Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 72 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Selama dalam perjalanan pulang, Jasmin dan Erna tidak berhenti berdebat. Antara untuk memberitahukan pertemuan mereka dengan Theodor serta perlakuan manis diantara ayah dan anak tersebut.


Mereka sudah sampai di sebuah ruko, dimana Gadis sudah menunggu kedatangan mereka karena ada pesanan lagi yang harus diantarkan. Jadi mereka kembali melanjutkan lagi perjalanannya ke alamat yang berbeda.


"Jadinya bagaimana?." Tanya Erna pada Jasmin lalu menatap Hanin yang tertidur pulas di kursinya.


"Lebih baik jangan dulu. Nanti yang ada kita tidak bisa membawa Hanin kemana pun. Yang kasihan malah Hanin, serba dilarang-larang oleh Gadis. Kau tahu kan sekarang Gadis begitu over protektif pada Hanin?." Sahut Jasmin mengingatkan Erna kembali.


"Baik lah, aku ikut saran kau saja. Demi Hanin." Erna mengelus kening Hanin dengan lembut sehingga Hanin tidak merasa terganggu sedikit pun.


Jasmin dan Erna segera pulang ke rumah setelah selesai mengantarkan beberapa pesanan, karena Gadis sendiri sudah kembali ke rumah setelah menutup ruko.


Gadis menyiapkan beberapa pesanan lagi untuk besok yang dipesan oleh Ibu Panti tapi ke sebuah perusahaan yang baru diketahui Gadis keberadaannya.


Jasmin segera menaruh Hanin yang masih tertidur di dalam kamar Gadis. Gadis kecil itu masih tertidur pulas ketika di taruh di atas kasur empuk.


"Pria yang tadi menggendong mu saat di panti itu adalah Papa mu." Bisik Jasmin di telinga Hanin dan berulang kali menyebutkan nama tuan Theodor.


Jasmin langsung menutup pintu kamar dan ikut bergabung dengan Erna dan Gadis yang sedang menyiapkan bahan.


"Ada pesanan lagi?." Tanya Jasmin duduk di sebelah Erna.


"Ibu panti lagi." Jawab Erna sambil menatap Jasmin.


"Oh ya." Jasmin tidak percaya jika Ibu panti akan terus memesan makanan itu pada Gadis, terlebih setelah Erna memberitahu menu makanan yang dipesan oleh Ibu Panti.


"Suatu kebetulan yang sangat baik." Ucap Jasmin menyikut lengan Erna.


"Iya, tapi pesanan yang untuk besok akan di kirim alamat kantor."


Jasmin dan Erna hanya saling pandang lalu berfokus lagi pada Gadis.


Gadis tidak ikut berkomentar apa pun, dia hanya fokus pada apa yang sedang dikerjakannya saat ini. Tapi sesaat kemudian ikut buka suara.


"Besok siapa yang akan mengantar pesanannya?."


Dengan sangat kompak Erna dan Jasmin memberikan jawaban yang membuat Gadis menghentikan aktivitasnya dan menatap kedua kakaknya itu.


"Kamu saja yang mengantarnya."

__ADS_1


"Tapi kamu harus bawa Hanin juga. Karena besok aku ada urusan." Lanjut Jasmin sambil menatap Erna.


"Iya sama, aku ada urusan di ruko. Jadi tidak apa-apa kan kamu bawa Hanin?."


"Tidak apa-apa, bukannya itu sudah biasa bagi ku juga."


"Iya sih." Jawab keduanya kembali membantu Gadis dengan menyiapkan kotaknya. Karena menyiapkan bahan sudah selesai oleh Gadis.


.


.


.


Gadis memastikan dirinya untuk mengenakan cadar dan memakaikan hijab pada Hanin. Kemudian Gadis menurunkan kotak makanan dari dalam mobil saat sudah memarkirkan mobilnya di halaman depan gedung setelah mendapat izin dari sekuriti yang berjaga.


Gadis menggandeng tangan mungil Hanin sambil menenteng sepuluh box makan siang. Langsung menghampiri resepsionis.


"Permisi, Nona. Saya mau mengantarkan pesanan dari Ibu Panti, Ibu Yanti Hendrawan."


"Baik, Nyonya di tunggu sebentar." Resepsionis segara menghubungi seseorang.


