
Ayuna perlahan menghentikan tangisnya. Matanya benar benar bengkak. Karena dari semalam lagi dia terus menangis.
Zahra melonggarkan pelukannya kemudian mengusap Air mata sahabatnya." Sudah. Kita pulang yuk" ajak Zahra
Ayuna perlahan mengangguk. Zahra tersenyum kemudian melihat pada Bima Suami Ayuna.
" Siapa ya" Tanya Zahra penuh selidik pada Bima.
" Aku suaminya" Jawab Bima tersenyum pada Zahra.
"Whatttt!! " Teriak Zahra yang membuat Bima terloncat kaget dengan respon Gadis yang berada di hadapannya.
" Zahra" Tegur Ustadz Sulaiman menajam kan netranya Pada Istrinya yang membuat Bima Kaget.
Zahra Menyengir pada suaminya dengan sisa air mata di wajahnya.
Zahra membisik Ayuna" Apa benar itu suamimu. " Bisik Zahra pada Ayuna. Ayuna mengangguk pelan.
__ADS_1
Zahra Kaget" Bagaimana Bisa. Kapan kau menikah" Bisik Zahra Lagi
" Nanti aku cerita kan. " Jawab Ayuna terdengar Lirih.
Zahra melihat suaminya yang melototinya seolah mengatakan. 'ini bukan waktu yang tepat mempertanyakan hal seperti itu' seperti itu lah kira kira pandangan ustadz Sulaiman pada Istrinya.
Setelah itu Zahra dan juga Suaminya pamit. Zahra tidak mengantar Ayuna Pulang. Karena kan ada suaminya di sana. Fikir Zahra.
,,,,,,,,,,
Di mobil Bima. Ayuna hanya diam menatap keluar jendela. Bima menoleh pada istrinya. Dia bingung ingin memulai pembicaraan dari mana.
" Hantar aku kerumah kontrakan ku saja tuan" Kata Ayuna Melihat sekilas pada Bima.
" Tidak ada yang menemani mu di Sana. Bagaimana jika kita ke Mension Papa Saja" Tanya Bima memelankan Kelajuan Mobilnya.
" Aku mau Pulang ke Rumah kontrakan ku" Kata Ayuna kekeh ingin pulang ke Rumahnya.
__ADS_1
" Baik Lah"Bima tidak punya pilihan lain selain menghantar Ayuna pulang ke rumahnya. Dia tidak ingin terlalu memaksa gadis itu. Bagi Bima Biarkan berjalan dengan semestinya. Dia yakin. Pelan pelan dia pasti bisa membawa Ayuna tinggal bersamanya
,,,,,,,,
Di Villa Aggam terus memeluk tubuh istrinya seperti tidak ingin melepaskan nya.
" Apa kakak tidak bekerja. Sudah hampir pukul sepuluh pagi tapi kakak terus saja memelukku dari tadi. " Tanya Aara pada suaminya yang sudah lengkap dengan baju formalnya tapi masih terus di rumah tidak berangkat juga ke tempat kerja.dia sudah seperti anak kecil yang terus mengikuti ke mana pun ibunya pergi.
" Aku masih kangen" Jawab Aggam seperti anak kecil kemudian menaruh wajahnya di perut istrinya.
" Hai Anak papa.. Apa kau mendengar Papa mu yang tampan ini" Tanya Aggam pada Kandungan Aara yang sudah berusia dua bulan.
" Bukan Hai Papa. Tapi Assalamualaikum" Jawab Aara seperti meniru suara Anak kecil.
Aggam terkikik mendengar sindiran istrinya. " Anak Papa Baik baik ya Di sini Sama Mama. Soalnya Papa Mau ke Jerman sebentar. Itung itung siapa tau bisa cari Mama Baru di sana" Kata Aggam sengaja membuat Aara kesal. Karena memang sudah tiba waktunya untuk dia berangkat ke jerman mengurus kantor cabang di sana. Tapi dia sudah menundanya karena di tidak mungkin membawa Aara jauh jauh dalam keadaan hamil Muda
Aara jadi Kesal dan menjambak Rambut suaminya." Arrggg. Sakit Sayang. Aku kan cuma becanda" Kata Aggam meringis karena Aara menarik Rambutnya dengan keras.
__ADS_1
" Berani Ingin nikah lagi, nanti aku akan menaruh Racun Tikus di makanan mu. Biar KO sekalian" Cemberut Aara.
Aggam tertawa melihat istrinya yang ngambek. Dia menarik Wajah istrinya dan mencium setiap inci Wajah Istrinya dengan gemas.