
Selesai menyiapkan sarapan, Gadis ikut Bibi Dolores yang akan ke pasar membeli beberapa sayur dan bahan makanan yang sudah habis. Tapi Gadis tidak sampai ikut ke dalam pasar, hanya sampai di perempatan jalan yang menuju kampus.
"Terima kasih banyak, Bibi Dolores."
"Sama-sama, Gadis. Hati-hati."
Gadis hanya mengangguk sambil tersenyum lalu menyalami wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu.
Gadis segera menyeberang jalan ketika lampu merah. Dia menunggu mobil angkutan umum yang biasa melewati kampus.
"Kak Jasmin!." Gadis berlari menghampiri Jasmin yang diturunkan oleh sebuah mobil mewah tidak jauh dari posisinya berdiri.
"Gadis!." Wajah Jasmin begitu berantakan, ada beberapa luka lebam yang berusaha disamarkan oleh make up tebal.
"Aku akan mengantar kak Jasmin ke klinik!." Jasmin menggeleng sambil menepis tangan Gadis. "Jangan mendekati ku, nanti kamu akan terkena masalah." Jasmin menyeret kakinya untuk menjauh dari Gadis. Dia tidak ingin menyeret Gadis dalam kehidupannya yang sudah hancur berantakan.
"Klinik nya dekat dari sini, kak." Gadis meraih tangan Jasmin lalu menyetop angkot yang melintas yang akan membawa mereka tepat di dalam klinik.
"Aku sudah bilang Gadis, jangan pedulikan aku. Nanti kamu akan terkena masalah." Ucap Jasmin sedikit berbisik karena ada beberapa penumpang.
"Iya, nanti kalau kak Jasmin sudah sembuh. Aku tidak akan mempedulikan kak Jasmin lagi."
Jasmin diam, tidak ingin berdebat lagi dengan Gadis. Karena dia juga harus menyiapkan tenaganya. Seluruh tubuhnya terasa ngilu.
"Kiri, Bang!."
Gadis membantu Jasmin turun dari angkot lalu gadis menyerahkan sejumlah uang Abang angkotnya.
"Aku baik-baik saja, jadi tidak perlu ke klinik."
Tanpa mendengarkan penolakan dari Jasmin, Gadis tetap memapah Jasmin untuk tetap memasuki klinik.
Gadis segera mendaftar setelah mendudukkan Jasmin di kursi tunggu. Kini Gadis dan Jasmin sedang menunggu antrian.
"Kamu tidak kuliah?."
"Mungkin tidak, aku sudah mengirimkan pesan pada dosen."
Hening, keduanya terdiam. Tidak terlibat obrolan lagi. Jasmin sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara Gadis mengirimkan pesan balasan pada Bibi Dolores jika dirinya tidak kuliah, melainkan mengantarkan kakaknya berobat ke klinik dekat kampus.
"Kamu marah pada ku?." Tanya Jasmin setelah melihat Gadis memasukkan ponselnya ke dalam tas.
__ADS_1
"Untuk apa aku marah?. Tapi aku hanya ingin tahu saja kenapa kakak ada di sini, bukannya kakak sedang belajar dan bekerja di luar?."
"Apa kamu mau mendengarkan dan menerima alasan aku?."
"Tergantung, apa kakak jujur mengatakan itu atau masih untuk menutupi sesuatu kebenaran lainnya."
"Nona Jasmin..." Panggil perawat sambil membuka pintu ruangan.
"Ayo, Kak Jasmin."
Jasmin diminta untuk memberitahu keluhan yang saat ini sedang dirasakannya dan di minta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh dokter.
Dokter menyimpulkan jika Jasmin demam tinggi setelah dilakukan pengecekan suhu tubuh. Dan tentunya beberapa luka lebam pada beberapa bagian wajah. Kelelahan yang terlalu memforsir pekerjaan. Lalu Gadis berpamitan dan mengucapkan terima kasih sambil menerima satu lembar resep.
Setelah menebus obat, Gadis dan Jasmin duduk di kursi yang ada di sana.
"Kemana aku bisa mengantarkan kak Jasmin pulang?."
"Kamu pulang saja, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih sudah membawa ku ke sini."
"Aku juga ingin tahu dimana kak Jasmin tinggal, supaya aku bisa mengunjungi kak Jasmin."
"Tidak perlu, kamu tidak perlu tahu aku tinggal dimana. Berikan saja nomor ponsel mu, nanti biar aku yang menghubungi mu."
