Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver

Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver
Bab 16 Gadis Pemuas Tuan Theodor Oliver


__ADS_3

‌‌


"Sayang..." Sapa Magdalena saat Tuan Dominic keluar mobil lalu mengecup mesra bibir Tuan Dominic di depan banyak orang. Dimana kedua orang tua dari mereka berdiri di halaman rumah, bisa dibilang untuk menyambut kedatangan Tuan Dominic dan Tuan Theodor.


"Sayang..." Balas Tuan Dominic memeluk Magdalena sambil sekilas melirik Gadis yang sudah berjalan ke dapur melalui pintu samping.


"Theodor..."


"Hem."


Mereka semua masuk ke dalam rumah beriringan dan langsung menuju ruang keluarga. Terdengar canda tawa bahagia dari calon pengantin yang sebentar lagi akan menikah. Siapa lagi kalau bukan Magdalena dan Tuan Dominic.


"Kapan kau mau membuka hati dan cara pangan hidup untuk memiliki pasangan?." Tanya Tuan Letto, papa dari Magdalena pada Tuan Theodor.


"Entah lah, aku juga tidak. Aku masih santai menikmati hidup." Jawab Tuan Theodor dengan santai tanpa beban.


"Iya kau santai, tapi aku tidak." Sambar Nyonya Mireya sewot.


"Tenang saja, Ma. Ada Dominic dan Magdalena yang akan segera memberikan Mama cucu. Sama saja bukan?." Tuan Theodor menatap Gadis yang datang membawakan minuman lemon untuk semua anggota keluarga.


Gadis meletakkan satu persatu cangkir yang berisi air lemon tersebut di atas meja.


"Magdalena, kau harus banyak belajar dari Gadis. Meski pun dia orang Indonesia asli tapi dia sangat pintar membuat makanan khas Spanyol. Papa Mama sangat suka masakan Gadis." Puji Tuan Letto.


"Iya Mama setuju dengan Papa." Sahut Nyonya Maria.


Magdalena hanya tersenyum tipis sambil bergelayut manja pada lengan Tuan Dominic menanggapi perkataan kedua orang tuanya.


"Bagaimana kalau Papa jodohkan Gadis dengan Marco. Aku rasa Marco akan sangat menyukainya. Bagaimana menurut kalian?."


Tuan Dominic langsung menegakkan tubuhnya kala mendengar ide yang datang dari tunangannya. Sementara itu Tuan Theodor melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Sementara Gadis sendiri hanya diam mematung di tempat.

__ADS_1


"Bagaimana Gadis, apa kau mau menjadi menantu kami?." Tanya Nyonya Maria dengan serius.


Gadis masih diam sambil mengeratkan pegangannya pada nampan, pertanyaan yang belum terpikirkan oleh dirinya dan belum ada dalam otaknya. Karena saat ini semuanya tentang uang jaminan untuk kakaknya.


Nyonya Mireya menangkap aneh gelagat kedua putranya, namun dia lebih bisa melihat Gadis yang diam belum memberikan jawaban. Dan sepertinya Gadis keberatan namun tidak enak hati untuk menyampaikannya.


"Sudah lah Maria, Letto. Gadis kan masih kuliah. Jadi biar kan dulu dia menyelesaikan pendidikannya. Lagian dia baru bergabung dengan perusahaan kami, jadi Gadis harus banyak belajar. Masih banyak waktu untuk membicarakan masalah ini." Nyonya Mireya memposisikan diri menjadi seseorang dari keluarga Gadis. Pasti ada asalan di balik diamnya Gadis.


"Iya, tapi aku juga serius kalau Gadis mau pada Marco. Aku rasa mereka cocok."


"Benar apa yang dikatakan oleh Mireya, kita masih banyak waktu untuk membicarakan masalah ini. Sekarang lebih baik kita ke meja makan, sepertinya makanannya sudah siap." Tuan Patricio mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Nyonya Maria dan Tuan Letto mengangguk sambil mengikuti Nyonya Mireya dan Tuan Patricio. Termasuk Tuan Dominic, Tuan Theodor, Magdalena dan Gadis.


Setelah selesai makan malam, Tuan Theodor dan Gadis langsung pulang ke apartemen setelah berpamitan dengan Papa Patricio khususnya. Karena besok pagi sudah harus berangkat ke Italia. Dan itu akan diantarkan oleh Tuan Dominic dan Nyonya Mireya serta Nyonya Imelda.


Setelah sampai di tempat yang di tuju, Gadis menutup pintu apartemen setelah dirinya yang terakhir masuk. Dia hendak masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya terhenti karena suara kencang Tuan Theodor.


"Tidak ada lagi makan siang di ruang kerja ku, Gadis!. Kau harus pergi ke kantin sama seperti yang lainya. Kau tidak memiliki hak istimewa apa pun di kantor, hanya saja karena kebaikan papa ku. Kau paham?."


