
"Andrea," sapa Metthew dengan nada suara cemas.
"Ada apa Mett?"
"Syanala, menghilang. Tolong tugaskan Denis untuk menyelidiki Nala. Aku pinjam orang kepercayaan mu itu untuk mencari Nala. Untuk kali ini saja Andrea, aku minta tolong kepada mu."
Beberapa detik dari sebrang telepon, Andrea diam tak menjawab.
"Andrea untuk kali ini saja. Dan setelah ini aku tidak akan lagi menyusahkan mu."
"Berikan aku nomor ponsel Nala. Denis akan melacaknya." ucap Andrea dari sebrang telepon.
"Terimakasih kasih Andrea. Aku tidak akan lupa dengan semua kebaikan mu."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ada apa Dea, kau terlihat cemas." tanya Reyhan yang pada saat itu sedang memangku Alden. Mereka kala itu sedang bersantai di ruang tengah. Reyhan sudah dari pagi berada di rumah Andrea untuk menghabiskan waktu bersama anak anak mereka.
Tiap akhir pekan, biasa nya Andrea dan juga Reyhan selalu bersama demi anak anak. Meski sudah bercerai, mereka selalu kompak dalam pengasuhan dan juga memberikan kasih sayang serta memberikan perhatian penuh bagi Isabella dan Alden.
"Dea, ada apa." tanya ulang Reyhan terhadap Andrea yang nampak sedang berfikir.
"Syanala menghilang. Metthew menghubungi ku minta tolong pada Denis untuk mencari istrinya." mendengar itu Reyhan merasa ciut nyalinya. Jika sudah berhubungan dengan Syanala, Reyhan seolah-olah tidak ingin terlalu menunjukkan kepedulian. Walau sebenarnya ia juga penasaran.
Andrea akhirnya menghubungi Denis. Denis adalah orang kepercayaan Andrea untuk mengatasi masalah masalah yang berhubungan dengan mencari tau seseorang.
Andrea menjelaskan kepada Denis panjang lebar dan detil tentang apa yang harus Denis lakukan dan kerjakan.
Denis pun begitu mendapat tugas dari Andre langsung bergerak.
Setelah beberapa jam berlalu. Denis menghubungi kembali Andrea.
"Nyonya, nona Syanala saat ini berada di pantai. Saya sedang menuju ke sana sekarang."
__ADS_1
"Bagus Denis, share lokasi tempat di mana sekarang Nala berada." perintah Andrea.
"Baik Nyonya."
Beberapa jam setelah itu, Andrea yang merasa tidak sabar akhirnya memutuskan untuk menuju lokasi di mana Nala saat ini berada.
"Rey, ayo ikut aku."
"Kemana?" tanya Reyhan nampak bingung.
"Ikut saja," perintah Andrea.
"Baik lah. aku pangil pengasuh dulu." ujar Reyhan yang kala itu masih asik bercanda bersama sang putera.
🌹🌹🌹🌹
"Apa yang kau lakukan Nala. Apa kau sengaja mau bunuh diri?" cetus Andrea pada Nala, sesaat setelah ia kini berhasil di selamatkan oleh Reyhan dari gulungan ombak yang hampir saja menyeret Nala ke dasar lautan yang lebih dalam.
Sambil terbatuk-batuk, Nala berusaha untuk mengeluarkan air yang sudah sempat ia minum kala itu. Tidak hanya Nala yang kini basah kuyup, tetapi juga Reyhan dan juga Andrea. Jika mereka tidak datang tepat waktu, mungkin Nala sudah di gulung oleh ombak dan terhanyut ke dasar lautan sore itu.
"Ada selimut di bagasi mobil belakang. Tolong ambil Rey." perintah Andrea pada Reyhan. Reyhan pun menurut. Ia kemudian mengambil selimut yang lumayan tebal dari dalam mobil tersebut. Lalu menyerahkan selimut itu pada Andrea.
"Pakaikan pada Nala." perintah Andrea, sesaat Reyhan hanya diam. Mana mungkin ia memakaikan selimut itu pada Nala. Nala sendiri yang saat itu terduduk di sebuah bangku kemudian menoleh ke arah Reyhan dan juga Andrea yang berdiri di hadapannya.
"Untuk Mbak Andrea saja. Aku tidak apa apa." jawab Nala.
Ada perasaan kagum yang Nala rasakan pada Andrea. Wanita yang sudah ia sakiti hatinya. Wanita yang sudah dia hancurkan rumah tangganya. Tetapi wanita itu masih bisa bersikap baik dan tenang di hadapannya yang bahkan menurut Nala, dia tidak pantas mendapat perlakuan dan kebaikan yang Andrea berikan pada dirinya saat ini.
