GADIS BERCADAR PENGANTIN PENGGANTI TUAN KEJAM

GADIS BERCADAR PENGANTIN PENGGANTI TUAN KEJAM
88


__ADS_3

Aara ikut tersenyum mendengar ucapan Aggam yang mengatai dirinya sendiri kejam.


" Gitu dong, kan manis jika tersenyum, dari pada nangis sudah seperti drama Bollywood saja." Canda Aggam menarik Hidung munggil isrinya.


Aara mengembangkan senyumannya mendengar Candaan Aggam.


Aggam membaringkan tubuhnya dan membawa Aara bersamanya di pelukannya.


" Apa mereka Sering mengganggu mu" Tanya Aggam Pada Istrinya. Aggam berusaha untuk mengajak Aara berbicara dari hati ke hati dengan sebaik mungkin. Di ingin Aara tidak menyembunyikan apa pun darinya.


Aara yang mendengar pertanyaan Aggam yang lembut seperti pertanyaan Ayah pada Anaknya perlahan mengangguk kan kepalanya.

__ADS_1


" Sudah lama mereka sering menindas mu" Tanya Aggam ingin mengetahui banyak tentang istrinya.


" Hem. Kita tidak usah bahas itu lagi kak. Seburuk apa pun kak Fadilah dan tante Difa, mereka tetap anak dan istri dari paman ku.." Kata Aara yang tidak ingin jika Membahas lebih jauh lagi pasal Tantenya juga sepupunya. Bagi Aara yang sudah berlalu biar lah berlalu. Karena tetap tidak akan merubah apa pun. Mereka tetap keluarga nya. Darah yang mengalir dalam tubuh mereka masih sama dengannya.


Aggam akhirnya mengalah. Dia tau seperti apa istrinya itu yang tidak pernah menyimpan dendam dengan siapa pun.


"Baik lah.. Terserah kau saja. Apa Kau tidak ingin kuliah" Tanya Aggam lagi pada Aara.


"Kenapa. Apa kau tidak memiliki impian" Tanya Aggam heran dengan jawapan Aara. Aggam memang berniat untuk melanjut kan study istrinya sampai ke perguruan tinggi jika Aara mau.


" Semasa kecil dulu. Aku ingin menjadi dokter spesialis Obgyn (Obstetri dan Ginekologi) Tapi saat aku berusia sepuluh tahun, ayah dan bunda maut dalam sebuah kecelakaan. Arwah ayah bunda di larikan ke rumah sakit. Biaya yang sangat besar, Paman dimas terpaksa menjual semua perkebunan teh milik Ayah dan paman Dimas. karena biaya rumah sakit yang cukup besar, uang juga sudah habis untuk pengobatan Ayah bunda, paman Dimas terpaksa menjual satu satu Rumah Ayah dan bunda untuk menyambung biaya ruma sakit. Tapi tetap saja mereka pergi... Pergi meninggal kan Aku yang masih berusia sepuluh tahun. Semenjak itu, aku menanam dalam dalam impian ku untuk menjadi seorang dokter. " Lirih Aara menjatuh kan Air matanya mengingat Ayah dan Bundanya yang pergi meninggalkannya di saat dia masih sangat membutuh kan mereka berdua.

__ADS_1


Aggam sangat iba mendengar cerita istrinya. Dia tidak menyangka jika Aara memiliki impian yang sama sepertinya ingin menjadi seorang dokter


Aara buru buru mengusap Air matanya saat sadar jika dia sedang menangis."Apa aku sedang curhat" Kata Aara berusaha tertawa.


" Aku suka mendengar curahan mu... Aku tidak menyangka jika kau sama seperti ku yang bercita cita ingin menjadi seorang dokter." kata Aggam merapi kan anak rambut Aara yang sedikit menutupi wajah cantiknya.


Aara hanya tersenyum menjawab Aggam" Kau bisa melanjut kan studymu jika kau ingin menggapai impian mu, aku tidak keberatan. Aku juga tidak akan menghalangi mu. Aku akan menanggung semua biaya mu sehingga kau mendapat gelar. Aku akan melakukan apa saja asal kan kau senang dan bahagia" kata Aggam memainkan Anak rambut Aara.


Aara terharu mendengar ucapan suaminya. Dia tidak menyangka dan tidak pernah bermimpi untuk bisa menggapai pria yang menjadi incaran para wanita di hadapannya itu.


Aara kembali menggeleng" Tidak Kak. Aku belum terfikir ingin seperti apa ke depannya. Tidur lah. Kakak terlihat sangat lelah hari ini. Apa kakak ingin aku memijat kakak?" tanya Aara tersenyum manis pada Aggam.

__ADS_1


" Kenapa kau terus memanggil ku kakak Aara, aku bukan kakak mu" kata Aggam mencubit lembut pinggang Aara.


__ADS_2