
"Gadis!." Seru Galang yang berlari tergopoh-gopoh. Gadis segera menutup lowongan pekerjaan yang ada pada layar ponselnya.
"Ada apa?. Kenapa kau berlari?." Tanya Gadis menatap Galang yang sibuk sedang mengatur nafas.
"Ini alamat tempat tinggal kak Jasmin."
Dengan segera Gadis menyambar kertas yang ada di tangan Galang lalu membukanya.
"Apa kau tidak salah?." Gadis terdiam sejenak. Lalu dia kembali buka suara "Sepertinya alamat ini salah satu perumahan elit yang ada di kota ini."
"Kau benar sekali."
"Pasti kau minta bantuan pada orang dalam ya untuk mencari alamat, kak Jasmin?."
"Mau bagaimana lagi, karena sekarang kita tidak mungkin datang ke sana lagi setelah kau sakit dan sekarang kita sedang mempersiapkan untuk ujian."
"Iya, terima kasih banyak Galang."
"Sama-sama, Gadis sayang."
Sayang, bukannya Gadis tidak mengerti. Namun lebih baik dia memilih untuk diam dan membiarkan semua hilang dengan sendirinya. Karena dia tidak mungkin bisa menerima Galang. Kalau pun menolak, rasanya dia tidak tahu balas budi dengan apa yang sudah dilakukan Galang selama ini.
"Ternyata kak Jasmin tinggal di tempat elit atau mungkin dia juga bekerja, sama seperti aku?." Batin Gadis.
"Kapan kita akan ke sana?."
"Mungkin setelah kita ujian."
"Aku siap mengantar."
Gadis hanya mengangguk. Lalu mereka pulang terpisah karena Galang harus menemui kakaknya. Dan Gadis akan langsung ke rumah Nyonya Mireya.
Sementara itu, pria yang hari ini rencananya akan pulang ke Jakarta setelah beberapa Minggu lalu tinggal di kota Batam. Dia menyempatkan diri untuk menikmati minuman dan wanita yang ada di kota tersebut. Meski pun baru kali ini dia bisa bersenang-senang dengan wanita, karena kesibukannya yang sungguh luar biasa.
Wanita yang sudah tanpa busana itu menari meliuk-liukkan tubuh indahnya di depan Tuan Theodor. Menginginkan pria tampan didepannya masuk dalam pusara kenikmatan yang akan diberikannya. Tentunya dengan mengharapkan imbalan yang sangat besar. Sebab dia tahu siapa pria yang bernama Theodor Oliver Diaz Fidal.
"Aku sangat beruntung, Tuan Theodor. Karena aku bisa memuaskan anda." Ucap wanita itu lalu berlalu dengan beberapa gepok uang pecahan 100rb.
Tuan Theodor melirik ponselnya yang terus saja berdering, ternyata Nyonya Mireya yang menghubunginya . Kemudian Tuan Theodor mengaktifkan pengeras suara.
"Halo, Mama."
"Jam berapa kau sampai di rumah?."
"Aku akan langsung pulang ke apartemen."
"Tidak!. Kau harus mampir ke rumah dulu."
__ADS_1
"Tidak, Ma. Ada yang harus aku urus. Jadi aku akan pulang ke apartemen. Besok paginya baru akan ke rumah."
"Baik lah, terserah kau saja."
Tut...Tut..Tut...
Tuan Theodor menatap layar ponsel sambil menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran dengan sang Mama. Namun dia tidak terlalu menghiraukannya. Dia ingin pulang ke apartemen, sangat berharap bisa menemukan makanan kesukaannya sudah berada di atas meja makan setelah dia mengirimkan pesan pada Gadis, tapi belum ada balasan.
Sedangkan Gadis sudah berada di dalam kamar Bibi Dolores sambil menatap kertas yang bertuliskan alamat Jasmin.
"Kapan kau akan menemuinya?." Bibi Dolores duduk di tepian ranjang di sebelah Gadis.
"Aku belum tahu, tapi mungkin setelah ujian ini." Bibi Dolores mengangguk.
"Ayo kita olesi luka lebam itu!."
Gadis menyingkap kaos bagian belakang, hingga beberapa luka lebam itu sudah mulai tersamar kan. Dengan pelan-pelan Bibi Dolores mengolesinya, karena terkadang Gadis masih suka merasa kesakitan.
"Sepuluh tahun terakhir ini, Bibi memang tidak mengenali Tuan Theodor lagi. Sudah ada banyak perubahan besar terjadi pada pria lajang itu. Meski pun Bibi sangat menyayanginya tapi Bibi juga tidak bisa membiarkan dia berbuat sesuka hatinya."
Gadis hanya diam, karena dia memang tidak mengenali sosok asing itu. Karena saat dirinya menggantikan ibunya bekerja di rumah besar ini, hanya ada Tuan Dominic dan Ramona. Sikap dan perilaku Tuan Dominic dan Ramona sangat baik, tidak seperti Tuan Theodor.
Gadis menurunkan kaosnya lagi setelah diolesi oleh Bibi Dolores. "Tidur lah sudah malam, biar Bibi dan yang lainnya menyelesaikan pekerjaan malam ini."
"Terima kasih banyak, Bibi Dolores."
"Iya, Gadis."
