Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 17 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

"Cepat kau siap-siap!, sepuluh menit lagi kita akan meeting di luar. Kau bawa apa yang sudah aku tuliskan. Aku tunggu di lobby. Jangan terlambat meskipun walau hanya satu detik!." Ucap Tuan Theodor begitu cepat dengan intonasi tinggi setelah Gadis sampai di ruang kerja Tuan Theodor.


Gadis segera mempersiapkan semua keperluan meeting, sesuai dengan apa yang diintruksikan oleh Tuan Theodor.


Gadis langsung keluar ruangan dengan membawa tas dan satu papar bag kecil. Keberuntungan sedang berpihak padanya, ketika pintu lift segera terbuka dan membawa Gadis menuju lobby kantor.


Tuan Theodor melihat wajah Gadis yang biasa saja tanpa make up yang mencolok. Sehingga terkesan pucat dan tidak segar.


Keduanya memasuki mobil yang berhenti di depan mereka.


"Kau ada lipstik?."


"Ada."


"Pakai lah cepat!. Kau seperti mayat hidup."


Gadis hanya mengangguk langsung membuka tas, mengambil lipstik dan kaca berukuran kecil. Mengoleskan lipstik itu pada bibirnya yang sedikit merah alami hingga terlihat sebuah warna yang sangat cantik dan segar untuk di pandang mata. Lalu dia memasukkan kembali kaca dan lipstik ke dalam tas.


Tidak berselang lama, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Bersamaan dengan Romi asisten Tuan Theodor, Tuan Dominic dan beberapa klien yang baru datang juga.


Mereka duduk di kursi yang di telah tersedia, Romi memesan minuman untuk menemani jalannya meeting mereka siang ini.


Rupanya salah, apa yang diminta Tuan Theodor untuk memoles lipstik pada bibir Gadis, karena gadis itu sekarang menjadi pusat perhatian para klian pria yang meeting siang ini, termasuk Tuan Dominic. Namun sudah terlanjur, akhirnya dia membiarkan Gadis dengan bibir seksinya.


Tuan Theodor sudah mulai memimpin jalannya meeting. Tapi rupanya fokus mereka harus terbagi karena posisi duduk Gadis yang tepat berada di sebelah Tuan Theodor. Sehingga Tuan Theodor meminta Gadis untuk duduk di sebelah Mrs. Rosalia, satu-satunya klien wanita yang menghadiri meeting. Baru lah meeting bisa berjalan dengan lancar setelah pergantian posisi Gadis.


Tidak membutuhkan waktu lama meeting siang ini, hanya satu jam sudah selesai. Dan para klien sudah mulai berpamitan pulang. Kini menyisakan mereka berempat, Tuan Theodor, Gadis, Romi dan Tuan Dominic.


"Aku dan Gadis akan langsung pulang. Romi yang akan kembali ke kantor. Kalau kau terserah, mau ke kantor atau langsung pulang juga."


Tuan Dominic melirik Gadis yang sudah bersiap-siap untuk pulang.


"Kau tidak menjenguk, Mama?."


"Mama sehat kan?. Kenapa aku harus menjenguknya?. Katakan saja kau ingin pulang bersama Gadis, iya kan?."


"Iya, seharusnya aku tidak perlu berbasa-basi seperti ini. Karena kau pasti tahu apa yang aku inginkan."


"Kau mau 'kan Gadis pulang bersama ku?."


Gadis hanya diam, dia tidak tahu harus bagaimana?.


"Tapi sayangnya, Gadis akan pulang bersama ku. Lagian untuk apa kau mendekati Gadis, kalau sudah ada Magdalena?."

__ADS_1


"Itu urusan ku, Theodor!."


"Aku tidak ingin berdebat."


Tuan Theodor menarik tangan Gadis dan berjalan menuju parkiran. Mereka segara masuk ke dalam mobil dan Tuan Theodor segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Jalanan sore ini belum terlalu ramai, masih bisa untuk membawa kendaraan dalam kecepatan penuh.


Mobil terhenti kala lampu merah menyala, Gadis memfokuskan matanya pada mobil mewah yang ada didepannya. Lagi-lagi dia mendapati kenyataan yang begitu memilukan. Gadis melihat Jasmin berjalan terseok diantara kendaraan yang berjejer karena lampu merah.


"Kak Jasmin?." Batin Gadis menangis.


"Tolong turun kan saya di sini, Tuan!." Pinta Gadis sambil membuka pintu mobil namun terkunci.


Tuan Theodor menautkan kedua alisnya melihat Gadis yang tiba-tiba menangis.


"Tolong, Tuan Theodor!. Turunkan saya di sini!. Saya mau mengejar kakak saya, kakak saya sedang tidak baik-baik saja."