Sungguh aku manusia yang tidak tau malu ( protes Nala pada dirinya sendiri)
"Selimut nya buat mbak Andrea saja. Aku baik baik saja. Mbak Andrea juga basah kuyup." jelas Nala lagi Nala yang nampak pucat.
"Aku baik baik saja. Sebaiknya kau pake selimut ini. Wajah mu pucat." ucap Andrea tegas tanpa bisa di bantah lagi.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah itu, kini mereka bertiga berada dalam satu mobil. Nala dan Andrea duduk di bangku belakang sedangkan Reyhan berada di kursi kemudi, mengemudikan mobilnya.
"Apa kau mau bunuh diri tadi." cetus Andrea pada Nala yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak berniat bunuh diri Mbak. Aku hanya bermain main dengan ombak. Aku tidak sadar jika ombaknya pasang saat itu." jelas Nala sambil menunduk.
"Jangan bertindak bodoh Nala. Setelah kau menyadari kesalahan mu, lalu kau akan mengulangi melakukan kesalahan yang sama."
"Aku tidak tau lagi harus bagaimana Mbak." Nala tertunduk seperti orang yang kehilangan arah.
"Aku sudah hampir tidak punya kekuatan untuk hidup demi apa."
"Jangan buat mending paman dan bibi sedih di sana, karena anak nya kini berputus asa. Hidup lah demi dirimu, bukankah kau sudah menikah. Sekarang kau sudah punya pasangan, kau punya suami."
"Tapi aku tidak bisa membahagiakan Metthew Mbak. Aku akan sulit mempunyai anak. Sedangkan dia sudah sangat ingin punya keturunan. Aku semakin tidak pantas untuk dia yang terlalu baik."
"Metthew sudah memilih mu, dia sudah siap dengan konsekuensinya. Masalah itu untuk di hadapi, bukan di tingal pergi. Jika kau pergi seperti ini dengan dalih tak enak hati pada Metthew. Itu keputusan yang egois Nala. Kau sama saja sudah berkhianat pada nya, dengan meninggalkan dirinya." seperti layaknya seorang kakak, Andrea memberikan nasehat itu pada Nala. Padahal wanita yang ada di sampingnya itu adalah perusak rumah tangganya. Membuat ia kehilangan suami dan membuat anak anak nya tidak bisa tinggal satu atap dengan Daddy-nya.
Reyhan yang kala itu sedang fokus menyetir sungguh merasa terintimidasi oleh kelakuan yang pernah ia lakukan pada Andrea. Betapa ia sungguh kehilangan seorang istri sempurna seperti Andrea. Yang bahkan masih bisa berbaik hati pada Syanala dan mau menasehati nya. Bahkan orang pertama yang mengajaknya untuk mencari Nala ketika ia berada di lautan sore itu.
"Nala, aku bukannya tidak mengenal mu. Aku sudah mengenal mu sejak lama. Ayah mu adalah orang penting kepercayaan papa. Kita bahkan dulu sering bermain bersama saat kita masih kecil. Kita pernah main petak umpet. Kau dulu selalu ikut dengan ayah mu saat paman mengantarkan dokumen penting ke rumah. Aku mengenal mu Nala."
Syanala kemudian kembali terisak-isak. Reyhan yang kala itu fokus menyetir sebenarnya juga ikut mendengarkan apa yang di bicarakan dua wanita di belakang nya itu.
"Maaf kan aku Mbak Andrea. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku salah dan khilaf."
"Dengarkan ini Nala. Aku sudah memaafkan mu. Aku iklas dengan semua yang sudah terjadi. Semur hidup mungkin aku tidak akan lupa. Tapi aku memilih untuk berdamai dengan semua takdir ku. Aku dan Reyhan tetap bisa berkomunikasi dengan baik demi anak anak kami. Aku sudah tidak lagi merasakan sakit hati dengan mu atau dengar nasib ku. Karena aku sudah iklas dan menerima nya. Jadi, lanjutkan hidup mu. Pulang dan kembali lah pada Metthew. Hiduplah dengan bahagia bersama nya. Metthew orang baik, dia tidak pantas untuk kau tinggalkan. Dia panic dia kalut saat kau tidak ada."
"Mbak Andrea," tanpa bisa bayak bicara lagi, Nala kemudian berinsut dari tempat duduknya dan kemudian memeluk Andrea dengan begitu erat.
Andrea pun tiba tiba ikut merasa sedih. Dia berfikir, ke khilaf an Nala mungkin di sebab kan karena ia hidup sebatang kara. Tidak ada keluarga, saoudara dan juga orang tua yang mendampingi nya.
__ADS_1
Dan hal itu membuat dia merasa nyaman dengan orang yang memberikan ia kehangatan dan perlindungan. Termasuk perhatian dan cinta yang pernah Reyhan berikan pada Nala masa itu.