
Andrea POV
Jadi seperti ini rasanya di khianati. Aku sungguh tak menduga kau bisa sekejam ini pada ku Rey.
Jika waktu itu kau mendiamkan aku, aku masih terima dengan lapang. Tapi saat aku tau kau ternyata berselingkuh, bahkan kau sudah menikahi Syanala secara siri, itu sungguh menikam hati ku Rey. Aku tidak bisa menerima ini semua.
Apa kau sudah lupa bagaimana kisah cinta kita yang pajang dan berliku-liku kala itu. Apakah kau sudah melupakan perjuangan ku untuk tetap setia menunggu mu mengutarakan cinta.
Aku menyukai mu sejak kita bertetangga an dulu Rey, berlanjut sampai kita bertemu kembali saat kita sama sama kuliah di universitas yang sama di Amerika. Aku hanya menunggu dan menunggu, sampai waktu itu tiba kau menyatakan cinta pada ku.
Dan akhirnya kau pun mengutarakannya. Saat itu aku sangat bahagia Rey. Karena mencintai dalam diam terhadap mu rupanya tidak sia sia aku perjuangkan.
Setelah 20 tahun memendam rasa, akhirnya kita menikah. Kehidupan rumah tangga kita sangatlah sempurna. Kehadiran Isabella semakin membuat hubungan kita erat. Kau yang aku yakini seorang pria setia dan penuh cinta, tak ku sangka, di belakang kau menduakan aku.
Apa kau sudah lupa dengan perjuangan ku dulu Rey. Menolak banyak pria yang ingin menjadikan aku kekasih nya, bahkan banyak juga pria rekan bisnis Papa yang tertarik pada ku, tapi aku menolak mereka semua.
Karena aku hanya menginginkan kamu. Aku hanya ingin menikah dengan mu. Tapi apa yang terjadi sekarang, aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak suka kau perlakukan seperti ini. Aku tidak suka berbagi pasangan. Aku benci penghianatan.
Jadi, jika aku akan bersikap jahat pada mu, jangan salahkan aku Rey.
Apa kau juga lupa, tanpa bantuan dan campur tangan dari perusahaan Papa ku kau tidak akan se berhasil ini. Kau lupa siapa diri mu di awal awal kau meniti karir. Saat kau memulai berbisnis dari bawah perusahaan Papa ku lah pendukung pertama. Ketika kau sudah punya segalanya, lantas kau ber sombong diri. Bahkan kini kau berani menggunakan uang perusahaan untuk membeli Penthouse untuk dirinya.
__ADS_1
Liat saja Reyhan Aditya Dimitri, sejauh mana perusahaan mu akan tetap berjalan jika tanpa diri ku.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Ini Bu di minum dulu teh hangat nya" ucap Jenna asisten pribadi ku. Setelah aku puas bermain dengan air hujan di rooftop sampai tubuh ku mengigil, aku akhirnya memutuskan kembali ke dalam ruangan kerja ku di kantor.
Jenna yang saat itu memang aku suruh untuk tidak dulu pulang, setia menunggu ku di ruang kerja ku. Karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 5 sore sebagai karyawan sudah pulang. Suasana kantor sudah sepi, hanya tingal beberapa orang saja yang masih lembur.
"Jen, tolong kau pegang ponsel ku. Jika ada yang menghubungi ku bilang aku sedang meeting. Dan bila suami ku menelpon ku, bilang padanya untuk segera pulang ke rumah. Karena aku tidak akan pulang ke rumah malam ini." ucap ku pada Jenna.
"Baik Bu, akan saja jalankan." ucap Jenna patuh. Saat ini aku tengah duduk di sofa di ruang kerja, aku mengeraikan rambut panjang ku yang basah.
Setelah berganti pakaian, aku duduk di sofa sambil memegang minuman teh hangat yang Jenna buatkan untuk ku. Rasanya sekarang aku merasa lebih baik dan tenang.
"Angkatlah, dan bilang pada nya seperti apa yang aku minta."
Dan akhirnya Jenna mengangkat pangilan telepon dari Reyhan. Dari tempat kini aku duduk, aku bisa mendengar suara Reyhan. Karena Jenna sengaja meng loudspeaker panggilan itu.
Aku bisa dengar Reyhan menanyakan aku, dan aku juga bisa mendengar pesan pesan yang ia sampaikan pada Jenna untuk ku. Dalam hati aku sangat begitu muak dengan nya. Aku hanya bisa tersenyum getir mendengarkan kata kata perhatian Reyhan.
"Jangan pura pura peduli pada ku Rey. Jika kau dengan sengaja menyakiti hati ku." ucap ku dalam hati. Kemudian ku teguk lagi minuman hangat yang Jenna buatkan untuk ku.
__ADS_1
Luka hati itu seakan kembali menganga, setelah aku mengingat tetang beberapa alat kontrasepsi yang aku temukan di meja kerja Reyhan. Ternyata alat kontrasepsi yang tempo hari aku temukan itu memang miliknya. Dan pasti dia gunakan ketika dia berbuat mesum dengan Nala.
"Nala,"
Satu nama itu kini seperti sembilu bagi ku. Wanita itu tak ubahnya seperti duri dalam daging. Wanita itu pengkhianat, wanita yang tak tau diri. Perempuan yang tak beretika, di mana otak nya.
Aku mengira dia wanita yang lembut dan berpendidikan. Tapi ternyata dia sama saja seperti wanita wanita murahan yang sering menjajankan diri nya di rumah bordir.
Rendah sekali kau Nala. Kau lupa bagaimana keluarga ku sangatlah berbaik hati pada keluarga mu.
Ternyata aku selama ini salah menilai mu. Dan aku menyesal telah merekomendasikan diri mu bekerja di perusahaan Reyhan. Karena ternyata kau hanya seorang parasit. Dan Reyhan pun tak ubahnya seperti rubah. Aku benci kalian berdua.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Dea, bangun sayang." sebuah suara yang tak asing terdengar oleh panca indera ku.
"Dea, sayang." suara Reyhan kembali terdengar lebih dekat. Saat aku membuka pelan pelan mata ku, aku melihat nya berjongkok ke arah ku sambil mengelus rambut panjang ku yang masih basah.
"Kau demam sayang. Rambut mu juga masih basah. Sini duduklah, biar aku kering kan rambut mu." apa aku masih tersentuh dengan perhatian manisnya? Tidak lagi. Yang aku rasakan saat ini hanyalah kekecewaan, sakit hati dan muak.
Ingin rasanya aku menepis tangannya yang masih membelai rambut ku. Dan akhirnya aku bangkit dari tiduran, kemudian ku layangkan pandangan tajam ke arah Reyhan.
__ADS_1