"Kakak?." Tanya Tuan Theodor keheranan.


"Iya Kak Jasmin."


Saat Gadis hendak keluar setelah pintu bisa di buka namun sayang bersamaan dengan lampu hijau yang menyala. Hingga Gadis harus mengurungkan niatnya. Dia tetap mengedarkan pandangannya ke sana kemari untuk mencari Jasmin yang sudah tidak terlihat dimana pun.


Dengan cepat Gadis mengangguk lalu segera turun dari mobil setelah mobil menepi. Dia berusaha mencari keberadaan kakaknya yang sudah di telan oleh keramaian jalanan sore itu.


"Bagaimana, ada tidak?." Tanya Tuan Theodor ikut turun setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang lebih aman.


Gadis menggeleng sambil menghapus air matanya. Menyembunyikan kesedihan dan kesakitan akan kondisi kakaknya.


Gadis merogoh ponsel lalu menghubungi nomor ponsel Erna, panggilan pertama dan kedua tidak ada jawaban, hingga pada panggilan ketiga batu Erna menjawab panggilan Gadis.


"Jasmin pingsan setelah pulang melayani tamu."


"Iya, aku melihatnya di lampu merah."


"Iya sekarang sudah ada di rumah, tapi lagi tidak sadarkan diri."


"Aku mau ke sana?."


"Jangan!. Jangan ke sini!. Jangan membahayakan diri mu, jangan membuat pengorbanan Jasmin sia-sia."


"Jasmin sudah tidak berharap apa-apa lagi. Melihat mu selamat dan hidup baik saja, dia sudah senang."

__ADS_1


"Tapi aku..."


"Ikuti apa kata-kata Jasmin. Jangan sampai kamu mengecewakannya."


Tut...Tut..Tut...


Gadis menatap sambungan teleponnya yang sudah mati. Apa sangat berbahaya tempat itu?, seperti apa?. Pikir Gadis.


"Sebaiknya kita pulang sekarang." Ajak Tuan Theodor sambil menarik pelan tangan Gadis, membawanya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka.


Hanya kurang dari tiga puluh menit, Tuan Theodor dan Gadis sudah sampai di apartemen. Keduanya masih terdiam, tidak ada yang mau memulai obrolan.


Namun saat langkah kaki Gadis mulai mengarah kearah dapur, Tuan Theodor menarik tangan dan membawanya ke salah satu tempat yang ada di dalam apartemen mewah itu. Gadis tidak bertanya, dia hanya mengikuti tangan yang sudah menariknya.


Berhentilah mereka di depan sebuah kolam renang berukuran sedang yang ada di sana. Airnya begitu bersih dan jernih.


Tuan Theodor melepas sepatu dan kaos kaki, lalu duduk di bibir kolam renang dengan kaki yang menjuntai ke bawah mengenai air. Membasahi sebagian celana kerjanya.


"Kau juga lepas sepatu!." Gadis menurut dan ikut duduk di sebelah Tuan Theodor dengan posisi yang sama persis.


Hening, itu yang terjadi saat ini. Gadis merasakan adanya kesegaran saat air itu menutupi sampai betis, Basah mengenai ujung rok yang dipakainya.


"Apa Tuan Theodor tahu alamat ini?" Gadis menyebutkan dengan jelas alamat lengkap yang sudah dihafalnya.


Tuan Theodor menggeleng, karena dia juga baru pindah ke sini dan belum tahu banyak tempat.


"Memang apa yang kau ketahui tentang tempat itu?."


Kali ini Gadis yang menggeleng, karena dia juga belum tahu apa-apa.


"Apa alamat itu ada hubungannya dengan wanita tadi?."


Gadis mengangguk lemah dengan tatapan jauh menerawang.


"Apa kau pernah mendatangi alamat itu?."


Gadis menggeleng lemah. "Kak Jasmin selalu melarang ku, katanya di sana tempatnya berbahaya. Tapi aku juga tidak tahu berbahayanya karena apa atau seperti apa?. Kak Jasmin tidak pernah memberitahu ku."


"Dimana kalian bertemu dan kau tahu jika dia tidak baik-baik keadaanya?."


Gadis menoleh ke samping, kearah Tuan Theodor yang sedang menatapnya. Kenapa pria itu bersikap baik seperti ini?, jauh berbeda saat berada di kantor.


"Di tempat hiburan itu."

__ADS_1


Tuan Theodor terdiam sejenak, mengamati wajah gadis cantik yang ada di depan matanya. Mata indah yang memancarkan ketenangan, di hiasi bulu mata lentik, hidung mancung, bibir yang seksi, dagu oval, leher jenjang dan ah..."Aku sangat menyukai semuanya." Batin Tuan Theodor.


__ADS_2