
Syanala POV
Aku kembali ke ruang kerja ku setelah dengan tidak sengaja melihat Mbak Andrea dan Mas Reyhan sedang asik bercumbu di sofa.
Apakah aku cemburu, tentu saja aku cemburu. Tapi apakah alasan untuk cemburu itu benar, tentu saja aku salah. Aku tau posisi ku, aku cukup tau diri.
Ternyata seperti ini rasa nya berbagai pasangan.
Apapun alasannya, hubungan ku dengan Mas Reyhan tidak akan ada benarnya. Walau di nilai dari sudut pandang manapun.
Dan sejujurnya Mas Reyhan juga sudah membohongi ku. Dia bilang akan memberitahu Mbak Andrea tentang pernikahan siri kami secepatnya. Tetapi apa, bahkan sampe detik ini Mas Reyhan tidak juga memberitahukan pada Mbak Andrea tentang pernikahan siri kami.
Dari awal aku hanya ingin keterbukaan, hingga aku dan Mbak Andrea tetap bisa saling menjaga hubungan baik.
Tetapi sepertinya aku salah, justru kini aku di hadapkan pada situasi yang sulit. Bahkan aku menjadi orang tersudut.
Aku percaya pada Mas Reyhan kala meminang ku waktu itu. Jika dia akan berlaku adil. Tetapi nyatanya Mas Reyhan masih belum berani jujur pada Mbak Andrea. Bahkan kini Mbak Andrea mulai curiga dengan ku.
Aku yakin, Mbak Andrea juga sudah mulai curiga dengan hubungan ku dengan Mas Reyhan. Jika sudah seperti ini, masalahnya akan menjadi lain. Pasti Mbak Andrea akan menganggap ku pengkhianat.
Kalau sudah begini, aku harus apa ?
"Nala, apa kau sudah mendapatkan salinan dokumen yang aku mau? suara Mbak Andrea yang tiba tiba terdengar mengangetkan aku.
"Sudah Mbak, ini dokumen nya." ucapku berdiri sambil memberikan dokumen yang Mbak Andrea minta.
"Bagus, terimakasih Nala." ucap Mbah Andrea ramah. Mbak Andrea memang seorang pribadi yang baik dan ramah.
"Oya Nala, lain kali jika mau masuk ke ruangan suami ku, biasakan mengetuk pintu dulu ya. Kau sangat tidak sopan tadi. Untung itu kamu, jika orang lain, mungkin aku sudah suruh Reyhan untuk memecat mu." dan perkataan Mbak Andrea membuat ku ciut.
"Maaf Mbak, aku minta maaf soal tadi." ucap ku sambil menundukkan wajah.
"No problem. Aku pamit ya. Sekali lagi terima kasih Nala," dan Mbak Andrea pun kini berjalan berlalu dari ruang kerjaku.
__ADS_1
Sesaat, aku memandangi kepergian Mbak Andrea. Aku mengenal Mbak Andrea sudah sejak lama.
Mendiang Ayah ku adalah orang kepercayaan Papanya Mbak Andrea. Sejak ayah sudah tidak bisa lagi bekerja untuk perusahaan, keluarga Mbak Andrea masih sangat baik pada keluarga ku. Bahkan kebutuhan hidup keluarga ku semua di tanggung oleh perusahaan keluarga Mbak Andrea.
Dan keluarga Mbak Andrea lah yang juga membiayai kuliah ku sampai aku lulus.
Setelah aku lulus kuliah, Mbak Andrea merekomendasikan aku untuk bekerja di perusahaan Dimitri Corp, perusahaan yang di dirikan Mas Reyhan.
Tiga tahun lamanya aku bekerja di divisi marketing di Dimitri Copr. Saat sekertaris Mas Reyhan mengundurkan diri, akhirnya aku di angkat oleh Mas Reyhan menjadi sekertaris nya. Dan hal itu juga atas persetujuan Mbak Andrea.
Saat itu perusahaan yang di pimpin oleh Mas Reyhan memang sedang berkembang sangat pesat. Hanya dengan hitungan beberapa bulan banyak sekali tender tender proyek yang di menangkan oleh Mas Reyhan.
Dan dari sana, aku sering sekali mengikuti Mas Reyhan di berbagi meeting dan seminar. Di mana ada Mas Reyhan, maka di sana akan ada aku jika itu untuk urusan pekerjaan.
Hingga pada suatu hari, Mas Reyhan sering mengeluh pusing dan banyak masalah pribadi yang terjadi antara diri nya dan mbak Andrea.
Mas Reyhan bayak cerita tentang masalah rumah tangga nya pada ku. Saat itu hubungan. Mas Reyhan dan Mbak Andrea memang sedang goyah.
Kesibukan masing-masing antara Mas Reyhan dan Mbak Andrea menjadi pemicu keretakan hubungan mereka.
