Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 73 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

Kejadian tidak ada orderan atau pun pembeli yang datang ke tempat makan milik Gadis, telah berlangsung hampir memasuki bulan kelima. Tidak ada aktivitas apa pun di rumah atau pun di ruko milik Gadis.


Alesandro sudah dalam tahap melakukan penyelidikan secara detail dan menyeluruh setelah mengetahui cerita dari Jasmin dan Erna.


Tapi ini sudah hampir dua Minggu melakukan penyelidikan, tapi belum mendapatkan petunjuk jika kejadian ini hanya sebuah rekayasa. Ini merupakan kejadian nyata yang dialami langsung oleh para pembeli sungguhan, bukan karena ada yang membayar mereka.


"Ada hal baru yang kalian temukan?." Tanya Alesandro saat mengumpulkan anak buahnya di kantor.


"Maaf tuan Alesandro, belum ada apa-apa yang kami dapatkan." Jawab salah satu anak buahnya.


"Kalian sudah memastikan jika ini tidak ada campur tangan Theodor atau pun keluarganya?."


"Iya tuan Alesandro. Kami bisa memastikannya jika ini tidak ada hubungannya dengan tuan Theodor."


Bukan tanpa alasan Alseandro mencurigai Tuan Theodor. Sebab pekerjaan rapi seperti ini hanya bisa dilakukan oleh lawan bisnisnya. Apalagi jika dilihat kalau Gadis yang menjadi sasaran empuknya.


Alseandro kembali berpikir keras sambil meminta Rosario untuk masuk ke dalam ruangannya setelah semua anak buahnya pergi dari sana.


Alesandro meminta bantuan pada Rosario untuk menyelidiki apa yang sedang terjadi pada usaha Gadis. Dengan mencari semua informasi dari terdekat orang tuan Theodor. Sebab dirinya masih yakin jika sebenarnya ini adalah ulah dari tuan Theodor. Syukur-syukur kalau bukan dia pelakunya.


"Untuk mendekati Romi tidak semudah itu, Tuan Alseandro."


"Apa pun cara kau harus mendapatkan informasi sekecil apa pun dari Romi."


Rosario nampak berpikir dengan langkah apa yang harus diambilnya. Tidak mungkin dirinya tidak membantu Gadis. Tapi mendekati Romi juga hal yang sangat mustahil.


"Baik, tuan Alesandro aku akan mengambil pekerjaan ini."


Pekerjaan itu pun akhirnya diambil oleh Rosario untuk membantu Gadis. Setidaknya dia sudah berusaha, namun apa pun nanti hasilnya dia akan menerimanya.


.


.


.

__ADS_1


Hampir dua tahun, Rosario melakoni pekerjaan yang tidak mudah ini. Dan memang dia belum mendapatkan hasil yang diinginkan. Tapi dia masih berusaha untuk mendapatkan informasi yang berharga. Padahal hubungan Romi dan Rosario bisa dibilang sudah sangat dekat.


Selama itu pula. Gadis, Hanin dan kedua kakaknya Jasmin dan Erna pindah ke kota Bandung namun itu juga mereka tidak melakukan apa pun. Benar-benar tidak bisa melakukan apa pun selama dua tahun itu.


Hingga ada sebuah yayasan yang memperkerjakan Jasmin sebagai administrasi keuangan. Yayasan itu baru berdiri lima bulan yang lalu. Meski gajinya tidak besar, tapi cukup untuk dirinya sendiri agar tidak merepotkan Gadis. Dan Erna sendiri menjadi seorang cleaning servis di sebuah hotel mewah, baru memasuki bulan kedua.


Sementara Gadis sendiri, harus bekerja pada restauran milik orang sebagai pengantar makanan. Pekerjaan itu sudah dilakoni Gadis kurang lebih dari delapan bulan. Yang itu pun tidak dibayar mahal karena Gadis akan bekerja jika ada pesanan online saja, tapi itu sangat cukup untuk membayar sekolah Hanin. Dimana saat ini Hanin sudah mulai sekolah taman kanak-kanak.


Gadis berjuang sedemikan rupa untuk dirinya dan juga Hanin. Tidak selalu menerima bantuan dari Alesandro dan Rosario. Karena dirinya sadar sudah terlalu banyak merepotkan pria dan wanita baik itu. Dia harus berjuang untuk anak semata wayangnya. Anak yang saat ini harus dijemputnya dari sekolah.


