
Gadis sudah berada di dalam mobil, duduk manis di samping tuan Theodor. Dirinya menerima tawaran tuan Theodor setelah perdebatan yang cukup panjang, dibumbui dengan sedikit drama. Tapi pada akhirnya tuan Theodor lah yang memenangkan perdebatan tersebut.
Gadis selalu melihat ke samping, arah kaca jendela. Untuk membuang rasa gugupnya, Gadis selalu menarik nafas lalu membuangnya perlahan sampai berulang kali.
Apa yang dilakukan Gadis tidak luput dari penglihatan tuan Theodor. Sebenarnya yang dilakukan oleh Gadis tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh dirinya. Hanya saja tuan Theodor lebih bisa mengontrolnya.
Baru kali ini Gadis merasakan perjalanan yang cukup lama, dari rumah Nyonya Mireya menuju tempat tinggalnya. Jarak yang biasa di tempuh tidak pernah lebih dari empat puluh menit, kini sudah satu jam lebih tapi masih di jalanan.
Hanya saja memang agak macet jalanan ibu kota pagi ini.
"Kenapa kamu begitu gelisah?." Tanya tuan Theodor saat lampu merah.
"Tidak, siapa yang gelisah?." Gadis menutup rasa gelisah dengan merapikan hijab.
"Oh, mungkin aku yang salah lihat." Sahut tuan Theodor, melirik sekilas kearah Gadis yang ternyata sedang mencuri pandang kearahnya.
Seketika Gadis membuang wajahnya ke samping. Menyesali kebodohannya untuk mencuri pandang.
Tuan Theodor mengulum senyum yang penuh arti, dia bisa melihat kalau Gadis masih memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Lampu merah yang bisanya hanya lima belas detik, ini kenapa menjadi terasa sangat lama?.
"Kamu kenapa lagi?." Tuan Theodor menatap Gadis yang begitu gugup, terus saja menghitung setiap detik waktu yang berjalan.
"Kenapa lama sekali untuk sampai ke rumah?." Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Gadis.
Tuan Theodor mengerutkan dahinya sambil melihat raut wajah Gadis yang begitu kesal dengan perjalanan mereka.
"Sama saja. Gadis." Ucap Tuan Theodor begitu lembut. "Aku mengambil rute yang biasa kamu lewati, waktu tetap berputar dengan semestinya, hitungan detik lampu merah juga tidak ada yang berubah." Lanjut tuan Theodor menjelaskan.
"Atau karena perasaan mu yang sekarang sudah berubah?." Lanjut tuan Theodor lagi dengan mengajukan pertanyaan.
Gadis hanya terdiam, apa salah dengan pertanyaannya?, apa karena dia begitu gugup saat berdekatan dengan pria yang masih berstatus suami orang?, bagaimana kalau Violetta dan Darren mengetahui tuan Theodor mengantar dirinya pulang?.
"Apa benar dugaan ku, sekarang perasaan kamu sudah berubah?." Tanya tuan Theodor ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Gadis.
__ADS_1
"Iya, sekarang sudah banyak berubah. Salah satunya itu. Semuanya sudah tidak ada yang sama lagi." Ucap Gadis tanpa ingin melihat tuan Theodor yang sekarang memasang wajah sendu.
Tuan Theodor semakin kencang mengendarai mobilnya, dan hanya dalam hitungan waktu kurang satu lima belas menit mobilnya sudah berhenti di depan rumah.
"Sekarang kamu turun!, ganti pakaian lalu aku antar lagi ke kampus!" Ucapnya dengan tegas pada Gadis. Tidak ingin mendapatkan bantahan atau penolakan dari wanita yang hijab itu.
Gadis yang tidak bisa menolak pun segara turun dan setengah berlari memasuki rumahnya. Sudah tidak ada orang di rumah itu. Pasti yang lainnya juga sudah berangkat bekerja.
"Ah, Kenapa harus diantarkan juga olah tuan Theodor?." Keluh Gadis pada dirinya sendiri.
Hanya sebentar Gadis berada di dalam rumah, karena dia juga harus mengejar jam pelajaran pertama di kampus. Setelah mengganti pakaian dan merapikan hijabnya, Gadis segera keluar rumah lagi dan tidak lupa mengunci pintunya.
