Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Season 2 Daddy Untuk Anak Ku : Camping Dadakan part 2


__ADS_3

"Bell's, beneran kita akan camping di sini?' tanya Reyhan begitu mereka telah sampe di lokasi yang di tuju.


"Benar Dad, ini tempatnya. Sudah sesuai di petunjuk arahnya." tukas Isabella sambil keluar dari mobil dengan perasaan hati yang senang.


"Ayo kita turunkan barang barangnya. Aku sudah bawa perlengkapan yang lengkap untuk kita camping di sini, dan tentunya kita akan menginap di tenda malam ini." imbuh Isabella yang kini sudah membuka bagasi belakang dan menurunkan beberapa barang.


"Dad, jangan diam saja. Ayo bantu aku turunkan barang barangnya." seru Isabella pada daddy-nya yang masih sedikit tercenang dengan ide putri kesayangannya itu.


"Kau pasti sudah buat rencana ini lama. Kalau tidak bagaimana kau bisa sesiap ini." ujar Reyhan sambil membantu sang putri menurunkan beberapa barang dari bagasi mobil belakang.


"Sudahlah Dad, jangan pikirkan itu. Yang penting anak anak mu bahagia kan, heeee."


Reyhan pun tak bisa lagi mendebat ucapan anak nya. Walaupun sebenarnya untuk bertenda dan bermalam ini lah yang membuat Reyhan tak enak hati pada Andrea.


Bagaimana pun dirinya dan Andrea sudah bercerai. Mereka bukan lagi pasangan. Yang membuat keduanya harus tetap berkomitmen untuk selalu berkomunikasi dengan baik adalah karena demi anak anak mereka.


Tetapi terkadang, Isabella selalu membuat ide ide yang mengharuskan Reyhan dan Andrea berkontrak fisik secara tidak langsung.


Pernah pada suatu hari, Bella memainkan sebuah permainan yang cukup konyol. Menutup kedua mata kedua orang tuanya dan dia menyuruh kedua orang tuanya itu untuk saling menemukan sebuah barang. Alhasil bukan barang yang mereka temukan, justru Reyhan dan Andrea saling berbenturan kepada sampai-sampai mereka terjatuh dengan saling bertindih.


Setelah tenda berhasil Reyhan dirikan, Isabella dan juga Alden nampak saling antusias untuk masuk ke dalam tenda. Kedua anak itu tak henti hentinya bercanda.


Sedangkan Andrea sendiri sibuk menyiapkan makanan. Dengan mengelar sebuah tikar, Andrea menata dengan rapi makanan dan juga minuman yang akan mereka santap sekalian untuk makan siang.


"Rey, bantu aku nyalakan api nya." pinta Andrea pada Reyhan yang saat itu kesulitan untuk menyalakan api di sebuah alat pemanggang. Reyhan pun kemudian menghampiri Andrea, dan membantu untuk menyalakan api pada alat pemanggang itu.


"Anak anak sudah lapar, biar ku bantu untuk memanggang nya."

__ADS_1


"Oke,"


Akhirnya, Reyhan dan Andrea bekerjasama untuk memanggang sosis, dan daging steak yang sudah mereka bawa dari rumah.


Setelah semuanya siap, Andrea kemudian memangil Isabella dan juga Alden. Dan mereka pun menikmati acara makan siang itu dengan suasana santai dan ceria di tempat mereka bercamping.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Rey," sapa Andrea pada Reyhan sambil mengenakan sebuah jaket tebal malam itu. Andrea menghampiri Reyhan yang nampak bersantai di dekat api unggun tak jauh dari tenda.


"Belum tidur." tanya Reyhan sambil tersenyum manis.


"Aku tidak bisa tidur. Jika tidak karena Isabella, aku tidak akan mau camping seperti ini." keluh Andrea, kemudian ia duduk di sebuah batu yang ada di sebrang api unggun yang Reyhan buat.


"Kenapa tidak mau?" tanya Reyhan penasaran.


"Maksudku, kita tidak harus bercamping di tempat yang sunyi seperti ini. Masih banyak lokasi camping yang terlihat ramai. Kita bukanlah pasangan suami-istri lagi Rey. Kita bersama hanya karena anak anak." tutur Andrea menjelaskan.


