
Peresmian Yayasan telah berlangsung sekitar satu jam yang lalu. Dari sejak acara di mulai Gadis hanya membantu di bagian dapur saja. Menyiapkan makanan untuk para tamu undangan dan beberapa para donatur yang menyempatkan hadir.
Sementara Erna dan Jasmin membantu di bagian depan. Demi berlangsungnya kelancaran acara. Mereka berdua lebih menempel pada Ibu Airin. Dan Hanin selalu bersama Ibu Yanti, tidak pernah lepas sedikit pun.
"Cantik sekali putri mu, aku baru melihatnya." Sapa salah satu Nyonya besar pendiri Yayasan yang nantinya akan di pimpin langsung oleh Ibu Airin.
"Iya dia memiliki mata dan hidung yang sempurna." Suami dari sang Nyonya ikut menimpali. Ikut memberikan pujian pada apa yang dimiliki Hanin.
"Terima kasih atas pujian anda, Nyonya, Tuan. Memang saya sudah menganggapnya seperti putri saya sendiri."
"Oh maaf ibu panti, aku kira dia putri mu. Tapi sungguh sangat cantik sekali."
Lagi-lagi Tuannya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Siapa nama mu, sayang." Kini Nyonya itu beralih menatap lekat wajah Hanin.
"Perkenalkan diri mu pada Nyonya dan Tuan dengan baik, Nak!." Pinta ibu panti sambil memegangi kedua pundak Hanin.
"Hanin...Hanin Raihana Syahira." Hanin mengulurkan tangan pada Nyonya dan Tuan silih berganti.
"Wah nama yang sangat cantik, secantik wajah mu." Sang Nyonya menerima uluran tangan Hanin. Begitu juga dengan suaminya.
Semakin menatap lekat wajah cantik Hanin dan lebih fokus melihat hidung serta mata Hanin seperti dia sedang mengingat sesuatu.
"Ma..." Panggil wanita muda dengan perut yang besar, karena wanita itu sedang hamil.
"Violetta, bukannya tadi lagi istirahat?."
"Aku bosan Ma di dalam kamar terus, sumpek pikiran aku." Adu nya mengeluh sambil terus memegangi perut.
__ADS_1
Nyonya besar itu kemudian memperkenalkan Violetta sebagai menantunya pada ibu panti dan yang sedari tadi berbicara dan menyapa Hanin serta ibu panti adalah Nyonya Mireya dan tuan Patricio. Mama dari tuan Theodor, nenek dari Hanin. Jika saja mereka tahu anak kecil yang sudah di pujinya habis-habisan adalah salah satu cucunya juga.
"Theodor mana?." Tanya Nyonya Mireya melihat sekelilingnya.
"Lagi menelepon di kamar."
"Darren?"
"Sama, menemani Theodor di dalam kamar."
Perhatian Violetta beralih pada sosok gadis kecil yang mengenakan hijab hitam dengan pakaian serba panjang warna senada.
"Lucu sekali, kamu cantik banget." Violetta saja tidak bisa hanya memandangi wajah cantik Hanin. Hingga dia harus menyampaikan pujiannya untuk Hanin.
"Terima kasih, Nyonya Violetta." Balas Ibu Panti sekalian pamit pada keduanya untuk mengantarkan Hanin ke penginapan yang ada belakang panti.
"Iya cantik sekali, Vi. Mungkin kalau kamu dan Theodor punya anak perempuan akan secantik ini." Balas Nyonya Mireya tidak bisa memalingkan pandangannya dari wajah imut dan lucu tersebut.
"Iya sayang." Nyonya Violetta mengusap punggung Violetta, berusaha menenangkan dan mengembalikan mood nya. Dan Nyonya Mireya sendiri tahu kalau Violetta saat ini pastinya sedang tersinggung.
.
.
.
Acara sudah selesai sekitar pukul sebelas malam. Mereka sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Ada yang menginap di hotel bintang lima sesuai isi dompet mereka. Tapi bagi Jasmin, Erna, Gadis dan Hanin. Penginapan di belakang panti pun sudah lebih dari pada cukup.
