
Aggam membeku dengan tangan yang terangkat dan jantung yang berdebar debar oleh kelakuan Aara
"Sudah... aku sudah membuang kecoaknya. " Ujar Aggam Berusaha menutupi getaran di dadanya agar Aara tidak mengetahuinya.
Aara tersadar jika dia sedang memeluk tubuh Aggam. Aara buru buru menjauh kan dirinya dari Aggam dengan wajah yang memerah menahan malu karena sudah lancang memeluk Aggam. tapi tentu saja Aggam tidak melihat wajah Aara yang memerah. . karena wajah Aara tertutupi oleh cadar.
" Ma maaf" gugup Aara memalingkan wajahnya dari Aggam. ruang dapur itu tiba tiba berubah jadi canggung.
Aara mau pun Aggam sama sama merasa canggung. meski pun sudah beberapa kali Aggam dan Aara bersentuhan berpelukan seperti itu, tapi ini pertama kali mereka bersentuhan tanpa bertengkar seperti sebelumnya.
Tidak berapa lama Aara sudah siap masak dan mereka makan bersama dengan diam sibuk dengan fikiran mereka masing masing
Setelah itu Aggam melangkah keluar dan duduk di depan kontrakannya melihat orang-orang yang lalu lalang masing masing masih membawa jualan mereka.
__ADS_1
Aku baru tahu jika kehidupan di luar sana itu sangat keras... ternyata tidak mudah untuk mendapat kan sebuah pekerjaan... selama ini aku selalu menghambur hambur kan uang tanpa berfikir ternyata ada banyak orang yang sedang berjuang mati matian hanya untuk mengisi perut mereka yang kosong... dan masih banyak lagi yang kelaparan di luaran sana. Batin Aggam iba melihat beberapa orang yang lalu di hadapannya dengan usia lanjut masih bekerja keras meskipun sudah malam.
Aku masih beruntung karna masih ada Bima yang bisa aku handalkan... tapi bagaimana dengan mereka yang tidak punya siapa pun untuk di handalkan... aku terlalu sibuk dengan dunia ku sendiri tanpa pernah melihat ke bawah. Fikir Aggam tentang sikapnya selama ini yang tidak pernah peduli dengan siapa pun.
Bahkan malam malam seperti ini pun mereka semua masih di sibukkan dengan mencari sesuap nasi...tambah Aggam membatin. melihat mereka masih banyak yang menolak gerobak jualannya.
Tiba-tiba Aara datang dan duduk di dekat Aggam. " Apa Anda memiliki uang..." tanya Aara hati hati.
" Uang mu sudah habis." Aggam balik bertanya pada Aara
"Terus" Tanya Aggam
"Aku sudah gajian, siapa tau anda tidak memiliki uang, anda bisa mengambil uang itu setengah jika anda membutuhkannya" Ujar Aara sedikit terdengar lirih, karena takut Aggam tersinggung.
__ADS_1
Aggam langsung memicingkan netranya pada Aara. "Ck, walau pun aku tidak memiliki pekerjaan, aku juga tidak mungkin ingin di hidupi oleh wanita. yang benar saja" Ketus Aggam kesal pada ucapan Aara.
Kok marah... aku kan niatnya baik...batin Aara. Aara tidak tau jika Aggam memiliki uang dari Bima.
,,,,,,,,
Aggam melihat Aara yang tertidur dengan pulas di ranjang. sedangkan dia duduk seperti orang bodoh di depan kipas tanpa menggunakan baju. Aggam sangat panas dan selama dua Minggu ini seperti itu lah hidupnya harus menderita hanya menggunakan kipas angin.
Bagaimana tidak menderita. Aggam sudah terbiasa hidup berAC Tiba tiba hidup di rumah kecil yang hanya menggunakan kipas angin. apes banget kan jadi Aggam.
Aggam menggeleng. "Bagaimana dia bisa tidur sepulas itu dengan menggunakan cadar dan baju yang menutupi semua tubuhnya. Aneh... " Ujar Aggam pada dirinya sendiri. melihat Aara. Aggam lupa kali ya jika dia sendiri yang melarang istrinya tempoh hari untuk membuka cadar di hadapannya, makanya Aara tidak pernah membuka cadarnya
Selama dua minggu ini mereka memang tidur satu kamar. karena di kontrakan itu hanya memiliki satu kamar saja. Aggam tidur di bawah dekat ranjang Aara dengan menggunakan tilam kecil yang membuat tubuhnya terasa sakit semua jika bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Sebenarnya Aara ingin tidur di bawah tapi Aggam melarangnya, menyuruh Aara yang tidur di ranjang.
Aggam bisa saja tidur di hotel Bima walau berapa lama tidak masalah. hanya saja mana mungkin dia meninggal Aara sendirian di kontrakan. jika terjadi apa apa pada Aara bisa bisa Ayah nya akan menyembelih nya. seperti ayam saja. fikir Aggam mengingat Ayahnya.