GADIS BERCADAR PENGANTIN PENGGANTI TUAN KEJAM

GADIS BERCADAR PENGANTIN PENGGANTI TUAN KEJAM
115


__ADS_3

Mendapat anggukan dari gadis itu. Bima mengeluarkan dompetnya mengambil satu juta uang tunai yang berada di dalam dompetnya. Bima memang biasa menyimpan uang tunai di dalam dompet miliknya. karena dia sangat senang bersedekah pada pengemis pengemis di jalanan.


" Ambil uang ini saja. kau bisa menggunakan untuk membeli obat nanti jika obatnya sudah habis" kata Bima memberikan uang pada gadis di hadapannya.


Gadis itu menggeleng dengan cepat" Tidak Om. ini saja, " kata Gadis tersebut


" Ambil ini. atau kemarikan semula obat yang tadi kau ambil" Ancam Bima Pada Gadis di hadapannya.


Mau tidak mau Gadis itu terpaksa mengulurkan tangannya dengan ragu ingin mengambil uang dari tangan Bima yang bergelantungan.


Bima yang melihat gadis di hadapannya ragu. Langsung menaruh uang di tangan Gadis itu. Bima membalikan badannya ingin kembali membeli obat tapi mendengar suara wanita itu Dia menghentikan langkahnya melihat semula ke arah gadis tersebut.


" Tapi Om. Aku tidak memiliki uang untuk membayar uang ini Om. "Ucap Gadis yang biasa di sapa Ayuna

__ADS_1


Bima yang memang jahil dengan senyuman penuh arti di wajahnya Menjawab Gadis polos itu." Kau tidak perlu membayarnya. jika kau tetap ingin membayarnya. Bayar saja dengan Menikah dengan ku. kemudian ganti nama panggilan mu itu. jadi om suami tampan. Sepertinya cocok di dengar" Kata Bima yang memang memilik sikap iseng dan cerewet berlebihan.


Gadis itu melongo dan melihat Bima Dari atas sampai bawah, dari bawah naik lagi ke atas memastikan jika laki laki di hadapannya itu sehat. bukan pasien yang lari dari rumah sakit jiwa dan berpenampilan mewah kan. Fikir Ayuna.


" Te Terima kasih saja Mas. ma Maaf.." Kata Ayuna Gugup tidak ingin lagi memanggil Bima dengan sebutan Om. Dia baru sadar jika Bima tidak senang dengan panggilannya itu.


" Santai saja Ladies" Kata Bima tersenyum memperhatikan wajah Cantik gadis itu yang seperti memikul beban berat dari sorot matanya.


Bima masih melihat punggung Ayuna" Gadis itu terlihat memendam kesedihan yang mendalam. Sepertinya dia juga memikul beban berat di usia muda"Gumam Bima Kembali melangkah ke kasir untuk membeli Obat.


,,,,,,,,,


Aggam mengemudi ingin pulang ke Villanya. Menoleh pada istrinya yang dari tadi hanya diam saja. dia memang masih ngambek pada suaminya yang tidak ingin mengunjungi pamannya.

__ADS_1


Aggam menarik nafas melihat Aara yang ngambek. Melihat ada persimpangan di depan Aggam memutar Mobil mewahnya menuju arah rumah paman Dimas.


Aara heran melihat suaminya yang memutar kembali Mobilnya. Tapi Aara tetap diam. entah mengapa dia merasa emosinya sangat tidak stabil bawaannya sering ingin marah dan marah. Membuat Aara memilih diam. Dia takut jika mengikuti perasaannya dia akan menyakiti hati suaminya nanti.


Beberapa minit berlalu Aggam memarkir mobilnya di halaman rumah paman Dimas. Aara belum menyadari jika dia sudah berada di halaman rumah paman Dimas.


" Sayang... Katanya tadi mau ke tempat paman mu. Kenapa diam saja di mobil. Ayo kita turun dari Mobil " Kata Aggam tersenyum pada istri tercintanya.


Aara melihat keluar jendela. Ternyata benar dia sudah berada di Rumah paman Dimas.


Aara tersenyum bahagia melihat pada suaminya dan langsung memeluknya" Makasih Kak" Kata Aara masih belum melepaskan pelukannya pada suaminya.


" Tidak perlu berterima kasih sayang... Aku yang seharusnya meminta Maaf. karena aku terlalu egois dan tidak memikir kan mu yang juga masih memiliki keluarga. Maaf kan aku sayang" Kata Aggam merasa bersalah mengingat sikapnya selama ini terlalu menekan istrinya tanpa memikir kan jika istrinya masih memiliki paman yang harus dia kunjungi.

__ADS_1


__ADS_2