"Mama..." Celoteh Hanin sambil menarik tangan Gadis namun Gadis tidak terlalu menghiraukannya. Berbarengan dengan resepsionis yang meminta Gadis untuk menaruh box makan tersebut di atas meja resepsionis.


"Terima banyak."


"Sama-sama, Nyonya."


"Pa...Pa...Pa..."


Gadis langsung saja menggendong Hanin yang tiba-tiba rewel sambil menunjuk ke belakang. Tapi lagi-lagi Gadis mengabaikannya. Gadis hanya berpikir jika Hanin ingin segera cepat pulang karena sudah waktunya untuk minum susu.


"Pa...Pa..."


Gadis segera melajukan mobilnya, meninggalkan bangunan gedung baru tersebut dalam keadaan Hanin yang masih merengek.


Sementara itu, sedari tuan Theodor mengetahui dari awal kedatangan wanita bercadar dan anak kecil itu hanya melihatnya dari kejauhan ditemani dengan Romi.


"Anak kecil itu yang bertemu dengan ku di Panti Asuhan. Dan wanita itu aku tidak tahu. Kau harus segera menyelidikinya dan mendapatkan apa yang aku mau. Kau tahu harus melakukan apa setelahnya."

__ADS_1


"Baik tuan." Romi segera meninggalkan tuan Theodor yang masih betah berada ditempatnya sekarang.


Entah kenapa, tuan Theodor merasa dia menemukan apa yang sudah lama dibuangnya. Cita rasa dan ciri khas makanan yang dicicipinya di Panti Asuhan membawanya kembali untuk melanjutkan aksi balas dendamnya yang tertunda pada seseorang. Karena sampai sekarang, rasa sakitnya sudah mendarah daging. Sampai dia melihat dengan mata sendiri, jika sampai wanita itu memiiki anak dari pria lain, dia akan semakin membuat wanita itu tidak bisa bernafas.


Tuan Theodor merogoh ponselnya yang bergetar dan memunculkan sebuah nama wanita yang sudah dinikahinya hampir satu tahun. Namun dia kembali memasukan posnelnya tanpa melakukan apa pun.


Lamunannya membawa pada pertemuan pertama dengan wanita yang masih memiliki tempat di hatinya. Namun selalu berhasil ditepisnya.


Gadis sudah sampai di rumah saat Jasmin dan Erna sudah tidak ada di sana.


"Tumben sekali Hanin rewel?." Ucapnya sambil menghangatkan susu yang diambilnya dari freezer. Gadis kembali menatap Hanin yang berbaring dengan penyebut Papa.


Gadis memberikan satu botol susu dan membiarkan Hanin memeganginya. Dia sendiri melanjutkan list untuk belanja bahan makanan yang sudah habis.


"Pa...Pa..." Terdengar lagi dari bibir mungil Hanin memanggil kata yang baru dikuasainya selain kata Mama.


Gadis langsung menoleh ketika mendengar hal itu.


"Maaf kan Mama kalau Mama tidak bisa memperjuangkan mu untuk bertemu dengan Papa."


.


.


.


Setelah pengantaran terakhir ke kantor itu, Gadis tidak pernah lagi mendapatkan orderan apa pun. Semenjak satu bulan yang lalu, baik itu melalui online atau orang-orang datang ke rukonya. Sehingga banyak bahan makanan yang membusuk dengan sendirinya.


"Ini pasti ada sesuatu!. Kau pasti merasa juga 'kan Jasmin?."


"Iya, tidak mungkin selama ini kita mendapatkan pemasukan, tidak ada orderan atau pelanggan sama sekali yang datang ke tempat makan kita. Ini memang pasti ada yang salah."


"Tapi apa?." Gadis menatap kedua kakaknya yang sedang sibuk membuka laman berita di situs internet.


Tidak berselang lama, Erna dan Jasmin saling melempar pandang, dan kembali melihat apa yang terpampang nyata di sana. Memastikan lagi kalau mereka berdua tidak salah menemuka dan membaca isi berita.


"Ini sangat gila!. Aku tidak tahu siapa yang sudah melakukan ini. Kamu baca dan lihat sendiri!." Jasmin memberikan layar laptop pada Gadis yang membuat laman, betapa buruk dan jeleknya reputasi yang dimiliki makanan yang dibuat oleh Gadis.


"Astaghfirullah...siapa yang sudah menyebarkan fitnah keji ini?."

__ADS_1


__ADS_2