Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 47 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Gadis tidak bisa berkata tidak pada keinginan yang sudah ditentukan oleh Nyonya Mireya untuk dirinya. Padahal Gadis sudah menolaknya dengan sangat halus, dengan cara meminta waktu lagi untuk lebih mengenal Marco.


Tapi Nyonya Mireya tidak ingin dibantah seperti yang dilakukan oleh tuan Theodor. Sehingga Nyonya Mireya segera menghubungi keluarga Marco untuk segera meresmikan hubungan mereka Minggu depan. Setidaknya ada sedikit persiapan untuk mereka semua.


Tapi Gadis merasa bersyukur karena Nyonya Mireya tidak menemukan apa pun di dalam kamar tuan Theodor.


Tuan Theodor yang berada di kantor bisa tersenyum lega, karena sudah bergerak beberapa langkah dari Mamanya. Untung saja tuan Theodor meminta Romi untuk mengikuti kegiatan Gadis sampai Romi melihat Nyonya Mireya mendatangi kampus Gadis.


Tuan Theodor segera kembali ke apartemen dan menghapus beberapa CCTV yang memperlihatkan kegiatan panas dirinya dan Gadis atau Gadis yang memasuki kamar miliknya. Karena dia yakin pasti Mamanya akan mengecek CCTV dan isi apartemen.


Tapi dia tidak tahu obrolan apa yang terjadi antara Gadis dan Nyonya Mireya di area dapur. Karena CCTV tidak bisa merekam suaranya karena jarak yang cukup lumayan jauh.


Tuan Theodor segera pulang karena ingin memastikan apa yang mereka bicarakan hingga Gadis diam termenung cukup lama di dapur, setelah kepulangan Nyonya Mireya beberapa menit yang lalu.


Sampai di apartemen, tuan Theodor segera masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Gadis. Gadis yang sedang hanya memakai tang top dan celana panjang, biasa saja mendapati suaminya masuk tanpa permisi.


"Aku sangat merindukan mu." Tuan Theodor membawa tubuh Gadis ke dalam pelukannya. Memeluknya untuk beberapa lama dengan detak jantung keduanya yang berpacu cukup cepat.


"Papa yang meminta ku untuk tidak segera memberitahu Mama. Karena Papa sendiri akan mencoba berbicara pada Mama, meski tidak secara detail." Tangan tuan Theodor memasukan tangannya ke dalam tang top lalu mengelus perut Gadis dengan begitu lembut.


"Apa tuan peduli dengan ketakutan yang saya rasakan?." Tuan Theodor menggeleng di ceruk leher Gadis sambil memberikan kecupan-kecupan singkat.


"Aku lebih takut jika harus kehilangan mu dari pada Mama mengetahui pernikahan kita dan cinta ku pada mu." Ucapnya sambil menurunkan tali tang top sehingga buah dada yang sedari menyembul terlihat dengan sempurna.


Gadis manahan wajah tuan Theodor yang hendak mendarat pada kedua dadanya.


"Saya lebih baik kita berpisah dari pada Nyonya Mireya mengetahui pernikahan kita. Karena saya tidak sanggup melihatnya terluka."

__ADS_1


Tatapan keduanya beradu tajam untuk beberapa saat, hingga detik berikutnya tangan tuan Theodor sudah memegang ujung dada Gadis yang sudah menegang.


"Minggu depan Nyonya Mireya dan keluarga Marco akan meresmikan hubungan kami. Saya tidak bisa menolaknya jadi saya hanya diam sebagai tanda saya menyetujuinya."


"Jadi Mama datang ke sini untuk membicarakan itu?."


"Bagaimana tuan tahu jika Nyonya Mireya?."


"Papa yang memberitahu ku." Jawab Tuan Theodor berbohong.


"Maka dari itu saya ingin mengakhiri pernikahan ini." Ucap Gadis selalu serius dengan ucapannya.


"Aku tidak ingin membahas sesuatu yang tidak akan menemukan kesepakatannya. Namun yang pasti aku tidak akan pernah meninggalkan mu untuk apa pun atau demi apa pun. Dulu pun aku tidak pernah meninggalkan Violetta, itu merupakan keputusannya. Jadi bukan salah ku jika sekarang aku tidak mau kembali padanya meski sudah ada Darren diantara kami." Tuan Theodor sudah tidak bisa menahan gejolak hasratnya yang telah membumbung tinggi karena kemolekan tubuh Gadis.


