
Meeting sudah berakhir satu jam lalu, tapi Tuan Theodor belum mau beranjak dari tempat meeting tersebut. Dia masih sibuk dengan layar laptopnya. Hingga hari sudah mulai petang, tapi belum ada tanda-tanda keduanya akan segera keluar dari tempat itu.
"Ayo, kita pulang!." Ucap Tuan Theodor sambil memasukkan laptop ke dalam tas kerja setelah pukul tujuh malam.
Setelahnya Gadis berjalan di belakang Tuan Theodor. Tapi setelah beberapa langkah, kakinya harus terhenti karena suara dering ponsel miliknya yang berbunyi.
"Kak Erna!." Batin Gadis setelah mengeluarkan ponsel dan melihat layar ponselnya.
"Iya, Kak Erna. Ada apa?."
"Jasmin di paksa pulang dari rumah sakit oleh Paman dan Bibinya, padahal kondisinya belum membaik."
"Sekarang Kak Erna dimana?."
"Aku lagi di toilet supaya bisa menelepon kamu."
"Baik, Kak Erna. Terima kasih banyak. Tolong bantu doa kan aku ya, suoaay aku bisa segera membawa pergi Kaka Jasmin dari tempat itu."
"Iya, Gadis. Semoga kamu cepat mendapatkan uang itu. Sudah dulu ya, Gadis. Aku harus segera ke parkiran."
"Iya, Kak Erna."
Tut...Tut...Tut...
Tanpa pikir panjang lagi, Gadis langsung mengirim pesan pada Galang dan Tuan Dominic dengan isi pesan yang sama. Berharap salah satu dari mereka ada yang mau memberinya pinjaman.
Tuan Theodor yang sudah sampai mobil terpaksa harus kembali ke dalam restauran untuk melihat Gadis. Dan benar saja,Gadis masih terdiam di posisi semula.
"Kita bisa bicarakan semuanya di apartemen. Cepat lah!." Tuan Theodor menarik lengan Gadis hingga mereka masuk ke dalam mobil.
Pikiran Gadis begitu kacau, semuanya terasa sudah buntu. Hatinya begitu sakit, lidahnya terasa kelu, matanya tiba-tiba dipenuhi dengan air mata yang siap menetes. Untuk menyembunyikan air mata itu Gadis memandangi kaca yang ada di sebelahnya. Beberapa kali dia menyeka air matanya.
Sesampainya di dalam apartemen, Gadis meletakkan tas kerja milik Tuan Theodor yang dibawanya dari parkiran VVIP apartemen. Kemudian dia menuju kamar dan berganti pakaian. Dia akan memasak untuk makan malam Tuan Theodor.
"Aku tidak ingin makan, aku hanya ingin bicara dengan kau. Kemari lah!." Ucap Tuan Theodor ketika Gadis sudah membuka kulkas namun segar ditutupnya lagi. Gadis berjalan menuju Tuan Theodor yang duduk di sofa.
"Duduk lah!." Perintahnya pada Gadis yang masih berdiri. Gadis melihat sekeliling, sofa itu hanya satu dan berukuran kecil, lantas dimana dia harus duduk?. Apa di atas lantai yang dilapisi karpet tebal?.
__ADS_1
"Kau tidak sedang berpikir untuk duduk di atas pangkuan ku 'kan, Gadis?."
Dengan cepat Gadis menggeleng. "Saya tidak berani memikirkan itu, Tuan Theodor."
"Lalu kenapa masih belum duduk juga?."
Gadis langsung duduk di atas karpet itu.
Tuan Theodor menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Gadis, kau bisa menarik kursi yang ada di sebelah ku dan bisa kau duduki. Bukan di bawah seperti itu!. Tapi ya sudah, lebih kita kita bicara di dekat kolam renang."
Kali ini Gadis yang menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Tuan Theodor. Lebih baik di sini saja. Tidak apa-apa saya duduk di bawah."
"Mau berdiri sendiri atau aku bantu untuk berdiri?." Secepat kilat Gadis sudah berdiri dan mengekor di belakang Tuan Theodor.
Kini keduanya sudah duduk di kursi yang ada di sana dan menghadap kolam renang.
Hening saat keduanya belum ada yang membuka suaranya. Gadis fokus dengan air kolam yang terlihat begitu sangat tenang, tanpa adanya pergerakan apa pun. Sementara Tuan Theodor sedang merencanakan sesuatu
sebelum mulai bicara pada Gadis.