Tuan Theodor harus kecewa saat pulang ke apartemen. Jangankan menemukan makanan kesukaannya di atas meja makan, kamar Gadis pun sudah kosong tidak ada orang dan semua pakaiannya. Menyisakan jas mahal miliknya dan dua dress yang menggantung, salah satunya dress yang dia berikan dengan memakai nama Nyonya Mireya.
"Gadis belagu berulah!."
Penuh emosi dia menutup pintu apartemen, rumah sang Mama yang saat ini ingin ditujunya. Sengaja belum makan, eh dia hanya makan angin setelah sampai di sini.
Mengebut, itu sudah pasti dilakukan oleh Tuan Theodor karena jalanan sudah sepi karena sekarang sudah jam empat pagi.
Mobil miliknya sudah terparkir di depan rumah besar milik orang tuanya, dimana sebagian penghuni rumah sudah ada yang bangun dan memulai aktivitasnya.
Langkah kakinya begitu lebar dan ruang makan yang sedang ditujunya.
"Tuan Theodor!." Ketika lengan Gadis di tarik lalu posisi mereka berhadapan.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Tuan....saya, em...itu, saya..."
"Bicara yang benar!." Bentaknya. Bibi Dolores, Tiara dan Bibi Victoria diam di tempat melihat kemarahan Tuan Theodor yang baru mereka melihat.
__ADS_1
"Pagi-pagi buta begini kau membuat keributan di sini!." Tuan Patricio dan Nyonya Mireya datang menghampiri mereka.
"Lepas kan, Gadis!." Nyonya Mireya mendekati Tuan Theodor dengan tatapan yang begitu tajam.
"Dia main pergi dari apartemen tanpa memberitahu ku, Ma!."
"Aku yang menyuruh Gadis untuk keluar dari apartemen. Dia akan kembali bekerja di rumah ini."
"Tapi kenapa, Ma?." Tuan Theodor melepaskan lengan Gadis lalu Gadis bersembunyi di belakang tubuh Nyonya Mireya.
"Kita bicara di ruang kerja, Papa." Tuan Patricio meminta Tuan Theodor untuk berbicara empat mata. Tuan Theodor pun mengikutinya lalu di susul oleh Nyonya Mireya setelah meminta Gadis untuk kembali menyiapkan sarapan untuk mereka pagi ini.
Tuan Theodor duduk bersebelahan dengan Nyonya Mireya dan di depan Tuan Patricio.
"Papa akan mempekerjakan Gadis di perusahan kita, dia akan membantu Dominic."
"Tidak!, aku tidak setuju! Biar kan wanita itu tetap bekerja pada ku di apartemen."
"Cih!. Kau ini!. Bekerja atau kau siksa dan kau lecehkan?."
"Ma..." Sela Tuan Patricio, menengahi keduanya.
"Karena ulah kau, Gadis harus sakit selama satu Minggu. Ada juga luka lebam pada bagian punggung dan pahanya."
Tuan Tuan Theodor menatap wajah Nyonya Mireya lalu berpindah pada Tuan Patricio. "Bagaiman Mama tahu?, Gadis itu mengadu pada kalian?."
"Bisa-bisanya kau masih menyalahkan Gadis, padahal sudah jelas-jelas itu karena kau, Theodor!. Mama sudah melihat CCTV di dalam apartemen!. Ucap Nyonya Mireya begitu geram pada putra sulungnya.
"Ya mana aku tahu kalau sampai ada luka lebam?. Mungkin kalau aku melihat tubuhnya tanpa pakaian, maka aku akan tahu dan mungkin juga bisa mengobatinya."
"Cih!, kau selalu saja tidak mau mengaku salah." Ucap Nyonya Mireya sedikit tinggi.
"Modus saja yang ada dalam otak kotor kau itu!." Lanjut Nyonya Mireya menimpuk lengan putranya dengan buku tebal milik suaminya.
Tuan Patricio menengahi ibu dan anak itu, dia menceritakan kondisi Gadis saat meminta bantuan pada Bibi Dolores. Akhirnya Bibi Dolores meminta Nyonya Mireya untuk menghubungi Dokter karena kondisi Gadis yang tidak bisa bangun. Nyonya Mireya berinisiatif untuk ikut dan melihat keadaan Gadis. Bibi Dolores yang pertama kali menemukan luka-luka lebam itu lalu memberitahukan Nyonya Mireya dan Nyonya Mireya meminta Gadis untuk kembali bekerja di rumah setalah mengetahui kalau Gadis mau berhenti dari pekerjaan ini.
"Mulai besok, Bibi Veronica yang akan bekerja di apartemen."
"Tidak!. Aku tetap mau Gadis yang bekerja di apartemen!."
"Kau itu!."
"Aku tidak mau ada yang lain selain wanita itu yang bekerja di apartemen ku!."
"Lalu wanita yang kau ajak main kuda-kudaan?."
"Hanya satu kali, Ma. Dan itu tidak sampai selesai. Sebab Gadis mengangguk kami."
__ADS_1
"Dasar anak mesum..." Nyonya Mireya memukul kencang lengan putranya lalu berpindah duduk di atas pangkuan Tuan Patricio.
"Sekarang aku yang harus pergi." Tuan Theodor segera balik badan karena kelakuan Mama dan Papa nya yang seperti masih muda saja. Terlebih mereka melakukan di depan matanya. Sedangkan Tuan Patricio dan Nyonya Mireya hanya tersenyum lebar lalu saling berciuman.