Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Season 2 Daddy Untuk Anak Ku : Kehangatan


__ADS_3

Sesampainya Andrea dan juga Reyhan di Club pacuan kuda Isabella. Kedua orang tua itu nampak mengembangkan senyumnya. Ketika menyaksikan sang putri yang masih berlatih.




"Liatlah putri ku, dia luar biasa." guman Andrea bangga, ketika menyaksikan Isabella dengan sangat luwes nya berada di atas kudanya dan bergerak sangat singkron bersamaan dengan kudanya yang sedang berlari.


"Dia juga putri ku," sahut Reyhan tak mau kalah.


"Aku dan kamu tidak punya hobi berkuda, kenapa putri kita jadi suka berkuda?" guman Reyhan.


"Hobinya diturunkan dari Grandma dan Grandpa nya. Selama dia tinggal di Wellington beberapa bulan tahun lalu. Ia di ajak berkuda oleh Mama Dan Papa. Kami kan juga punya ternak kuda di sana. Papa mengajari Bella bagaimana caranya bisa menunggang kuda dengan benar. Dan akhirnya, keasikannya terbawa sampai ia kembali ke Indonesia." jelas Andrea.


"Aku ingin dia bisa menjadi dirinya sendiri. Tidak seperti diri ku yang memang sudah di didik dari kecil untuk urusan bisnis. Makanya aku tidak punya bakat apapun, kecuali berbisnis. Yang ku tau hanyalah bisnis dan bisnis. Kadang semua itu membuat aku bosan. Tapi aku bisa apa," keluh Andrea pasrah.


"Kau wanita sempurna Andrea." puji Reyhan.


"Pujian yang selalu aku dengar. Tapi aku sendiri tak merasa sesempurna itu." sangah Andrea lagi.


"Kau sempurna, cantik, elegan, seorang ibu, wanita karier dan.....,"


"Dan,?"ucap Andrea meniru kata terakhir yang Reyhan ucapkan.


"Dan apa?" tanya Andrea penasaran.


"Memuaskan di rajang." kata kata itu lolos juga oleh Reyhan. Tapi satu pukulan mendarat di lengan Reyhan. Reyhan rasanya sangat puas bisa menggoda mantan istrinya itu.


"Bisa kah kalian para pria kesepian tidak selalu membicarakan urusan tempat tidur." keluh Andrea, berbicara santai. Reyhan nampak tersenyum manis ketika ia berhasil membuat kesal sang mantan istri.


"Aku senang kita bisa tetap akrab seperti ini. Seperti kata ku, walau kita tidak lagi menjadi pasangan suami-istri. Kita bisa tetap menjadi teman."


"Yeah, tapi, please. Jangan bahas urusan ranjang. Dunia kita sudah berbeda Rey."


"Tapi kenangan itu tak bisa hilang. Aku masih bisa mengingat semuanya." ucap Reyhan lagi tak mau kalah.

__ADS_1


"Reyhan, please." ucap Andrea memohon.


"Okey," jawab Reyhan sambil tersenyum manis.


Akhirnya Reyhan pun menyerah untuk tidak mengoda Andrea.


Isabella di sela sela sedang menunggangi kudanya, ia menoleh kearah kedua orang tuanya yang berdiri di sisi tempat ia sedang berlatih.


Dengan melambaikan tangannya, Isabella nampak tersenyum manis. Reyhan dan Andrea pun membalas lambaian tangan anak nya mereka.


"Mommy, Daddy." teriak Isabella.


🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah Isabella selesai dengan latihan berkudanya. Mereka bertiga akhirnya meningalkan Club pacuan kuda dengan menaiki mobil milik Reyhan.


Di sepanjang jalan menuju arah rumah, Isabella tak hentinya bercerita berbagai hal soal latihannya hari itu.


Baik Reyhan dan juga Andrea sama sama antusias menangapi celotehan Isabella perihal hobinya tersebut.


"Apa tidak pulang dulu, sekalian ajak Alden. Kasian kan dia tidak di ajak makan." sahut Reyhan.


"Sekali kali tak apa lah Dad, tidak ajak Alden. Aku ingin me time sama Daddy dan Mommy. Ayolah," rengek Isabella. Reyhan dan Andrea kemudian saling pandang.


"Di depan ada restauran pitzza. Oke, kita makan pitzza." ujar Andrea sambil menengok kebelakang, kearah Isabella yang duduk sendiri di kursi penumpang bagian belakang. Isabella pun langsung mengembangkan senyum terbaiknya.