Jasmin terdiam, apa yang bisa dilakukannya untuk menolak Gadis. Kalau sampai dia membawa Gadis masuk ke dalam lingkungannya, yang ada mereka akan menjadikan Gadis target mereka. Karena Gadis memilki apa yang semua pria hidung belang cari.
"Kalau kamu menganggap ku sebagai kakak. Maka dengar kan aku, akan baik-baik saja dan aku akan menjaga diri. Aku tidak ingin merusak hidup dan masa depan mu. Sekarang tolong pesan kan aku taksi saja." Gadis melihat kesungguhan di dalam mata Jasmin. Lalu Gadis menyerahkan nomor ponsel yang sudah dicatatnya pada selembar kertas. "Jangan lupa untuk segera menghubungi ku."
"Iya, pasti aku akan menghubungi mu."
Gadis segera memesan taksi dan membantu Jasmin untuk duduk di depan. "Kak Jasmin hati-hati."
"Kamu juga, hati-hati. Terima kasih banyak, Gadis."Gadis hanya mengangguk sambil tersenyum.
Meski pun berat untuk melepas kakaknya lagi tapi dia tidak ingin memaksakan kehendak. Apalagi kakaknya sudah memperingatinya dengan berulang kali dan sangat serius.
"Semoga kamu baik-baik saja, kak Jasmin." Batin Gadis yang masih menatap mobil yang dinaiki Jasmin dan perlahan mobil itu semakin jauh dan menghilang.
Gadis merogoh tas lalu mengeluarkan ponselnya. "Tuan Theodor" Wajah Gadis seketika berubah kesal. "Ada apa lagi?."
Gadis masih mendiamkan ponselnya berdering samping mati. Tapi detik berikutnya muncul lagi nama Tuan Theodor yang memanggil. Gadis menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan.
__ADS_1
"Iya, Tuan Theodor."
"Sekarang kau ke kantor, alamatnya sudah aku kirim kan."
Tut...Tut...Tut.
Gadis menatap layar ponselnya, membuka pesan yang sudah dikirimkan oleh Tuan Theodor. Ternyata alamat yang dikirimkan jaraknya tidak jauh dari tempatnya berada. Dia segera memesan ojek online untuk bisa segara sampai di sana. Tapi untuk apa ya dirinya diminta datang ke sana?. Pikirnya.
Sampai di tempat yang dituju, terlebih dahulu Gadis mencari toilet, untuk merapikan penampilannya. Setelah di rasa sudah rapi, Gadis keluar dari kamar mandi dan segera menuju lift yang terbuka.
"Gadis..." Sapa Tuan Dominic dari dalam lift yang ditemani oleh wanita yang sangat cantik dengan penampilan yang sangat anggun.
"Iya, Tuan Dominic." Balas Gadis.
"Sedang apa kau di sin." Tanya Tuan Dominic
"Saya di minta untuk datang ke sini oleh Tuan Theodor."
"Baik lah, kau tunggu di sini. Aku akan mengantar Magdalena ke depan." Gadis melihat wanita cantik itu membelit lengan Tuan Dominic dengan begitu akrab. Ya pantas saja orang itu tunangan dari Tuan Dominic.
"Iya, Tuan Dominic."
"Ayo, sayang." Wanita yang bernama Magdalena itu menarik lengan Tuan Dominic, mereka berdua berjalan dengan begitu mesra sampai depan Lobby. Kemudian Magdalena masuk ke dalam mobil. Tapi ada pandangan yang sedikit mengusik hatinya, ketika Magdalena mencium bibir Tuan Dominic dan Tuan Dominic membalasnya dengan mesra.
Gadis segera membuang muka kala Tuan Dominic yang berjalan kearahnya.
"Ada apa Theodor meminta kau ke sini?." Tanyanya setelah masuk ke dalam lift dan hanya ada mereka berdua. Karena Lift ini khusus untuk mereka keluarga Fidal.
"Saya juga kurang tahu, Tuan Dominic."
"Kira-kira ada apa ya?." Tanya Tuan Dominic pada diri sendiri.
"Kau dari kampus atau dari rumah?."
"Em...saya dari tempat lain, Tuan Dominic. Bukan keduanya." Jawabnya jujur.
"Dari ma....."
Ucapan dari Tuan Dominic tidak sampai selesai diucapkannya karena pintu lift yang terbuka.
Ting
__ADS_1
Ketika pintu lift terbuka, Gadis melihat sosok pria yang memintanya datang ke gedung ini.