"Awalnya aku juga berfikir seperti itu. Tapi bukankah kita sudah cukup lama menjadi teman, bahkan sudah 7 tahun kita bercerai kita tetap bisa profesional dalam menjaga hubungan baik. Jika di tanya soal perasaan, tidak perlu ku jelaskan lagi. Aku masih mencintai mu sampai detik ini. Tapi aku juga sangat menghormati keputusan mu. Apa lagi kau sudah tunangan dengan Julian. Itu berarti, kau memang sudah berhasil membuang jauh jauh perasaan mu terhadap ku." tutur Reyhan.


"Sebaiknya jangan membicarakan masa lalu. Aku tidak ingin kembali mengungkit itu."


Reyhan kemudian menghela nafas berat. Dan tersenyum getir.


"Hidup banyak mengajari ku tentang arti nya kesetiaan. Tentang artinya kebersamaan, dan juga menyelami perasaan anak anak. Aku saat ini sudah sangat nyaman dengan hidup ku. Bersama anak anak dan bekerja, itu saja aku sudah bahagia."


"Kenapa kau mencari teman hidup. Kita sama sama masih membutuhkan pasangan," tukas Andrea, sambil menelisik ke arah mata Reyhan yang juga saat itu tengah memandang Andrea dari sebrang api unggun dengan tatapan penuh damba.

__ADS_1


"Ia, memang aku masih membutuhkan pasangan hidup. Tentu saja aku masih ingin. Tapi sayangnya aku tidak ingin mencari pasangan baru. Bagaimana jika aku menunggu mu?"


Deg, seketika hati Andrea bergetar saat mendengar penyataan Reyhan.


Sejauh ini penyataan Reyhan tetap sama. Dia masih menunggu Andrea untuk bisa menerima nya kembali. Dan sudah lama kata itu tidak ia ucapkan. Dan malam ini, penyataan itu ia dengar lagi.


"Itu tidak mungkin Rey. Aku sudah bertunangan. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Julian. Jangan menunggu ku. Kau berhak dan pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari ku. Aku tau, dulu selama menjadi istri mu aku juga banyak salah nya. Aku terlalu sibuk dan memang aku sangat sibuk. Bahkan anak anak saja lebih dekat dengan mu dari pada dengan ku. Aku bukan ibu yang baik dan mungkin juga bukan istri yang baik." ucap Andrea merendahkan diri.


"Kau wanita sempurna Andrea. Kau ibu yang baik, dan juga istri yang baik. Aku saja dulu yang kurang bersyukur. Jangan salah kan diri mu, soal anak anak, jangan di ambil hati. Selama kau selalu berusaha menjadi ibu yang baik mereka akan paham. Yang penting kamu selalu memperhatikan mereka."


Dan tiba-tiba saja percakapan yang membahas soal anak selalu saja membuat hati Andrea terunyuh. Dan kini kedua matanya sudah berembun oleh air mata.


"Aku hanya takut tidak di sayangi oleh anak anak ku sendiri." keluh Andrea yang kini justru malah makin berlinangan air matanya.


"Aku sebenarnya juga tidak ingin terlalu di buat sibuk dengan pekerjaan. Nyatanya menjadi CEO dia dua perusahaan besar benar-benar menyita sebagai perhatian ku."


Melihat sang mantan istri yang kini bersedih hati, membuat Reyhan makin tidak tega. Ia kemudian berdiri, dan melangkahkan kaki ke arah Andrea. Lalu ia duduk tepat di sebelah Andrea. Dengan sedikit ragu-ragu, Reyhan menyentuh pundak Andrea dari belakang. Dan mengelusnya pelan. Itu adalah sentuhan pertama kalinya setelah sekian lama ia tidak menyentuh sang mantan istri.


"Sabar Andrea, jangan bersedih. Bagaimanapun kau juga memikul tanggung jawab besar perusahaan. Banyak yang bergantung kepada mu. Para karyawan itu, semua pekerja itu. Mereka semua sangat bangga pada mu. Karena dari perusahaan mu mereka bisa menghidupi keluarga mereka. Jangan mellow," ucap Reyhan memberi dukungan.


"Terimakasih Rey. Terimakasih sudah memberikan ku dukungan."


"Sama sama," Reyhan kemudian menarik tangannya setelah Andrea merasa lebih tenang.


Reyhan,Andrea,Julian


__ADS_1


__ADS_2