Gadis menatap Tuan Theodor yang mulai menyalakan rokoknya. Hal baru yang dilihat dari Gadis. Setelah beberapa lama bekerja di sini dan di kantor bersama Tuan Theodor, kali ini dirinya tahu hal itu.
"Iya, Tuan Theodor. Aku membutuhkan uang itu?." Rokok itu sudah mulai dihisapnya kuat.
"Selain Mama dan perusahaan, siapa lagi yang sudah kau datangi?."
Gadis menggeleng lemah sambil menundukkan kepala. "Belum ada, aku belum tahu harus datang pada siapa lagi untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat."
"Benar hanya Mama dan perusahan saja yang baru kau datangi?."
"Iya, hanya baru Nyonya Mireya dan perusahan yang saya datangi. Tapi saya belum mendapatkan pinjaman."
"Kau mau tau harus pada siapa kau datang?."
Gadis menatap Tuan Theodor dengan wajah penuh pengharapan. Berharap dari Tuan Theodor, dia akan tahu pada siapa dia harus datang dan mendapatkan pinjaman.
__ADS_1
"Pada siapa Tuan, saya harus datang?."
Tuan Theodor mematikan rokok yang tinggal hanya setengah, meletakkannya di atas asbak yang ada di atas meja.
"Datang lah pada ku, Gadis!."
Gadis menatap tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tapi dia tidak mungkin juga salah dengar.
"Apa maksud, Tuan Theodor?."
"Aku yakin kau tidak tuli." Tuan Theodor melangkah mendekati Gadis lalu berjongkok di hadapan Gadis.
"Datang lah pada ku, Gadis!. Aku akan memberikan apa pun, membayar berapa pun yang kau minta, asalkan kau bersedia menjadi pemuas ku!."
Deg
Gadis bangkit berdiri sambil mendorong kuat tubuh Tuan Theodor sampai dia terjungkal dan masuk ke dalam kolam renang.
Dia tidak pernah terbayang akan menjual hal berharga dalam hidupnya pada siapa pun. Terkecuali nanti untuk pria yang menjadi suaminya. Walau hanya dengan mahar seperangkat alat shalat saja.
Tuan Theodor mengusap wajahnya kasar tapi dia tidak marah dengan perlakuan Gadis yang menyebabkan dirinya berada di dalam kolam.
"Kalau kau berubah pikiran, datang lah ke kamar ku dengan gaun tidur yang ada di dekat kamar ku!." Teriak Tuan Theodor sebelum Gadis pergi dari sana.
"Kenapa kamu pergi, Gadis?. Bukannya kamu sedang butuh uang itu untuk kakak mu?. Kamu sudah tidak memiliki harga diri lagi setelah kamu mendatangi Nyonya Mireya dan perusahan itu?. Sekarang uang itu datang pada mu dengan mudah, lalu dangan gampang kamu pergi begitu saja." Gadis berhenti dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Aku masih punya harapan pada Galang dan Tuan Dominic." Batin Gadis, lalu dia berlari menuju kamar dan segera melihat posnelnya. Tapi belum ada yang membalasnya walau pun kedua pesan itu sudah terbaca oleh Galang dan Tuan Dominic.
Gadis sudah selesai mandi, dia sedang menunggu balasan dari kedua pria yang sangat diharapkan bantuannya.
Satu jam...dua jam...tiga jam...baik Tuan Dominic dan Galang belum ada yang membalas juga.
Gadis segera merapikan rambut dan memoles sedikit wajahnya, supaya tidak terlihat sangat menyedihkan saat harus menjual sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
Gadis membawa sisir berjalan mendekati ponselnya yang berdering dengan senyum tipis, sangat berharap akan berita baik. Tapi sayang dia harus kecewa dan kecewa, karena pesan itu dari Erna yang mengatakan kalau Jasmin sudah harus melayani pria hidung belang di saat kondisinya sedang tidak sehat.
Gadis meninggalkan ponselnya di atas kasur, dia segera bergegas keluar dan menutup pintu kamarnya bersamaan dengan posnelnya yang berdering.
__ADS_1
Gadis berjalan menuju kamar Tuan Theodor, dia menatap gaun tidur yang begitu cantik namun sangat tidak disukainya. Karena itu akan menjadi saksi saat dia menjual harta yang paling berharga.