
Langit senja memang selalu menyimpan keindahan yang tidak ada habisnya. Seperti sore ini, dibawah lembayung senja yang cantik dua orang yang teramat berbeda berdiri di tengah perkebunan teh.
Jika yang satu adalah wanita hamil dengan tampilan gadis desa yang polos, maka yang lainnya adalah pria dewasa dengan rahang tegas serta tampilan superior yang mengintimidasi.
Berbeda dengan cerita di film ataupun novel, dimana seharusnya kesan romantis yang mengudara dan meliputi keduanya. Kesan yang terasa saat ini malah diliputi ketegangan dan ketakutan yang mencekik. Aura yang tak lain berasal dari wanita hamil yang cantik tersebut, sedangkan si pria hanya berdiri tegap dan memberikan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Kenapa ekspresimu terlihat seperti baru saja melihat hantu ? apa kau sebegitu terkejutnya bertemu denganku lagi Angel ?"tanya Daniel dingin.
__ADS_1
Si wanita sama sekali tidak menjawab ia masih diliputi ketegangan dan ketakutan hingga tak dapat bereaksi dengan benar. "Ah bodoh sekali aku bertanya hal ini kepadamu, sampai kapanpun kau tidak akan pernah memjawabku bukan ? intinya aku beruntung bisa bertemu denganmu di sini, sekarang mau tidak mau kamu harus ikut denganku karena aku....Daniel Wiratama akan selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan."
Barulah kini Angel menunjukan reaksi yang jelas, ia menggeleng panik dan berbalik memunggungi Daniel, pria yang jelas Angel kenali. Baru saja Angel berlari beberapa meter, Daniel sudah memperhitungkan reaksi Angel segera menyergap dan memukul tengkuk Angel hinga wanita hamil itu jatuh tak sadarkan diri dalam pelukannya.
"Cih..sampai akhirpun kau selalu merepotkanku, lihatlah apa yang akan aku lakukan agar kau mengerti dimama posisimu sebenarnya." gumam Daniel, nada bicaranya memang terdengar seperti seseorang yang terasa kesal tapi hal itu berbeda dengan tatapan hangat yang ia tujukan pada Angel.
Tatapan Daniel kini tertuju pada wajah cantik Angel yang terlihat lebih berisi daripada sebelumnya. Jemari Daniel menyentuh lembutnya rambut Angel yang dikepang dua. Kini tatapannya turun pada perut buncit Angel yang dilindungi daster batik berwarna kuning muda. Tatapan Daniel sulit dibaca, entah apa yang kini ia pikirkan. Tapi bisa dipastikan bahwa kini Daniel sedang menyusun sebuah rencana. Daniel akan memastikan jika rencana nya kali ini harus berjalan sempurna dan semua yang ia inginkan harus ia dapat.
__ADS_1
Angel merasakan berat untuk membuka kelopak matanya dan kepalanya terasa pusing. Begitu Angel membuk matanya, ia melihat langit langit kamar yang kusam tanpa perlu berpikir Angel tau jika dirinya sekarang berada di dalam kamarnya sendiri. Angel meringis saat merasakan tungkuk kepalanya terasa begitu sakit, ia menyentuh bagian yang terasa sakit dan mengedarkan pandangan matanya dan terkejut saat melihat Daniel yang duduk bersilang kaki pada kursi yang berada di dekat jendela kamarnya. Sosok Daniel yang tinggi dan kekar terlihat mendominasi ruangan yang kecil ini.
Hanya dengan diam saja Daniel sudah mengintimidasi orang yang berada disekelilingnya termasuk Angel sendiri.
Angel bergetar ketakutan saat mengingat semua kata kata kasar yang pernah Daniel ucapkan saat Daniel membatalkan kerja magangnya di perusahaan Daniel.
Angel merasa terkejut dan berusaha untuk bangkit dari posisinya yang berbaring di kasur. Sayang, kondisi kandungannya yang sudah berusia 5 bulan dengan perutnya yang besar seperti sedang berusia 7 bulan menyulitkannya untuk duduk tanpa bantuan. Daniel yang melihat usaha Angel mendengkus, tapi dalam hatinya ia tengah menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Daniel merasa dirinya telah gila sebab merasa melihat Angel saat ini sangat menggemaskan.
__ADS_1
Tbc