"Hanin tunggu dulu sebentar ya!. Mama lagi dalam perjalanan menuju ke sini, mau menjemput Hanin." Ibu guru Rahayu menghampiri Hanin dan duduk disebelahnya.


"Iya, Ibu Guru." Balas Hanin mengeluarkan botol minum dari dalam tas lalu meneguk sisa air minumnya.


Hanin di temani Ibu Rahayu menunggu kedatangan Gadis di halaman sekolah.


Sampai saat ini Hanin masih mengenakan hijabnya, sudah menjadi kebiasaan baik yang terbawa sampai sekarang. Hanya saat bersama sang Mama dan kedua tantenya, hijab Hanin terlepas dan memperlihatkan kecantikan Hanin secara utuh.


Hanya menunggu sepuluh menit, Gadis sudah sampai dengan motor matic yang satu tahun lalu baru dimilikinya. Untuk mempermudah ruang geraknya sebagai pengantar makanan dan mengantar jemput sekolah Hanin.


"Wa'alaikumsalam, Ibu Gadis."


"Mama...." Hanin bangkit dan langsung menghampiri Gadis.


"Sayang..." Gadis tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Hanin yang tertutup hijab.


"Ibu Rahayu, terima kasih banyak sudah menjaga dan menemani Hanin di sini. Mohon maaf saya dan Hanin selalu merepotkan."


"Tidak apa-apa, Ibu Gadis. Justru saya senang bisa menemani Hanin. Hanin anak yang sangat aktif." Ibu Rahayu mengusap wajah cantik Hanin yang memang memiliki wajah blasteran. Tapi tidak ada yang mengetahuinya secara pasti.


Gadis segara berpamitan setelah cukup panjang lebar berbicara dengan Gadis mengenai Hanin dan kepintaran yang dimiliki Hanin bila dibandingkan dengan anak seusianya.


Gadis membantu memakaikan helm berukuran kecil pada Hanin. Lalu segera tancap gas setelah mengucapkan salam pada Ibu Rahayu.


Untungnya sampai sore ini, tidak ada pesanan yang harus diantarnya sehingga dia tidak perlu kembali ke restauran tempatnya bekerja. Dan untungnya lagi, jarak rumah dan restauran hanya memerlukan waktu tempuh kurang dari sepuluh menit saja.

__ADS_1


Jasmin dan Erna sampai di rumah dalam waktu yang bersamaan. Mereka langsung memarkirkan motor di garasi.


Jasmin segera masuk menyusul dan keduanya langsung duduk di meja makan tanpa mengganti pakaian atau mandi terlebih dulu.


"Jumat besok kita akan berangkat ke Batam. Karena ada peresmian Yayasan yang akan di pimpin langsung oleh Ibu Airin, dan ternyata Ibu Yanti juga akan hadir di sana." Ucap Jasmin begitu antusias. Mereka bisa jalan-jalan gratis.


"Hanin juga?." Tanya Gadis.


"Hem...Hanin juga." Sahut Jasmin dengan semangat.


"Oo..." Gadis masuk ke dalam kamar guna meletakkan pakaian yang sudah dilipatnya.


Erna duduk merapat kearah tubuh Jasmin lalu berbisik. "Kau sudah pastikan tidak akan ada orang itu di sana."


"Theodor?."


"Hem."


"Aku sudah memastikannya, tidak ada satu pun perwakilan dari keluarga mereka."


"Valid?."


"Yes, makanya aku menerima ajakan ini. Dan ini surat yang sudah dibuat oleh Ibu Airin untuk kau izin kerja selama empat hari." Karena Ibu Airin yang merekomendasikan sahabatnya untuk menerima Erna bekerja di sana.


"Ok."


Obrolan mereka berlanjut sampai selesai dengan acara makan malam.


.


.


.


Sore ini mereka sudah ada di Batam, sudah berada di salah satu penginapan yang ada di dekat yayasan. Ibu Airin dan Ibu Yanti meminta Erna dan Jasmin ikut membatu mereka menyiapkan segala sesuatunya. Sementara Gadis Harus berada di penginapan karena menunggu Hanin yang tertidur.

__ADS_1


Sekitar pukul delapan malam, Erna dan Jasmin kembali ke penginapan. Hanin dan Gadis sudah menunggu mereka untuk makan malam.


__ADS_2