Bibir itu perlahan menyatu dan saling bermain dengan kemampuan masing-masing. Bibir tuan Theodor begitu lihat dalam memanjakan kepuasan Gadis.


Tuan Theodor menggiring tubuh Gadis ke dekat tempat tidur lalu mendorongnya perlahan hingga mereka sama-sama terjatuh di kasur yang sangat empuk.


Senyum keduanya terlihat sangat bahagia, di tengah rasa khawatir yang selalu dirasakan Gadis, dia masih bisa merasakan sedikit kebahagiaan di dalam lubuk hatinya yang terdalam.


"Besok kita libur. Jadi kita akan bermain sampai pagi. Kamu setuju?." Gadis mengangguk lalu dia menoleh kearah laci. Sepertinya persediaan pil itu tanggal satu atau sudah habis.


"Tunggu dulu, tuan!." Gadis bangkit lalu membuka laci dan benar saja pil penunda kehakiman itu sudah habis.


"Ada apa?." Tanya Tuan Theodor sembari melucuti pakaiannya sendiri hingga full naked.


"Pil penunda kehamilan milik saya habis. Saya harus membelinya dulu." Gadis hendak bangkit dan memakai kembali tang topnya. Tapi tuan Theodor segera menahan tubuh Gadis dangan menawarkan bantuannya untuk membelikan pil tersebut.

__ADS_1


"Biar Romi saja yang membelikannya, Romi masih ada di kantor." Tuan Theodor melepaskan celana panjang yang masih menempel pada tubuh Gadis. Gadis pun tidak menolak dengan apa yang dilakukan tuannya.


"Apa tidak malu jika menyuruh Romi untuk membeli pil itu?." Tanya Gadis merasa malu.


"Tidak, kenapa harus malu?. Bukannya Romi tahu jika kita suami istri dan hal itu sangat wajar sekali." Jelas tuan Theodor. Gadis hanya mengangguk menurutinya.


Tuan Theodor segera mengrimkan contoh kemasan dari pil tersebut pada Rini dan memintanya segera untuk membawanya ke apartemen.


"Aku aku sudah mengirimkan pesan pada Romi." Tuan Theodor memberikan laporan pada Gadis yang sedari tadi menatapnya.


"Jangan sampai salah, tuan." Gadis merasa was-was, takut ada kesalahan jika orang lain membaginya apalagi ini seorang pria yang membelikannya.


"Kamu tenang saja, Romi sangat pintar. Dia tidak akan melakukan kesalahan." Gadis mengangguk mempercayai apa yang dikatakan oleh suaminya.


Mereka berdua hanya saling bercumbu di atas sofa sambil menunggu Romi membawa pesanan Gadis.


Selang satu jam lebih, Romi datang dan hanya sampai di depan pintu. Tuan Theodor yang keluar untuk mengambilnya.


"Ini semua dari Dokter Ketty?." Tanya Tuan Theodor sambil melirik Gadis yang menutup tubuhnya dengan selimut.


"Seperti perintah anda, tuan." Jawab Romi.


"Baik, terima kasih. Kau bisa pulang." Ucap Tuan Theodor lalu menutup pintu setelah kepergian Romi.


"Maaf kan aku, Gadis. Hanya dengan cara ini aku bisa memilki anak dari mu. Meksi pun nantinya kamu akan marah, namun aku yakin kamu pasti bisa menerima kehadiran anak kita." Batin Tuan Theodor sambil menatap lekat butiran pil yang ada ditangannya. Pil penunda kehamilan yang sudah diganti menjadi obat penyubur kandungan supaya Gadis segera hamil.


Tuan Theodor menyerahkan pil tersebut pada tangan Gadis, Gadis menatap lekat pil tersebut, hanya saja ada perbedaan pada kemasannya saja. Namun selebihnya sama semua. Walau sempat ada ragu di dalam hatinya, namun Gadis berusaha mempercayai tuan Theodor.

__ADS_1


__ADS_2