Menunggu untuk beberapa menit, takutnya masih ada yang ingin dikatakan oleh Tuannya. Namun karena tidak ada, Gadis kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Namun sebelum sampai di depan pintu, pinggang Gadis di belit sampai ke perut oleh sebuah tangan kekar yang masih terbalut jas.


"Apa kau begitu senang disukai oleh banyak pria?." Gadis menggeleng sambil tidak berani bergerak, kalau dia berusaha untuk melepaskan diri pun akan sangat sulit. Jadi lebih baik diam untuk menghemat tenaganya. Semoga saja Tuan Theodor tidak berbuat yang lebih.


"Terus apa yang kau miliki sampai mereka suka?."


"Aku tidak tahu."


"Apa karena ini?." Dengan lancang Tuan Theodor kembali meremas bokong Gadis dengan satu tangan.


"Saya minta jangan kurang ajar Tuan Theodor!." Ucap Gadis lantang dengan perasaan mulai takut. Dan benar saja tangan yang tadi membelit itu mulai pindah merayap naik hingga sampai pada salah satu gunung milik Gadis. Hanya menyentuh tanpa meremas atau yang lainnya. "Atau karena ini?."

__ADS_1


"Singkirkan tangan Tuan dari situ!." Ucap Gadis tidak begitu lantang.


"Tolong lepaskan saya!." Mohon Gadis dengan dada yang bergemuruh. Marah, benci, kesal menjadi satu.


"Apa kau tidak menyukai sentuhan ku, sehingga kau terus saja menolak?. Kalau sama pria lain kenapa kau mau?." Gadis menggeleng lemah. Air mata jatuh tepat pada jari jemari Tuan Theodor yang masih bertengger di dada.


"Tolong lepaskan saya!." Pinta lirih sambil menunduk, semakin banyak air mata yang membasahi tangan Tuan Theodor. Perlahan tangan kekar itu mulai melonggar dan melepaskan tubuh Gadis. Dengan cepat Gadis segera masuk dan menutup pintu lalu menguncinya.


Tubuhnya terkulai lemas duduk di atas lantai, dia menangisi keadaannya yang tiba-tiba saja merasa terikat dengan pekerjaan ini. Karena bagaimana pun dia sangat membutuhkan pekerjaan ini demi kakaknya. Sesak di dadanya semakin terasa menghimpit, ketika dia tidak menemukan jalan untuk mengumpulkan uang dalam waktu dekat.


Sementara itu di dalam kamar yang berbeda, Tuan Theodor mengguyur tubuh polosnya di bawah shower. Dia membiarkan air membasahi tubuhnya yang menegang karena bersentuhan dengan gadis. Terlebih tangannya menyentuh salah satu gunung kembar milik Gadis.


Ah, sungguh terasa sangat pas sekali ukurannya.


Tuan Theodor menatap pusaka nya yang semakin tegak menantang, hingga pria dewasa itu tidak memiliki cara lain untuk menidurkannya hanya dengan meninabobokan nya dengan Miss Lux.


Tuan Theodor berjalan keluar setelah merasa puas dan lebih santai. Dia menatap ponselnya yang berdering, wanita panggilan itu yang meneleponnya di tengah malam seperti ini. Tuan Theodor membaringkan tubuhnya, berusaha memejamkan mata dan cukup berhasil karena memang dia sudah merasa lelah dengan hari ini.


Pagi ini, Gadis sudah mulai berkutat dengan pekerjaan yang cukup banyak dari Tuan Theodor karena dianggap sudah harus bisa bekerja. Tidak peduli jika Gadis baru bekerja kemarin.


Gadis berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan kesalahan sedikit pun atas pekerjaannya. Sudah ada tiga pekerjaan yang sampai siang ini sudah selesai dikerjakan oleh Gadis. Kemudian dia meletakkannya di atas meja kerja Tuan Theodor. Gadis sendiri melanjutkan lagi sisa pekerjaannya.


Makan siang kali ini, Gadis makan di kantin bersama Serena dan beberapa teman baru yang lainnya.


"Aku kira kamu tidak akan masuk bekerja lagi, Gadis?." Ucap Serena sambil tertawa cukup kencang. Meremehkan daya juang Gadis yang sedang berusaha tahan banting.


"Iya, aku kira juga begitu." Puput ikut menimpali sambil tersenyum sinis. Sepertinya dia tidak terima jika ada sekretaris yang bertahan di sisi Tuan Theodor. Karena banyak dari mereka yang berharap bisa menjadi sekretaris Tuan Theodor, supaya bisa lebih dekat dengan pria tampan itu.


Gadis hanya tersenyum mendengar perkataan mereka, tidak lama fokusnya pada ponselnya yang bergetar.


"Tuan Theodor." Batin Gadis. Lalu dia menjawab panggilan teleponnya.

__ADS_1


"Iya, Tuan Theodor."


"Cepat ke sini sekarang juga!."


__ADS_2