Sore hari yang redup. Hujan mulai turun gemericik membahasi seluruh jalan kala itu. Hawa dingin hujan membuat beberapa pengedara mobil maupun motor memilih untuk menepi atau berbelok ke arah beberapa kedai kopi atau kedai makan di pajang jalan.


Di sebuah restoran pitzza, tepat di sudut ruangan restauran. Sebuah keluarga nampak terlihat penuh kehangatan menikmati pitzza sambil mengobrol. Mereka terlihat riang dan begitu bahagia.


Sesekali mereka saling tertawa dan bahkan bercanda. Terlihat seperti keluarga yang sempurna dan harmonis.


"Mom, Dad, terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk menjemput ku sore ini. Bahkan mau aku ajak mampir untuk makan pitzza, walau tanpa Alden." cicit Isabella seusai dia menghabiskan beberapa potong pitzza kesukaannya.


"Kami menyayangi mu Bell's, dan juga sayang pada Alden. Kalian adalah hidup kami." tutur Reyhan.

__ADS_1


"Ya, aku sangat bersyukur punya orang tua yang hebat seperti kalian. Meskipun kalian sudah bercerai, tapi kalian selalu kompak dan tetap berhubungan baik. Banyak di luar sana, aku melihat, mereka yang sudah bercerai tidak bisa akur seperti kalian. Oleh sebab itu, aku tetap bersyukur walaupun Daddy dan Mommy berpisah, kalian tetap baik satu sama lain."


Andrea hanya tersenyum mendengar penuturan Isabella yang terkadang sangat dewasa itu.


"Sebentar lagi Mommy juga akan menikahi lagi. Dan aku akan menghargai keputusan Mommy. Begitupun dengan mu Dad, jika nanti kau juga memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita lain. Aku akan menerima itu."


Mendengar penyataan Isabella yang seperti itu. Membuat Andrea terunyuh. Hatinya terasa sesak dan perasaannya seketika di landa kegalauan.


Sedalam itukah perasa putri nya yang telah menerima dengan iklas keadaan kedua orangtuanya yang sangat ia cintai. Menerima dengan sangat terbuka, bahwa kini kedua orangtuanya sudah berpisah dan sudah mengikhlaskan semua.


Andrea sendiri tak habis pikir, jika Isabella bisa berfikir sedalam itu. Menerima setiap keputusan kedua orang tuanya yang bila suatu saat nanti hidup dengan mencari pasangan lain.


Padahal jauh di lubuk hati yang paling dalam. Andrea tau, Isabella sangat menginginkan dirinya dan Reyhan bersatu kembali.


"Bell's, apa kau sayang Mommy." tanya konyol Andrea pada sang putri. Hal terbesar yang ia takutkan adalah di tingalkan oleh Isabella.


"Tentu saja aku sayang Mommy. Karena aku sayang, aku merestui hubungan Mommy dan Om Julian." jawab Isabella dengan nada suara lembut.


"Apa Mommy jahat pada mu Bell's," tanya lagi Andrea, yang lagi lagi melontarkan pertanyaan konyol.


"Kenapa Mommy berfikir Mommy jahat. Mommy tidak jahat. Kata Daddy, jika aku benar-benar sayang Mommy, aku harus bisa menerima om Julian sebagai pendamping hidup Mommy. Dan aku sudah melakukan itu. Semoga Mommy bahagia bersama om Julian."


Tidak bisa lagi menahan rasa harunya, Andrea merentang lebar lebar kedua tangannya dan kemudian meraih tubuh Isabella untuk bisa ia peluk.


"Isabella," sebut Andrea sambil terus memeluk tubuh putri kesayangannya itu dengan sangat erat.


"Kau anak yang luar biasa. Maafkanlah Mommy sayang. Mommy sudah banyak salah terhadap mu."


"Kenapa Mommy malah cengeng begini. Isabella bahagia jika Mommy juga bahagia. Aku mulai sekarang tidak akan lagi memaksakan kehendak ku untuk membuat Mommy dan Daddy bersama lagi. Karena kalian memang sudah tidak bisa bersama lagi kan." tangis Andrea malah semakin menjadi jadi.


Reyhan yang bisa tersenyum melihat kedua wanita yang ia sayangi saling berpelukan.


"Kau ini, kenapa bisa sesedih itu. Ini, harus air mata mu." ucap Reyhan sambil menyodorkan sebuah sapu tangan miliknya pada Andrea.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Sekarang siapa yang terlihat egois. Desis Andrea pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2