"Saya naik ojek online saja, tuan!." Gadis sedikit membungkukkan tubuhnya dari arah pintu mobil yang sudah di buka.
"Cepat naik!, supaya tidak telat." Ucapnya memaksa.
Dengan wajah cemberut Gadis masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi sebelah tuan Theodor.
"Tuan tidak ke kantor?."
"Aku tidak punya kantor dan pekerjaan. Jadi aku mau mengantar dan menjemput mu." Jawab tuan Theodor santai.
"Ini lah pekerjaan ku sekarang." Ucapnya dengan senyum yang menawan.
Deg
Gadis begitu terhipnotis dengan senyum yang dimiliki tuan Theodor. Jantungnya semakin berdebar kencang melihat wajah itu full senyum setelah sekian tahun. Dengan reflek Gadis memegang dadanya sambil mengatur nafas.
"Kenapa harus senam jantung terus?." Gumam Gadis begitu lirih, dan memang tidak sampai terdengar oleh tuan Theodor.
Tuan Theodor melajukan kendaraannya cukup kencang di jalan yang memang bebas hambatan. Dan mereka pun sampai di depan kampus lima menit jam mata kuliah pertama.
"Cepat lah masuk!."
"Terima kasih, tuan."
__ADS_1
"Hem..." Lagi-lagi tuan Theodor memperhatikan senyum yang memang begitu mempesona hingga Gadis harus segera keluar dari mobil.
.
.
.
Reymond yang sudah beberapa bulan tidak menampakan batang hidungnya, untuk meredam pihak-pihak yang memang sangat terganggu dengan kehadiran diirnya.
Namun sekarang dia sudah lebih siap untuk menemui Gadis yang membuatnya sangat penasaran. Karena kalau Jasmin, dia sudah merasakannya dan bahkan ikut dinikmati oleh teman-temannya.
Gadis, hal berbeda yang ingin dinikmatinya juga. Menutup tubuhnya dengan pakaian serba panjang itu membuat Reymond sangat berantusias untuk melihat dalamnya sebagus dan seindah apa.
Dia sudah bergegas untuk pergi ke kampus Gadis untuk menemuinya atau kalau beruntung dia bisa membawa pulang Gadis ke apartemennya.
Sampai di depan kampus, Reymond memarkirkan mobilnya di tempat yang sangat strategis. Jadi dia tahu kalau Gadis keluar dari kampus.
Lima belas menit, tiga puluh menit, satu jam, memasuki satu jam dua puluh menit. Batu lah Gadis keluar dari kampus sambil memegangi ponsel.
"Oh cantik, apa sekarang kamu bisa menolak pesona seorang Reymond?." Ucapnya dengan penuh kebanggaan.
Gadis yang memang sedang menunggu kedatangan ojek online yang dipesannya. Sangat terkejut dengan kedatangan Reymond yang semakin mendekat kearahnya.
Gadis melihat sekeliling tempatnya berdiri, memang ada banyak orang. Tapi tetap saja Gadis perlu waspada terhadap apa yang akan dilakukan oleh Reymond.
"Hai cantik!. Sekarang kamu tidak bisa meninggalkan ku begitu saja." Ucap Reymond tepat di depan Gadis.
"Untuk apa lagi kau datang ke sini?." Gadis kembali menatap sekelilingnya, orang-orang di sana sudah mulai meninggalkan tempat itu.
"Kamu jangan takut begitu, cantik!. aku tidak akan menyakiti mu. Justru aku akan memberi mu kebahagian yang tidak mungkin kamu dapatkan dari pria lain."
Gadis hendak pergi dari sana setelah tidak ada siapa pun di sana. Namun pergerakannya kalah cepat oleh Reymond. Reymond sudah berdiri di depan Gadis dan hendak memegang tangan Gadis.
"Sekarang, aku akan menghantarkan mu." Gadis semakin berusaha menipis tangan Reymond yang mengincar tangannya.
__ADS_1
"Ayo lah cantik, aku tidak bisa bermain kasar pada mu." Reymknd sudah berhasil memegang tangan Gadis. Dengan Reflek Gadis berteriak meminta tolong.
"Tolong!, tolong!."