
"Baru pukul 11. Apa dia sudah pulang... Tapi dia baru pergi selama satu jam... dan perasaan aku juga mengunci pintu tadi" Gumam Aara yang mendudukkan tubuhnya di ranjang saat mendengar benda terjatuh dari arah dapurnya.
Aara mulai merasa waspada saat Aggam belum juga membuka pintu kamarnya. karena Aggam juga tidur di kamar itu.
Glek!
Siapa di luar. batin Aara berdiri ingin mengunci pintu kamarnya. saat akan mengunci pintu kamarnya tiba tiba pintu itu di tolak dengan keras dari luar. terlihat lah wajah sangar dua preman yang di bayar Oleh Rossa.
"Kalian siapa. kalian mau apa!" teriak Aara ketakutan.
"Hai gadis cadar... tenanglah.. bagaimana jika kita menikmati malam ini bertiga" ucap preman itu mulai mendekati Aara yang ketakutan.
"Pergi..!! " teriak Aara mengambil apa saja lalu melemparkan pada kedua penjahat itu. "Tolong!!!"
"Tidak ada yang akan mendengarmu cantik. " Mendekati Aara lalu menarik tangannya dengan kuat.
Buk!!
Aarkkhhh
Aara menendang ************ pria yang mendekatinya
__ADS_1
"Perempuan gila!!! jaga kau. tangkap dia" teriak preman itu lalu menyuruh temannya menangkap Aara.
Aara dengan cepat berlari keluar dari kamar. saat akan membuka pintu preman itu lebih dulu menarik nya dan membuka jilbab serta cadarnya.
"Arkkhhhh tolong!!!" teriak Aara yang sudah menangis histeris.
Preman preman itu tertegun melihat Aara yang sangat cantik" ternyata wajah mu seperti bidadari.... " ujar mereka yang melihat wajah Cantik dan Anggun di balik cadar Aara.
"Bawa dia masuk. kita di kamar saja hahaha. mimpi apa aku semalam dapat gadis secantik ini"
"Hiks Hiks Hiks jangan aku mohon lepaskan aku" teriak Aara dengan pakaian yang sudah di buka. Saat ini Aara hanya menggunakan tantop. karena dia memang sering memakai tantop dibalik baju sya'irnya
Penjahat itu menulikan telinganya lalu menarik tubuh Aara masuk ke dalam kamar. Aara tidak sengaja memegang sesuatu lalu kembali menggunakan benda itu untuk memukul mereka.
"Aarkkhh "teriak Aara kesakitan.
Tubuh Aara di penuhi oleh bekas kuku mereka yang menggoresnya kesana kemari. Aara terus berteriak. Tolong aku Robb. batin Aara yang sudah mulai di tindih oleh preman itu.
,,,,,,,,,,
Di Apartemen Rossa.
__ADS_1
Aggam dan Rossa sedang bercumbu di ranjang Rossa. tiap kali Aggam ingin melakukan nya bersama Rossa dia seperti melihat bayang bayang Aara di wajah Rossa. Aggam seperti memiliki firasat buruk tentang istrinya.
Aggam terus berusaha membuang bayang bayang Aara dengan menggelengkan kepalanya, tapi tetap saja dia tidak bisa.
Akhirnya Aggam menarik tubuhnya turun dari ranjang dan kembali memakai pakaian nya yang sempat dia buka.
Rossa heran melihat tingkah Aggam yang memakai bajunya kembali. "Kau mau kemana sayang." tanya Rossa yang hanya tinggal menggunakan ********** saja.
"Aku ingin pulang " Kata Aggam langsung melangkah ke pintu kamar Rossa.
"Kau jangan bercanda Aggam... kau sudah janji jika kau akan tidur dan menemani ku malam ini" kata Rossa turun dari ranjang mencegah tangan Aggam.
Bisa berantakan semua rencana ku jika dia pulang sekarang. batin Rossa
Aggam mengalih kan pandangannya menatap wajah cantik Rossa. tapi semangkin lama dia menatap Rossa, semangkin kuat bayang bayang Aara yang dia lihat melintasi fikirannya.
"Aku harus pulang. "Datar Aggam ingin melepaskan tangan Rossa yang mencegah nya.
"Kau berwajah Datar seperti itu padaku... kau berubah Aggam... jika kau pulang sekarang juga hubungan kita berakhir. " Ancaman Rossa yang sering membuat Aggam tidak berputik. Rossa mengencangkan pegangannya pada lengan Aggam.
Aggam terdiam menatap bola mata Rossa yang mengancam nya seperti biasa. "Maaf Rossa... aku harus segera pulang" Kata Aggam melepas paksa tangan Rossa dari lengannya lalu melangkah lebar turun dari apartemen Rossa dengan perasaan cemas memikirkan Aara. dia bahkan tidak peduli jika hubungan nya dengan Rossa harus berakhir.
__ADS_1
Yang berada di benaknya saat ini harus pulang menemui Aara dan melihat keadaannya.
Aggam masuk ke dalam mobilnya lalu menghidupkan mobilnya. melaju dengan sangat kencang di jalanan. Aggam bahkan memotong semua mobil mau pun motor yang berada di depannya dengan perasaan cemas.