Sebagai orang yang lumayan mengenal Mbak Andrea, apa lagi keluarga ku berhutang Budi pada keluarga Mbak Andrea, aku kurang setuju jika waktu itu Mas Reyhan ingin mengugat cerai Mbak Andrea. Aku mencoba menasehati Mas Reyhan bahwa itu keputusan yang gegabah. Apalagi mereka sudah ada anak. Dan Akhirnya Mas Reyhan mengurungkan niatnya.
Dari sana, aku sering memberikan Mas Reyhan nasehat. Dan makin lama chemistry diri ku dan Mas Reyhan semakin terjalin erat.
Bahkan pernah pada suatu malam, setelah kami selesai mengadakan meeting di sebuah hotel. Mas Reyhan mengajak ku untuk one night stand. Aku bahkan terkejut dengan keinginannya itu. Aku masih punya harga diri. Dan aku menolak keinginan Mas Reyhan waktu itu.
Hingga pada suatu ketika, musibah besar menimpa ku. Aku kehilagan orang tua ku secara bersamaan dalam sebuah insiden kecelakaan.
Aku merasa hancur karena di tingalkan oleh orang tua ku. Di tingalkan selamanya oleh kedua orang yang sangat aku cintai dan yang aku punya satu satu nya di dunia ini.
Setiap malam Mas Reyhan datang ke rumah ku hanya untuk sekedar menghibur. Perhatikan demi perhatian Mas Reyhan tujukan pada ku. Bahkan dia yang selalu ada bersama ku saat aku sedih dan merasa kehilangan. Aku merasa di lindungi oleh nya. Rasa sayang dan perhatian yang Mas Reyhan berikan pada ku, lama lama membuat aku luluh.
Percikan cinta itu bersemi dan tumbuh begitu saja terhadap pria yang sudah beristri itu. Di Tambah lagi dengan kebersamaan di berbagai kesempatan membuat hubungan ku dan Mas Reyhan kian dekat.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, Mas Reyhan tidak sabar lagi dan meminang ku. Aku masih punya akal sehat untuk berfikir waktu itu. Aku menolaknya keinginannya.
Tapi ternyata usaha Mas Reyhan tak berhenti. Di tambah lagi masalah rumah tangga Mas Reyhan sendiri yang semakin buruk. Mas Reyhan terus meyakinkan aku untuk mau di jadikan istri siri.
Dan akhirnya, aku kalah juga dengan pendirian ku. Perasaan mencintai pria beristri itu tak bisa lagi ku bendung. Rasa iba dan kasihan pada Mas Reyhan membuat aku luluh.
Dan akhirnya aku dan Mas Reyhan melangsungkan pernikahan siri kami di suatu tempat. Paman ku lah yang menjadi saksi pernikahan kami besama penghulu yang menikahkan kami.
Dan sejak saat itu lah aku sah menjadi istri siri Mas Reyhan Aditya Dimitri. Aku rela dan mau menikah dengannya bukan karena dia seorang CEO. Bukan juga karena dia kaya. Bukan karena dia bos ku. Kami aku mau dan rela menikah dengan nya karena aku memang jatuh cinta pada nya.
Tapi, saat ini. Hubungan aku, Mas Reyhan dan Mbak Andrea, sepertinya sudah tidak dalam kondisi baik. Seperti bom waktu, cepat atau lambat Mbak Andrea pasti akan tau semuanya. Tapi sebelum hal itu terjadi, aku ingin membicarakan ini dengan Mbak Andrea secara baik baik. Jika pada akhirnya di antara kami harus ada yang mengalah. Maka aku lah yang akan mundur.
Tapi aku harus apa, dan harus bagaimana ?
Mas Reyhan sudah berbohong pada ku satu hal. Ia selalu mengulur waktu untuk berkata jujur di hadapan Mbak Andrea tentang pernikahan siri kami.
Dan, entah apa yang kini sedang Mas Reyhan pikirankan dan sembunyikan.
Aku melihat Mas Reyhan sudah banyak melakukan drama kebohongan.
"Nala, sudah kau siapkan belum dokumen untuk meeting hari ini ? tiba tiba suara Mas Reyhan membuyarkan lamunanku.
"Iya Mas, hemmm Pak. Sudah, sudah siap." ucap ku pada Mas Reyhan yang tiba tiba saja datang. Sehingga membuat aku gugup.
"Kau baik baik saja kan Nala, kau terlihat cemas?"
"Aku baik baik saja Pak," Jawab ku singkat. Aku tidak mau perhatian Mas Reyhan di ruang kerja ku menjadi perhatian banyak orang. Terkadang Mas Reyhan suka lepas kontrol.
"Kalau begitu bersiaplah, kita berangkat bersama satu mobil !" perintah Mas Reyhan yang kemudian kembali berjalan ke ruangannya. Sedangkan aku kembali mengecek dokumen dokumen penting yang harus aku bawa untuk bahan meeting nanti.
Syanala Arunika
__ADS_1