangan Reyhan sudah tak bisa diam lagi. Tangannya ikut berexplorasi menelusuri tiap jengkal tubuh Syanala. Bahkan kini ia sudah menurunkan resleting celana panjangnya.


Saat Nala dan Reyhan kini sudah sama sama terbakar api gairah, tiba tiba saja sebuah suara mengagetkan mereka berdua.

__ADS_1


"Kenapa tidak sekalian saja kalian melucuti pakaian, rasanya akan semakin nikmat," Ucap seseorang itu, yang tak lain adalah Andrea.


__ADS_2