Dua Istri Sang CEO

Dua Istri Sang CEO
Season 2 Daddy Untuk Anak Ku : Perhatian


__ADS_3

Sepanjang meeting penting siang itu, Reyhan terlihat sering bersin bersin.


"Kalau sakit kenapa di paksakan untuk ikut meeting." ucap Julian pada Reyhan sesaat setelah rapat selesai di kantor Sahara Corp.


"Meeting ini tidak bisa di wakili, aku yang bertanggung jawab untuk proyek ini. Jadi aku harus benar-benar memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Aku tidak ingin membuat kalian kecewa."tutur Reyhan, sambil membereskan beberapa file dokumen yang tadi telah selesai ia presentase kan di hadapan para rekan bisnisnya.


"Setelah ini kau langsung pulang saja Rey, sakit mu seperti tambah parah." usul Andrea.


Mendengar itu, Reyhan kemudian melirik ke arah Julian. Akan tetapi, expresi Julian biasa saja.


"Aku masih harus kembali ke kantor. Aku ada meeting juga bersama beberapa karyawan ku di kantor."


"Ya terserah saja jika kamu lebih mementingkan meeting dari pada beristirahat sejenak untuk kesehatan mu." tutur Andrea dengan nada ketus. Julian yang masih berada di ruangan itu hanya tersenyum tipis.


"Seharusnya kau ikuti saja perhatian dari mantan istri mu Rey. Dia masih peduli dengan mu loh," ledek Julian pada Reyhan. Setelah di tinggal berlalu oleh Andrea dari ruangan itu.


Reyhan kemudian tertawa getir. Dia sendiri agak bigung dengan sikap Andrea yang dari kemarin menaruh perhatian terhadap nya. Bahkan sikap perhatiannya itu terang terangan ia tunjukkan di hadapan Julian.


"Dia aneh dari kemarin," ujar Reyhan.


"Aneh bagaimana?" tanya Julian penasaran.


"Ya, aneh saja, Kau juga aneh," jelas Reyhan dengan nada suara frustasi, Julian kemudian tertawa kecil menangapi reaksi Reyhan yang bigung.


"Kapan kalian menikah?" tanya Reyhan menyelidik. Julian yang kala itu sedang meminum air putih di tangannya jadi tersedak.


Kemudian ia menatap ke arah Reyhan dengan tatapan misterius.

__ADS_1


Dalam hati, Julian tau, pasti Andrea belum memberitahu pada Reyhan jika rencana pernikahannya sudah batal.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sore itu, Andrea yang baru saja keluar dari mobil mewah nya sepulang dari kantor.Tiba-tiba hatinya tergerak untuk menyambangi rumah Reyhan.


Padahal, rumah yang letaknya persis berhadapan dengan rumahnya itu tak pernah sekalipun selama ini dia masuk atau bertamu ke sana.


Dengan berjalan kaki, Andrea bermaksud untuk mengecek kondisi Reyhan yang sejak tadi siangterlihat tidak sehat.


Sesampainya Andrea di rumah besar tersebut, ia langsung di sambut oleh pelayan. Nampaknya pelayan itu sudah tau jika Andrea adalah mantan istri sang pemilik rumah.


"Sore Bik, Reyhan ada di rumah." tanya Andrea dengan sopan.


"Ada Nyonya, Tuan Reyhan ada di kamarnya. Sepertinya, beliau sedang tidak sehat. Sepulang dari kantor tadi siang Tuan Reyhan muntah muntah." tutur pelayan itu.


"Dokter pribadi Tuan Reyhan sudah datang tadi, dan ini saya baru saja mau naik ke atas untuk membawakan obat serta sub hangat untuk Tuan Reyhan." jelas pelayan itu lagi. Kemudian Andrea nampak sedikit berfikir.


"Biar saya saja yang antar makanan dan obat nya Bik." ucap Andrea sambil mengangkat kedua tangannya untuk meraih nampan yang di bawa pelayan itu.


"Di mana letak kamar Reyhan?" tanya Andrea, karena ini adalah kali pertama ia akan masuk ke kamar Reyhan di rumah itu.


"Ada di lantai dua, tepat di sisi kamar nona Bella, yang pintu nya berwarna coklat." jawab pelayan itu.


"Oke, aku akan ke atas ya Bik,"


Andrea yang kala itu masih mengenakan pakaian kantornya, berjalan menaiki anak tangga dengan langkah pelan sambil membawa nampan berisikan sup dan obat untuk Reyhan.

__ADS_1


Sesampainya Andrea di pintu warna cokelat yang pelayan itu maksud. Andrea kemudian mengetuk pintu.


"Rey," pangil Andrea, tapi tidak ada sautan.


"Reyhan, ini aku. Kau baik baik saja?" cicit Andrea, tapi tidak ada sautan dari penghuni kamar si dalam sana.


"Aku masuk ya Rey," ucap Andrea lagi Andrea. Karena masih tidak ada sautan. Andrea pun kemudian langsung masuk ke dalam kamar itu. Begitu ia membuka pintu kamar, kamar tidur itu terlihat sangat gelap. Sang pemilik kamar rupanya tidak membuka kordeng jendelanya ataupun menyalakan lampu. Sehingga kamar itu benar-benar gelap gulita.


Tidak ada pantulan cahaya dari luar yang masuk ke ruangan itu sebagai penerang. Padahal, hari belum juga gelap.


"Kamar macam apa ini, sama sekali tidak nyaman." decak Andrea dengan perasaan kesal. Lalu dengan susah payah dan dengan mengandalkan pencahayaan dari pintu yang masih terbuka, Andrea mencari cari meja yang ada ruangan kamar itu.


Setelah Andrea berhasil meletakkan nampan yang ia bawa ke meja, ia kemudian berjalan lagi mendekati sebuah ranjang. Di mana seseorang nampak sedang meringkuk tidur di atas rajang dengan tanpa mengenakan pakaian atasan.


Sekilas, Andrea kembali mengamati seluruh ruangan kamar Reyhan. Andrea nampak mengelengkan kepalanya. Ketika mendapati kemeja dan juga jas milik Reyhan berceceran di lantai.


"Sejak kapan kamu menjadi orang jorok begini Rey," tutur Andrea, yang entah atas dorongan apa, ia kemudian mengambil kemeja dan juga jas Reyhan yang tergeletak di lantai. Lalu memindahkannya ke atas tempat tidur.


Andrea kemudian duduk di sisi rajang, tepat di samping Reyhan yang saat ini terlihat sedang tidur nyenyak dengan posisi tengkurap.


Sedikit ragu, Andrea kemudian meletakkan tangannya ke punggung Reyhan yang terexpose.


"Rey," pangil Andrea dengan nada suara lembut.


"Reyhan." pangil lagi Andrea.


Reyhan pun mengerjab, kemudian berbalik untuk memastikan suara siapa yang ia dengar itu.

__ADS_1


"Andrea," pangil Reyhan dengan nada suara parau. Ia tak percaya, jika Andrea saat ini ada bersamanya, di kamarnya.


__ADS_2