Erna dan Jasmin belum tidur, mereka menikmati tubuh yang terasa sangat lelah namun mereka begitu menikmati acara peresmian Yayasan tersebut. Mereka senang bisa terlibat langsung dengan kegiatan ini. Karena Ibu Airin sangat baik terhadap mereka semua.
__ADS_1
"Kau bilang tidak ada perwakilan dari keluarga tuan Theodor. Lalu tadi apa yang kita lihat sebelum pulang, ada Nyonya Mireya dan Violetta serta tuan Patricio, mana Violetta sedang hamil pula." Bisik Erna sambil menengok kearah Gadis dan Hanin yang sudah tertidur.
"Dari daftar yang hadir memang tidak ada dan aku sudah memastikan langsung pada ibu Airin. Tapi ya tidak tahu kalau tiba-tiba mereka hadir. Tapi untungnya mereka tidak melihat kita atau bertemu dengan Gadis dan Hanin."
"Iya, betul. Itu sih poin pentingnya. Jangan sampai ada yang melihat Gadis dan mengenali siapa Hanin."
Sementara itu di hotel bintang lima, di sebuah kamar mewah. Violetta sedang merajuk manja pada Tuan Theodor yang semenjak sampai di Batam, tidak pernah lepas dari yang namanya ponsel.
"Theodor punggung ku terasa sakit!." Violetta mengusap punggungnya yang terasa pegal bercampur sedikit nyeri.
"Kau sendiri yang memaksa datang ke sini dan ini sudah menjadi kesepakatan kita. Kalau kau tidak akan menganggu pekerjaan ku dengan kehamilan itu." Ucap Theodor tanpa berniat melihat wajah istrinya yang memang sedang kesakitan. Tapi tetap seksi dengan balutan lingerie merah maroon.
"Tapi..."
"Aku masih banyak pekerjaan dan aku tidak ingin diganggu." Ucap Theodor membawa laptop dan ponselnya ke luar. Entah mau pergi kemana di tengah malam seperti ini.
Tidak terasa air mata Violetta menetes, lelah yang dia rasakan berada sampai di titik ini bersama Theodor. Lelah lahir batin, namun dia berusaha kuat untuk Darren dan calon bayinya yang sekarang.
Tidak ingin menyesal keputusannya untuk menikah dengan Tuan Theodor. Violetta menutupi tubuhnya dengan pakaian tebal karena cuaca yang cukup dingin di tempat itu. Dia keluar dari kamar hotel untuk mencari udara segar yang mampu menenangkan pikirannya yang begitu kacau.
"Theodor!." Gumam Violetta mendekati tuan Theodor yang ada dibalik tiang.
Violetta berjalan semakin dekat, melihat suaminya sedang menerima telepon dan dia mendengar sedikit apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Kau tidak salah informasi jika Gadis ada di sini?. Secepatnya kau kirim alamat Gadis pada ku. Aku akan menemuinya selagi aku ada di sini juga." Lalu sambungan telepon pun terputus. Namun tuan Theodor masih betah berada di sana tanpa menyadari jika ada Violetta menguping pembicaraannya.
"Gadis, Jadi sampai saat ini kamu masih mencari wanita itu. Di saat aku hamil besar seperti ini pun, hanya wanita itu yang ada di dalam hati mu." Gumam Violetta bertambah lagi beban yang baru diterimanya malam ini.
Violetta kembali berjalan menuju kamar dengan perasan yang semakin hancur.
__ADS_1
Setelah dua hari berada di kota Batam, Ibu Yanti sudah berpamitan pulang pada Gadis, Erna dan Jasmin serta Hanin. Karena ada pekerjaan yang harus segara diurusnya.
Rencananya Gadis dan yang lain akan pulang besok sore. Jadi hari ini mereka masih bisa menikmati kota Batam, padahal mereka tidak pergi kemana-mana hanya berada di penginapan terus.